Follow detikFinance
Minggu 18 Jun 2017, 18:59 WIB

Penyebab Mahalnya Beras RI: Pedagang Ambil Untung Kebanyakan

Muhammad Idris - detikFinance
Penyebab Mahalnya Beras RI: Pedagang Ambil Untung Kebanyakan Foto: rengga sancaya
Jakarta - Food and Agriculture Organization (FAO) merilis harga beras Indonesia lebih tinggi dibandingkan harga beras internasional. Pada tahun 2016 lalu, harga beras dalam negeri berada di level US$ 1 /kilogram (kg), sementara harga beras internasional hanya sekitar US$ 0,4 /kg. Harga tersebut mengacu pada harga eceran rata-rata nasional di Indonesia.

Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, mengatakan mahalnya harga beras Indonesia tak hanya karena mahalnya ongkos produksi padi petani dalam negeri, melainkan juga karena tingginya margin dalam tata niaga beras.

"Mahal berasnya Indonesia juga karena disparitas harga yang tinggi dari produsen atau petani hingga ke konsumen. Margin di tata niaga tinggi. Bahkan disparitasnya ini bisa hampir 100%. Harga beras yang kita beli di pasar harganya Rp 11.000/kg, di petani bisa hanya Rp 6.000/kg," jelas Enny kepada detikFinance, Minggu (18/6/2017).


Diungkapkannya, tata niaga beras yang panjang dan kurang efisien ini jadi kontributor dominan mahalnya harga beras di Indonesia.

Selain itu di sektor hulu, sambungnya, rendahnya produktivitas rata-rata padi nasional juga membuat harga beras di Indonesia tergolong mahal dibandingkan dengan negara ASEAN lain sesama produsen beras.

"Kedua itu produktivitas lahan kita yang rata-rata nasional 5 sekian ton per hektar. Ini bicara rata-rata se-Indonesia, bukan per spot. Di Jawa memang banyak yang produktivitas sampai 10 ton per hektar, tapi kalau rata-rata nasional itu 5 ton per hektar. Negara lain sudah di atas itu," jelas Enny.

Kemudian pengelolaan pasca panen petani padi di Indonesia yang masih sangat tradisional. Penanganan padi pasca dipanen yang masih sangat sederhana, membuat banyak panen padi yang hilang (loss) cukup besar.

"Yang tidak bisa dilupakan itu loss dari pasca panen. Kita kan tahu kalau petani panen jemurnya sederhana, mesin perontoknya seadanya, ini kan mempengaruhi ke jumlah loss padi, kemudian juga ngaruh ke kualitas, dalam hal ini tingkat pecahnya," terang Enny. (idr/mkj)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed