Follow detikFinance
Jumat 13 Oct 2017, 19:01 WIB

Daya Beli Orang RI Diprediksi Menguat di 2018, Ini Analisisnya

Danang Sugianto - detikFinance
Daya Beli Orang RI Diprediksi Menguat di 2018, Ini Analisisnya Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Jakarta - Masalah daya beli lemah mewarnai menjadi perbincangan hangat hingga menjelang akhir 2017. Lantas, apakah masalah daya beli lemah akan berlanjut di 2018?

Menurut Head of Intermediary Business Schroders Indonesia, Teddy Oetomo, biasanya daya beli akan menguat selama satu tahun jelang tahun politik alias pemilu. Seperti diketahui 2019 adalah tahun politik karena ada pilpres dan pemilihan legislatif.

Selain itu, di 2018 nanti sejumlah daerah menggelar pilkada. Contohnya Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

"Kalau ada kampanye, uangnya yang berputar cukup besar. Menurut data perekonomian juga terpusat di 3 region itu, totalnya 36%. Lalu 40% populasi Indonesia juga ada di 3 wilayah itu. Jadi konsumsi rumah tangga akan naik tahun depan," tutur Teddy di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (13/10/2017).

Selain itu, kata Teddy, biasanya satu tahun sebelum musim politik belanja pemerintah juga akan meningkat dari biasanya. Apalagi pemerintah saat ini masih menggenjot proyek-proyek strategis infrastruktur.

"Berdasarkan data satu tahun sebelum musim pemilu seperti 2013, 2008, 2003 naik. Karena ya biasa, sebelum keluar, pemerintah keluarkan duit bangun ini itu, berharap bisa terpilih lagi," tambahnya.

Menurut data Schroders pertumbuhan daya beli masyarakat pada 2003, 2008 dan 2013 rata-rata mencapai 5,5%. Lalu untuk pertumbuhan belanja pemerintah juga meningkat pada 2003 sebesar 12,5%, 2008 sebesar 17,5% dan 2013 sebesar 5%.

Namun pertumbuhan ekonomi di satu tahun sebelum pemilu cenderun menurun, seperti pada 2008 yang hanya tumbuh 6,1% lebih rendah dari tahun sebelumnya 6,3%. Begitu juga pada 2013 yang tumbuh 5,72% lebih rendah dibanding 2012 sebesar 6,23%.

Tapi, kata Teddy, faktor faktor pemicunya adalah penurunan nilai ekspor. BPS mencatat nilai ekspor pada Desember 2008 minus 9,57%. Sementara pada Desember 2013 meningkat 6,56%, namun pada awal 2013 sempat minus.

"Kalau ekspor biasanya justu menguat setelah pemilu. Kalau daya beli dan belanja pemerintah turun setelah pemilu," tukasnya.

Schroders memprediksi pertumbuhan ekonomi 2018 sama dengan prediksi Bank Indonesia (BI) dalam rentang 5,1-5,5%. "Kami memprediksi sama dengan BI," tambahnya.

Untuk tahun depan, menurut Teddy, pihaknya itu akan fokus berinvestasi pada instrumen pasar modal (equity). Sebab instrumen pasar modal searah dengan pertumbuhan ekonomi.

"Kita selalu berusaha lebih baik dari indeks. Kalau ekonomi membaik itu equity lebih baik dari bond (obligasi). Kalau ekonomi turun sebaliknya. Karena tahun depan kami yakin membaik maka kemungkinan equity akan lebih baik dari bond," tandasnya. (hns/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed