Follow detikFinance
Rabu 28 Sep 2011, 12:54 WIB

Tak Mau Keras ke Freeport, Menteri ESDM Pakai Azas Kekeluargaan

- detikFinance
Tak Mau Keras ke Freeport, Menteri ESDM Pakai Azas Kekeluargaan
Jakarta - Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh akan pelan-pelan menawarkan renegosiasi kontrak ke Freeport. Sebagai wakil pemerintah pelaksana renegosiasi kontrak pertambangan, ia tak mau keras.

\\\"Kami mengajak semua pihak termasuk Freeport untuk melibatkan rakyat sekitar, berdasarkan azas kekeluargaan. Kalau masyarakat belum mampu, didik dengan standar-standar perusahaan asing,\\\" jelasnya saat ditemui di sela acara HUT Pertambangan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (28\/9\/2011).

Dikatakan Darwin, pemerintah akan tegas mengimplementasikan UU Mineral dan Batubara (Minerba) baru yang menyatakan mulai 2014 tak boleh lagi ada ekspor barang tambang mentah ke luar negeri. Karena itu perusahaan tambang termasuk Freeport harus mengolah dulu barang tambangnya di dalam negeri.

\\\"Kita anggap investor asing sebagai kawan kita karena sudah lama bersama kita,\\\" katanya.

Di tempat yang sama, Dirjen Minerba Thamrin Sihite juga menegaskan soal pelaksanaan UU Minerba tersebut yang bertujuan akan lebih besar peluang kerja di dalam negeri karena memicu perkembangan bisnis pengolahan hasil tambang.

\\\"Ada beberapa pasal yang harus disesuaikan dengan kontrak karya, seperti luas wilayah, royalti, pengelolaan di dalam negeri,\\\" ujarnya.

Untuk tambang ini, pemerintah mengambil perhatian pada soal kewajiban alokasi hasil produksi tambang di dalam negeri atau domestic market obligation (DMO).

Anggota Komisi VII DPR Dito Ganinduto sebelumnya mengatakan, Sejak mulai menambang tembaga dan emas di Papua pada 1967, PT Freeport Indonesia ternyata hanya memberikan bagian royalti sebesar 1%<\/a> kepada pemerintah Indonesia. Sekarang saatnya pemerintah tegas untuk meminta bagian yang lebih besar.

Seperti diketahui, kontrak karya Freeport ditandatangani pada tahun 1967 untuk masa 30 tahun terakhir. Kontrak karya yang diteken pada awal masa pemerintahan Presiden Soeharto itu diberikan kepada Freeport sebagai kontraktor eksklusif tambang Ertsberg di atas wilayah 10 km persegi.

Pada tahun 1989, pemerintah Indonesia kembali mengeluarkan izin eksplorasi tambahan untuk 61.000 hektar. Dan pada tahun 1991, penandatanganan kontrak karya baru dilakukan untuk masa berlaku 30 tahun berikut 2 kali perpanjangan 10 tahun. Ini berarti kontrak karya Freeport baru akan habis pada tahun 2041.

Dalam laporan keuangannya di 2010, Freeport menjual 1,2 miliar pounds tembaga dengan harga rata-rata US$ 3,69 per pound. Kemudian Freeport juga menjual 1,8 juta ounces emas dengan harga rata-rata di 2010 US$ 1.271 per ounce. Di 2011, Freeport menargetkan penjualan 1 miliar pounds tembaga dan 1,3 juta ounces emas.
(dnl/hen)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed