Follow detikFinance
Jumat 28 Feb 2014, 14:40 WIB

Hobi dan Bisnis Video Game (3)

Hebat, Bisnis Game Bisa Beromzet Setengah Miliar

- detikFinance
Hebat, Bisnis Game Bisa Beromzet Setengah Miliar Suasana di toko Central Star Games, Jakarta. (Foto: Dok. pribadi)
Jakarta - Di Indonesia memang belum ada perusahaan penjual video game sekelas GameStop, yang sudah menjelma sebagai perusahaan raksasa multinasional. Namun bukan berarti bisnis video game tidak prospektif. Bisnis ini cukup marak, baik yang memiliki toko fisik maupun berjualan secara online.

Salah satu wirausahawan yang menggeluti penjualan video game adalah Glen, pemilik Game House. Selain membuka toko di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Game House juga memasarkan dagangannya melalui situs gamehouseshop.com.

Di Game House, Anda bisa membeli berbagai konsol mulai dari Playstation 3, Nintendo Wii, Xbox 360, sampai yang portable seperti PSP atau Nintendo DS. Berbagai game baik untuk konsol maupun komputer pun tersedia. Game House juga menyediakan jasa perbaikan jika konsol Anda bermasalah.

Glen, 28 tahun, mendirikan Game House pada 2010. Bisnis ini tidak lepas dari hobinya, yaitu bermain video game. “Saya bermain video game sejak berusia 5 tahun. Konsol pertama saya adalah Nintendo 8 bit,” katanya mengenang.

Berdasarkan hobi tersebut, Glen pun memberanikan diri untuk mendirikan toko video game. Kini, omzet Game House mencapai sekitar Rp 300 juta per bulan.

Saat ini, lanjut Glen, para gamer masih menyukai konsol Playstation 3 dan Xbox 360. Padahal akhir tahun lalu sudah muncul versi terbarunya yaitu Playstation 4 dan Xbox One.

“Masalahnya, PS4 dan Xbox One belum bisa di-jailbreak sehingga harus menggunakan CD game yang original. Harganya masih mahal. Kita belum seperti di negara-negara lain, kita masih memilih yang lebih murah,” kata Glen.

Menurut Glen, PS4 maupun Xbox One baru akan dilirik sekitar 2-3 tahun lagi. Saat itu sistem keamanan di konsol-konsol tersebut mungkin sudah bisa diakali sehingga tidak perlu lagi harus membeli game orisinil.

Selain Game House, toko game lain yang juga recommended di kalangan gamer adalah Central Star Games. Toko yang sudah berdiri sejak tahun 2000 ini berlokasi di daerah Mangga Dua (Jakarta Utara).

Di Central Star Games, Anda bisa memperoleh konsol-konsol terbaru seperti PS4 dan Xbox One. Konsol portable dan aksesoris pun tersedia. Selain mengunjungi toko fisik, game pun bisa berbelanja secara online melalui situs centralstargames.com.

Menurut Jayadi Setiawan, salah seorang staf di Central Star Games, omzet di toko ini mencapai Rp 500 juta per bulan. “Untuk yang online itu sekitar Rp 60 juta. Kalau total bisa sekitar setengah miliar rupiah,” katanya.

Senada dengan Glen, Jayadi pun menyatakan bahwa PS4 dan Xbox One belum terlalu dipilih konsumen. “Sekarang memang belum, tetapi kalau sudah bisa di-jailbreak nanti akan marak,” ujarnya.

Bicara mengenai prospek bisnis toko video game, Glen menegaskan usaha ini tidak pernah mati. “Video game ini kan hiburan, seperti musik. Seperti musik yang tidak pernah mati, video game pun demikian. Ini bukan bisnis musiman, tetapi for a life time,” tegasnya.

Meski berprospek cerah, bisnis toko video game bukan tanpa tantangan. Kehadiran perangkat lain seperti telepon seluler dan komputer tablet bisa menjadi ancaman bagi game yang berbasis konsol atau PC.

“Kami sudah merasakan, pangsa pasar game untuk konsol agak turun pada tahun lalu. Ini karena banyak game di Android dan semacamnya,” kata Jayadi.



Hobi dan Bisnis Video Game (3)







Hebat, Bisnis Game Bisa Beromzet Setengah Miliar







Di Indonesia memang belum ada perusahaan penjual video game sekelas GameStop, yang sudah menjelma sebagai perusahaan raksasa multinasional. Namun bukan berarti bisnis video game tidak prospektif. Bisnis ini cukup marak, baik yang memiliki toko fisik maupun berjualan secara online.







Salah satu wirausahawan yang menggeluti penjualan video game adalah Glen, pemilik Game House. Selain membuka toko di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Game House juga memasarkan dagangannya melalui situs gamehouseshop.com.







Di Game House, Anda bisa membeli berbagai konsol mulai dari Playstation 3, Nintendo Wii, Xbox 360, sampai yang portable seperti PSP atau Nintendo DS. Berbagai game baik untuk konsol maupun komputer pun tersedia. Game House juga menyediakan jasa perbaikan jika konsol Anda bermasalah.







Glen, 28 tahun, mendirikan Game House pada 2010. Bisnis ini tidak lepas dari hobinya, yaitu bermain video game. “Saya bermain video game sejak berusia 5 tahun. Konsol pertama saya adalah Nintendo 8 bit,” katanya mengenang.







Berdasarkan hobi tersebut, Glen pun memberanikan diri untuk mendirikan toko video game. Kini, omset Game House mencapai sekitar Rp 300 juta per bulan.







Saat ini, lanjut Glen, para gamer masih menyukai konsol Playstation 3 dan Xbox 360. Padahal akhir tahun lalu sudah muncul versi terbarunya yaitu Playstation 4 dan Xbox One.







Masalahnya, PS4 dan Xbox One belum bisa di-jailbreak sehingga harus menggunakan CD game yang original. Harganya masih mahal. Kita belum seperti di negara-negara lain, kita masih memilih yang lebih murah,” kata Glen.







Menurut Glen, PS4 maupun Xbox One baru akan dilirik sekitar 2-3 tahun lagi. Saat itu sistem keamanan di konsol-konsol tersebut mungkin sudah bisa diakali sehingga tidak perlu lagi harus membeli game orisinil.







Selain Game House, toko game lain yang juga recommended di kalangan gamer adalah Central Star Games. Toko yang sudah berdiri sejak tahun 2000 ini berlokasi di daerah Mangga Dua (Jakarta Utara).







Di Central Star Games, Anda bisa memperoleh konsol-konsol terbaru seperti PS4 dan Xbox One. Konsol portable dan aksesoris pun tersedia. Selain mengunjungi toko fisik, game pun bisa berbelanja secara online melalui situs centralstargames.com.







Menurut Jayadi Setiawan, salah seorang staf di Central Star Games, omset di toko ini mencapai Rp 500 juta per bulan. “Untuk yang online itu sekitar Rp 60 juta. Kalau total bisa sekitar setengah miliar rupiah,” katanya.







Senada dengan Glen, Jayadi pun menyatakan bahwa PS4 dan Xbox One belum terlalu dipilih konsumen. “Sekarang memang belum, tetapi kalau sudah bisa di-jailbreak nanti akan marak,” ujarnya.







Bicara mengenai prospek bisnis toko video game, Glen menegaskan usaha ini tidak pernah mati. “Video game ini kan entertainment, seperti musik. Seperti musik yang tidak pernah mati, video game pun demikian. Ini bukan bisnis musiman, tetapi for a life time,” tegasnya.







Meski berprospek cerah, bisnis toko video game bukan tanpa tantangan. Kehadiran perangkat lain seperti telepon seluler dan komputer tablet bisa menjadi ancaman bagi game yang berbasis konsol atau PC.







Kami sudah merasakan, pangsa pasar game untuk konsol agak turun pada tahun lalu. Ini karena banyak game di Android dan semacamnya,” kata Jayadi.





(hds/DES)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed