Follow detikFinance
Kamis 13 Mar 2014, 17:53 WIB

Gustav Papanek: Indonesia Terlena Jualan Sumber Daya Alam

- detikFinance
Gustav Papanek: Indonesia Terlena Jualan Sumber Daya Alam
Jakarta - Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alam, namun justru kekayaan alam ini yang membuat Indonesia terlena. Itu yang dikatakan Presiden Boston Institute for Developing Economies Gustav Papanek.

Pria berkebangsaan Amerika Serikat yang saat ini sudah berumur 88 tahun ini menilai, perekonomian Indonesia saat ini bisa tumbuh 6%/tahun, karena adanya commodity boom yang dimulai pada tahun 2005.

"Perekonomian Indonesia bisa tumbuh 6% itu karena ada commodity boom, atau kenaikan-kenaikan harga komoditas itu yang menyebabkan perekonomian di Indonesia bisa tumbuh 6% dari 4%," katanya dalam diskusi Ekonomi di Jakarta (13/3/2014).

Gustav menambahkan, bahwa karena commodity boom, perputaran uang akan terus membaik, permasalahan yang muncul adalah para pengusaha di Indonesia itu tidak mau investasi di sektor manufaktur seperti baju, sepatu dll, mereka maunya investasi yang mudah saja yaitu di tambang.

"Dengan adanya commodity boom, maka harga-harga naik, keuntungan para pengusaha juga naik, masalahnya pengusaha Indonesia hanya mau yang enak saja, dia lebih memilih untuk sektor tambang yang tinggal mengeruk," ujarnya.

Lebih lanjut, Gustav memberikan ilustrasi, saat ini Indonesia terkena dutch disease yaitu penyakit terlena dengan segala sumber daya alam yang kaya, keadaan ini membuat Indonesia tertinggal untuk mengembangkan sektor industri manufaktur.

"Orang Indonesia itu sudah terkena dutch disease yaitu mereka sudah keenakan dengan sumber daya alam yang ada, mau ambil batu bara tinggal di keruk, mau ambil minyak tinggal dibor. Sehingga kita sudah sangat nyaman tanpa harus mengembangkan sektor manufaktur yang ada," tambahnya.

Gustav memberikan ilustrasi, Indonesia sangat potensial untuk dikembangkan industri agro, karena iklim Indonesia sangat mendukung untuk dikembangkan pertanian.

"Salah satu industri manufaktur yang potensial di Indonesia adalah industri manufaktur agro, karena di sana Indonesia memiliki kelebihan dibandingkan dengan negara lain. Untuk sektor pertanian di negara sub tropis jika mengalami musim dingin maka perlu biaya lebih untuk menjaga tanaman pertanian tetap hidup, sementara di Indonesia iklim sudah sangat mendukung untuk melakukan itu," imbuhnya.

Bila Indonesia bisa menggenjot sektor industri manufakturnya, maka bukan tidak mungkin Indonesia bisa mengalahkan China yang saat ini angkatan kerjanya sudah memasuki usia senja.

"China selama bertahun-tahun belakangan berhasil mendominasi pasar industri manufaktur padat karya. Akan tetapi dalam beberapa tahun ke depan Cina tidak lagi kompetitif untuk pasar ini karena angkatan kerja produktif di negara tersebut akan memasuki usia senja dan mereka tidak memiliki angkatan kerja usia produktif baru dalam jumlah besar yang siap masuk tenaga kerja," katanya.

Gustav bahkan menyebutkan, dengan bonus demografi yang dimiliki Indonesia, maka sangat mungkin Indonesia akan pasar merebut sedikit pasar dari China.

"Dengan tenaga kerja usia produktif besar, Indonesia berpeluang mengambilalih sebagian pasar China. Jika dengan kebijakan yang benar Indonesia di tahun 2019 bisa mendapatkan keuntungan ini dengan mengambil 10% dari pasar China," tambahnya.

(dnl/dnl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed