Follow detikFinance
Senin 23 Oct 2017, 18:35 WIB

Kisah Bisnis Yusuf Mansur, dari Jualan Baju Hingga Perusahaan Investasi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kisah Bisnis Yusuf Mansur, dari Jualan Baju Hingga Perusahaan Investasi Foto: Tripa Ramadhan
Jakarta - Selain Ustaz, Yusuf Mansur juga dikenal sebagai pebisnis. Sebut saja, mulai dari investasi patungan di koperasi merah putih dan uang elektronik. Namun tak semuanya berjalan mulus, Yusuf sempat tersandung masalah perizinan hingga diadukan ke Kepolisian.

Yusuf menceritakan awal ketika ia mulai menapaki dunia bisnis saat masih duduk di bangku sekolah. "Orang tua kami memang mendidik anaknya untuk berbisnis, waktu itu saya bilang ke nenek ingin jajan, terus nenek bilang jual kerupuk Bangka dulu sana. Lalu setelah kerupuk mulai jual layangan sampai gundu," kata Yusuf kepada detikFinance, Senin (23/10/2017).

Yusuf juga pernah membantu kakaknya menjual pakaian di Pasar Tanah Abang. Berbeda dengan orang kebanyakan, Yusuf saat itu membawa pakaian tersebut pulang ke rumah dan meminta doa orang tua sebelum memulai berjualan.

[Gambas:Video 20detik]

Dia menjelaskan, dalam berbisnis harus memanfaatkan peluang yang ada. Termasuk ketika melaksanakan ibadah haji. "Banyak yang bilang, lagi haji sih dagang. Tapi ya tidak apa-apa kan kita di sana ketemu banyak orang, peluangnya besar. Yang penting tidak ganggu suasana ibadah dan nggak korupsi," jelas dia.

Sekarang bisnis Yusuf terus meluas, yang paling baru dan menuai kontroversi adalah, PayTren. Layanan isi ulangnya dihentikan sementara oleh Bank Indonesia (BI) pada September 2017 lalu.

Kisah Bisnis Yusuf Mansur, dari Jualan Baju Hingga Perusahaan Investasi.Kisah Bisnis Yusuf Mansur, dari Jualan Baju Hingga Perusahaan Investasi. Foto: Tripa Ramadhan


BI menilai, PayTren sudah memiliki floating fund atau dana beredar di atas Rp 1 miliar, sehingga perusahaan harus mengajukan izin. Dia menjelaskan, tak hanya layanan uang elektronik untuk pembayaran ritel, Yusuf memimpikan PayTren bisa menjadi alat pembayaran di jalan tol.

Saat ini pihaknya tengah mengurus kelengkapan izin agar layanan PayTren bisa kembali normal dan dinikmati para penggunanya lagi. Langkah ini juga ditempuh sebagai pembuktian bahwa PayTren adalah layanan yang legal dan taat terhadap aturan.

Koperasi patungan juga dinilai bermasalah, pasalnya banyak nasabah yang menganggap Yusuf sebagai penipu. Padahal hotel Siti hasil investasi koperasi merah-putih sudah berdiri 2 tower dengan 285 kamar. Yusuf menjelaskan, dari investasi tersebut dia akan menjelaskan kepada nasabah terkait skema investasi yang dijalankan.

"Umat kan butuh kejelasan dan tanggung jawab, kalau ini penipuan tapi hotelnya sudah ada, memang diakui belum menghasilkan. Perjalanannya luar biasa, saat mau lari kita disetop. Padahal kita masih butuh Rp 80 miliar untuk menyelesaikan, tapi ya saya tidak boleh ambil lagi, kalau disetop yaudah selesai," ujarnya.


Yusuf menjelaskan, bahwa hotel Siti memiliki tingkat okupansi yang rendah. Padahal dia telah melancarkan strategi pemasaran di sejumlah aplikasi atau situs pemesan hotel. Namun, konsep syariah yang diusung dianggap menjadi penyebab sepinya hotel tersebut. "Pasar hotel syariah di sini belum ada, orang muslim sini kan suka gitu, keren dikit mereka nggak mau masuk hotel syariah. Makanya kami belum bisa hadirkan keuntungan," kata dia.

Dia mengungkapkan, jika dari sisi nilai bangunan 2013-2017 maka hotel Siti sudah bisa mendapatkan keuntungan. Yusuf akan menggelar roadshow untuk menjelaskan dan meminta pendapat bagaimana jika hotel tersebut dijual. "Duit kalau diinvestasikan di properti bisa mendapatkan keuntungan, yang penting tidak ada miss management, tanah kosong aja naik pembangunannya," ujar dia.

Koperasi Merah Putih dulunya bernama Koperasi berjamaah. Saat ini total anggotanya sudah mencapai 2.900 orang. Namun, ada sekitar 400 anggota yang sulit untuk diajak berkomunikasi.

Mengenai konsep bisnis koperasi ini, Yusuf Mansur berencana roadshow ke 8 kota di Indonesia guna membeberkan konsep bisnisnya kepada para investor yang sudah menempatkan dananya di Koperasi Merah Putih.

Roadshow ini juga dimaksudkan untuk memberikan klarifikasi atas banyaknya laporan penipuan yang ditujukan pada Yusuf Mansur lewat produk Koperasi Merah Putih Tersebut. "Kita akan jelaskan di roadshow yang digelar di 8 kota, mulai 6-13 November. Kami datang satu tim penuh dari Koperasi Merah Putih," ujar Yusuf.


Dia menjelaskan, saat ini juga sedang menunggu izin dari Otoritas Jasa Keuangan terkait PayTren Aset Management (PAM). Perusahaan ini akan mengakomodir investasi berkonsep syariah. Menurut dia, OJK mendorong dia untuk membuat manager investasi syariah secara penuh. Saat ini yang sedang diajukan adalah produk reksa dana pasar saham syariah dan pasar uang syariah.

"Dulu kan sempat buat koperasi merah putih, tapi kan nggak seksi ya koperasi agak-agak miring, kemudian OJK minta manager investasi syariah, full divisi syariah, kami sudah ajukan tinggal di OJK nya saja," ujarnya.

(mkj/mkj)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed