Follow detikFinance
Rabu 27 Aug 2014, 11:14 WIB

Bupati Banyuwangi Minta Jalur Ganda KA Tersambung ke Ujung Timur Jawa

- detikFinance
Bupati Banyuwangi Minta Jalur Ganda KA Tersambung ke Ujung Timur Jawa ilustrasi
Jakarta - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas meminta pemerintah pusat melanjutkan proyek pembangunan jalur ganda Kereta Api/KA (double track) Jakarta-Surabaya, tersambung hingga ke Banyuwangi. Tugas ini ada di tangan pemerintahan baru di bawah Jokowi-JK.

Jalur kereta sepanjang 720 km yang membentang dari Jakarta via Pantai Utara Jawa saat ini masih terhenti di Kota Surabaya, Jawa Timur.

"Pemerintah baru harus melanjutkan jalur ganda kereta api dari Surabaya ke Banyuwangi," kata Anas saat berdialog dengan 7 walikota/bupati se-Jawa dan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono di kereta api wisata Argo Anggrek, Rabu (27/08/2014).

Anas menjelaskan saat ini transportasi jalan raya masih mendominasi di wilayah Kota Banyuwangi. Untuk angkutan penumpang, 85% masih berbasis jalan raya mencakup mobil pribadi, motor, bus. Sedangkan kereta api masih sekitar 6,3%, sisanya transportasi laut dan udara.

Adapun untuk angkutan barang, transportasi berbasis jalan raya juga masih mendominasi hingga 91,24% yaitu distribusi barang berbasis truk, kendaraan niaga lain, sedangkan kereta api hanya 0,63%.

"Double Track Surabaya-Banyuwangi sangat mendesak. Kalau tidak lalu lintas jalan semakin padat," imbuhnya.

Saat ini, jumlah penduduk dari wilayah Sidoarjo ke timur atau yang sering disebut sebagai wilayah Tapal Kuda mencapai 9.006.395 jiwa atau sekitar 24% dari total penduduk Jawa Timur.

Total Produk Domestik Regional Bruto kabupaten/kota yang terletak di Tapal Kuda sebesar Rp 155,32 triliun atau sekitar 16%dari total PDRB Jawa Timur.

Di kawasan timur juga sudah berdiri kawasan industri PIER di Pasuruan dan tak lama lagi dibangun Banyuwangi Wongsorejo Industrial Estate di Banyuwangi.

Saat ini, diperkirakan sekitar 30% teus kontainer yang ada di Jatim tiap tahunnya berasal dari wilayah timur.

Double track nantinya harus menghubungkan dua sentra industri baru di kawasan timur, yaitu kawasan industri PIER di Pasuruan dan Wongsorejo di Banyuwangi.

"Jalur ganda menuju Banyuwangi membantu industri-industri yang ada di wilayah timur Jatim untuk mengirim hasil produksinya melalui pelabuhan yang ada di wilayah timur seperti Pelabuhan Probolinggo atau Pelabuhan Tanjung Wangi Banyuwangi. Hal ini untuk mengurangi beban Pelabuhan Tanjung Perak dan Pelabuhan Gresik yang sudah kewalahan dan menimbulkan ekonomi biaya tinggi," paparnya.

Berdasarkan data, aktivitas muat barang dari Jatim yang akan dikirim ke luar provinsi terpusat di Pelabuhan Tanjung Perak dan Pelabuhan Gresik hingga sekitar Rp 60 triliun per tahun atau 83,68% dari total aktivitas muat di Jatim.

Aktivitas bongkar dari luar provinsi yang masuk ke Jatim juga terpusat melalui Pelabuhan Gresik dan Tanjung Perak Surabaya hingga mencapai senilai Rp 111,76 triliun per tahun atau 82,41% dari total nilai aktivitas bongkar di Jatim. Sisanya baru dibagi ke pelabuhan lain.

Pelabuhan di wilayah timur cukup memadai, seperti Tanjung Wangi yang kedalamannya sudah 14 low water spring (LWS) yang bisa disandari kapal besar.

Anas menjelaskan kehadiran jalur ganda ke wilayah timur bisa melawan tren deindustrialisasi yang kini tengah melanda. Kontribusi sektor industri ke PDRB Jatim memang terus menurun dari level 28% pada 2009 menyusut ke level 26% pada 2013.

"Jalur ganda akan memancing industri baru, terutama yang berbasis agro sesuai potensi di wilayah timur. Ini sekaligus untuk memberi nilai tambah ke sektor pertanian. Jadi jalur ganda akan membangun sektor industri yang dekat dengan sumber bahan bahan bakunya untuk memudahkan mobilisasinya ke Surabaya dan daerah tujuan pasar lainnya," tuturnya.

Optimalisasi jalur KA melalui jalur ganda hingga ke timur Jatim juga dapat mengurangi biaya perbaikan jalan yang selama ini banyak disebabkan oleh faktor kerusakan lantaran muatan yang kerap di atas ambang batas kekuatan jalan. Bagaimana pun, penambahan jalan tidak akan mampu menandingi kecepatan pertumbuhan kendaraan bermotor seiring dengan pertumbuhan ekonomi Jatim.

Jumlah mobil baru di Jatim 2013 sebanyak 127.799 unit, naik 22 persen dibanding 2012. Jumlah motor baru di Jatim 2013 sekitar 1,3 juta unit. Total jumlah kendaraan bermotor di Jatim saat ini diperkirakan 12,5 juta.

Penambahan kendaraan itu tak sebanding dengan pembangunan jalan. Panjang jalan negara, provinsi, kabupaten di Jatim dari tahun ke tahun tidak banyak bertambah, hanya di kisaran 37.971 kilometer.

Data menunjukkan, pada 2012 rasio panjang jalan per jumlah kendaraan di Jatim adalah 3,29 km untuk setiap 1000 kendaraan bermotor, terus menurun dibanding tahun sebelumnya sebesar 3,57 km per 1000 kendaraan bermotor.

"Ini menunjukkan makin banyaknya kendaraan, sehingga beban jalan kian meningkat. Semakin berkurangnya rasio panjang jalan per jumlah kendaraan ini membuat perjalanan tidak nyaman dan rentan pada risiko kecelakaan," jelasnya.

(wij/hen)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed