Follow detikFinance
Sabtu 19 Aug 2017, 19:16 WIB

Punya Wisata Pantai, Kepulauan Anambas Tak Ingin Tergantung Migas

Michael Agustinus - detikFinance
Punya Wisata Pantai, Kepulauan Anambas Tak Ingin Tergantung Migas Foto: Michael Agustinus
Kepulauan Anambas - Lautan dangkal berwarna hijau dengan aneka terumbu karang, pantai pasir putih, pepohonan kelapa, adalah pemandangan lumrah di Kepulauan Anambas. Ada banyak pulau semacam itu, sebut saja misalnya Pulau Jemaja, Pulau Bawah, Pulau Piugus, Pulau Belibak, dan sebagainya.

Bupati Kepulauan Anambas, Abdul Haris, menjelaskan ada 70 pulau seperti itu di Anambas. Ia bertekad mengembangkan potensi pariwisata pulau-pulau terindah di Asia itu agar perekonomian Anambas tak terus menerus bergantung pada sumber daya alam.

Sekarang pendapatan utama Kepulauan Anambas memang masih perikanan dan migas (minyak dan gas). Ada 3 ladang migas lepas pantai di Kepulauan Anambas, yaitu Natuna Sea Block A, South Natuna Sea Block B, dan Lapangan Kakap.

Produksi minyak South Natuna Sea Block B yang dioperasikan Medco Energi mencapai 19.800 barel per hari (BOPD), terbesar ke-6 di Indonesia. Produksi gasnya yang 40.300 barel setara minyak per hari (BOEPD) juga masuk 10 besar, yakni di rangking ke-5. Natuna Sea Block A yang produksi gasnya setara dengan South Natuna Sea Block B juga salah satu tulang punggung produksi gas nasional.


Tapi cadangan migas tidak terbarukan, tentu suatu saat akan habis, makanya Anambas butuh sumber perekonomian baru.

"Kita berharap ke depan selain dari sumber daya alam, pariwisata adalah penyangga kalau ini (migas) habis. Anambas punya pulau-pulau terindah se-Asia. Kita berupaya menggandeng pihak-pihak swasta, membangun negara ini enggak bisa hanya melalui APBN dan APBD," kata Abdul Haris saat ditemui di Tarempa, Jumat (18/8/2017).

Pulau-pulau terindah di Asia itu misalnya Pulau Bawah, Bobo, Bakau, Sagu Dampar, Penjalin, Ayam, Bandar Riau, Belibak, Piugus, dan masih banyak lagi. Untuk menarik minat investor membangun daerah-daerah tersebut, Abdul menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen mempermudah proses perizinan.

Ia mengatakan, tidak boleh ada pajak, retribusi, dan pungutan-pungutan yang tidak wajar dan memberatkan investor.

"Saya punya komitmen, kita nol pembayaran. Jangan sampai ada permintaan ini itu, biarkan mereka (investor) bangun dulu, operasi dulu. Silakan bangun, yang penting tujuannya positif, tidak melanggar norma dan kerarifan lokal di sini," tegasnya.

Pengembangan sektor pariwisata, ia menambahkan, juga harus melibatkan dan memberdayakan masyarakat. Misalnya dengan mendorong penduduk membuat home stay. "Untuk memberdayakan masyarakat, kita buat home stay, seperti di Pantai Padang Belang," ucapnya.

Pemerintah juga menetapkan desa-desa wisata, misalnya Desa Mampo, agar pengembangan pariwisata terarah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Untuk lokasi-lokasi pariwisata, kita tetapkan desa wisata di beberapa tempat. Misalnya Desa Mampo. Di desa itu ada destinasi, alamnya mendukung, ada kerarifan lokalnya. Di sana juga ada tempat-tempat bersejarah, kita bukukan lalu kita tawarkan. Ini nilai jualnya tinggi," ia menerangkan.

Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara, telah dibangun Bandara Letung di Pulau Jemaja. Bandara ini juga diproyeksikan akan menjadi bandara utama Kabupaten Anambas, menggantikan Bandara Matak yang aslinya memang untuk kegiatan usaha hulu migas.

"Sekarang kita lagi berpacu untuk pembangunan Bandara Letung di Pulau Jemaja. Tujuannya untuk target pariwisata. Jemaja itu konsepnya untuk pariwisata, Pulau Siantan untuk pusat pemerintahan, Pulau Palmatak itu untuk industri. Makanya bandara di Jemaja, alamnya juga memungkinkan," kata Abdul.

Ia optimistis Bandara Letung akan ramai. Saat ini saja setiap 2 hari ada pesawat charter dari Batam yang mendarat untuk membawa wisatawan ke Pulau Bawah. Runway Bandara Letung secara bertahap diperpanjang hingga 2.600 meter agar pesawat sejenis ATR 72 bisa mendarat.

"Sekarang pesawat charter yang muat belasan orang ke Pulau Bawah itu seminggu 3-4 kali. Nantinya bakal ramai," ujarnya.

Jika sudah ada penerbangan komersial, pasti lebih ramai lagi. Sekarang baru ada penerbangan perintis seminggu sekali saja dari Tanjung Pinang ke Pulau Jemaja. Tiket penerbangan perintis selalu habis terjual, bahkan waiting list, artinya pangsa pasarnya masih besar. (mca/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed