Follow detikFinance
Senin 19 Jun 2017, 15:41 WIB

FAO Sebut Beras RI Mahal, Ini Kata Kementan

Niken Widya Yunita - detikFinance
FAO Sebut Beras RI Mahal, Ini Kata Kementan Foto: iStock
Jakarta - Indonesia Representative Assistant Food and Agriculture Organization (FAO), Ageng Herianto, mengatakan harga beras di Indonesia mahal. Kementerian Pertanian (Kementan) menilai pernyataan itu kurang cermat.

Ageng dinilai tidak cermat membandingkan harga beras di Indonesia dengan harga beras di negara-negara Asia, seperti Thailand, Vietnam, Kamboja, Myanmar, Pakistan, India, dan Srilanka. Di mana harga beras di Indonesia dinilai lebih mahal dibandingkan negara-negara Asia lainnya.

Menurutnya, harga beras di Indonesia berkisar rata-rata US$ 0,79 atau Rp 10.499. Sementara di Kamboja yakni US$ 0,42/kg, Thailand US$0,33/kg, Vietnam US$ 0,31/kg, Myanmar US$ 0,28/kg, Bangladesh US$ 0,46/kg, India US$ 0,48/kg, Pakistan US$ 0,42/kg, dan Sri Lanka US$ 0,50/kg.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Agung Hendriadi, menyebutkan pernyataan tersebut kurang tepat. Karena harga yang dibandingkan tidak disertai dengan kejelasan jenis beras dan kategori pasar sebagai variabel pembanding.

Sebagaimana diketahui bahwa jenis beras sangat bervariasi dimulai dari beras jenis yang termurah sampai dengan beras premium. Begitu juga harga beras sangat bervariasi menurut kategori pasar, antara harga di tingkat produsen, harga di tingkat grosir, dan harga di tingkat eceran.

Ketidakcermatan Ageng dalam membandingkan harga beras karena tidak menyebutkan jenis beras dan kategori pasarnya. Sebaiknya, harus hati-hati dalam membandingkan harga tersebut dan yang lebih penting menggunakan variabel pembanding yang sama. Sebagai contoh, harga beras rerata di Indonesia (termurah-premium) tingkat pengecer dibandingkan dengan harga beras di negara lain dengan basis harga ekspor (export price). Ini jelas tidak tepat untuk dibandingkan dan tidak bisa diambil kesimpulan.

Di Indonesia saja, sesuai dengan SNI no 6128: 2015 terdapat 1 premium dan 3 medium, yang dibedakan atas dasar persentase beras kepala, beras pecah, foreign material dan derajat sosoh. Agung menjelaskan, situasi perberasan di pasar Indonesia. Kenyataannya kelas beras tersebut berkembang lagi menjadi 2 premium dan 2 medium. Sama halnya kondisi tersebut terjadi di negara lain, seperti Thailand, Vietnam, dan India. Oleh karena itu, sangat mustahil membandingkan harga dengan kualitas yang sama pada negara yang berbeda.

"Kelas medium 1 di Indonesia kualitasnya berbeda dengan kelas medium 1 di India," kata Agung dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/6/2017).

Kekurangtepatan pernyataan Ageng juga terkait dengan harga beras di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) (April 2017), di tingkat grosir, harga terendah Rp 7.300/ kg (US$ 0.54/kg) hingga tertinggi Rp 9.325/kg (US$ 0.69/kg).

"Angka ini berbeda jauh di bawah angka yang disebutkan oleh Ageng yaitu rata-rata US$ 0,79 atau Rp 10.499," tegas Agung.

Selanjutnya, Agung menjelaskan, dalam dua tahun terakhir ini Kementan terus berupaya menjalankan dua upaya untuk meningkatkan produksi dan mengendalikan harga. Upaya peningkatan produksi antara lain melalui subsidi pupuk dan benih, bantuan alat dan mesin pertanian serta infrastruktur pertanian yang ditujukan untuk peningkatan produksi, juga untuk menekan biaya produksi. Dengan demikian, harga beras tidak akan memberatkan konsumen.

Dalam upaya mengendalikan harga baik di tingkat produsen maupun tingkat konsumen, pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) beras. HET beras yakni Rp 7.300 per kg untuk kelas medium di tingkat produsen. Sampai dengan saat ini, harga tersebut masih terkendali di tingkat grosir hingga eceran.

Dua upaya tersebut terbukti hingga saat ini pasokan aman hingga 2,2 juta ton dan harga terkendali. Bahkan sesuai HET selama Ramadan hingga Lebaran, dan ini baru pertama kali terjadi di Indonesia.

(nwy/dnl)
fao
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed