Follow detikFinance
Sabtu 20 Jan 2018, 17:00 WIB

Pemerintah AS Tutup, Seberapa Besar Dampaknya ke RI?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Pemerintah AS Tutup, Seberapa Besar Dampaknya ke RI? Foto: REUTERS/Yuri Gripas
Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan untuk menutup atau 'shutdown' sementara, ini dilakukan karena tidak mencapai kesepakatan pada anggaran. Bukan baru pertama kali, AS sebelumnya pernah 18 kali melakukan aksi 'shutdown' ini.

Kira-kira adakah pengaruhnya ke Indonesia?

Peneliti INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan penghentian sementara ini dilakukan akibat Presiden dan kongres penyusunan anggaran tidak mencapai kesepakatan.


Dia mengungkapkan, akibat penghentian ini yang terdampak adalah Departemen perdagangan, NASA, departemen ketenagakerjaan, departemen perumahan dan departemen energi.

Untuk Indonesia, hal ini akan berdampak secara temporer untuk nilai tukar rupiah, namun tidak terlalu besar. "Proyeksi rupiah masih berada dalam rentang yang terkendali di kisaran 13.350-13.400 ketika terjadi shutdown. Hal ini disebabkan pada masa shutdown, dolar AS cenderung melemah terhadap mata uang negara lainnya. Terjadinya shutdown menyebabkan prospek pemulihan ekonomi AS bisa terganggu," kata Bhima, Sabtu (20/1/2018).

Dia menjelaskan, karena penutupan ini rupiah akan diuntungkan. Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berada di zona positif yakni 6.490 - 6.500 masih dipengaruhi oleh sentimen domestik yang yakin ekonomi Indonesia akan mengalami pemulihan.


Dia menjelaskan shutdown pernah terjadi pada 1995-1996 dan 2013. Namun tidak mempengaruhi kurs rupiah. Karena memang hanya bersifat jangka pendek atau sekitar 2 minggu.

Menurut Bhima Indonesia sudah dalam kondisi siap dalam menghadapi shutdown ini. Karena cadangan devisa Indonesia masih cukup besar untuk stabilisasi kurs yakni di kisaran US$ 130 miliar.

"Sebagai safety net atau jaring pengaman terhadap gejolak eksternal, cadangan devisa harus terus ditingkatkan nilai maupun kualitasnya dengan mendorong devisa ekspor non-migas serta devisa pariwisata. Bank Indonesia juga perlu terus memantau resiliensi atau ketahanan fundamental ekonomi terhadap tekanan global," kata Bhima.


Dia mengungkapkan, dari penghentian sementara yang perlu dikhawatirkan jika berlangsung lebih dari 2 minggu. Dengan pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2017 tercatat sebesar 3,2% pada triwulan ke-III 2017, atau tercepat dalam 3 tahun terakhir rencana shutdown akan menurunkan prospek ekonomi AS.

"Secara spesifik jika shutdown berlangsung cukup lama kinerja perdagangan Indonesia ke AS berpotensi terganggu, sehingga kinerja ekspor Indonesia sepanjang 2018 berpotensi menurun," ujar dia.

Berdasarkan data BPS di tahun 2017, porsi ekspor Indonesia ke AS mencapai 11,2% dari total ekspor atau senilai US$17,1 miliar. Pemerintah didesak untuk mempersiapkan mitigasi resiko salah satunya dengan memperluas pasar ekspor ke negara alternatif sehingga ketergantungan terhadap AS berkurang.

Dari sisi investasi langsung sepanjang Januari-September 2017 berdasar data BPKM, realisasi investasi AS di Indonesia berada di peringkat ke 4 sebesar US$1,53 miliar atau naik US$1,1 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tren positif investasi AS pada tahun 2018 bisa terkoreksi akibat terjadinya shutdown, ditambah adanya reformasi kebijakan AS yang mulai berlaku efektif.


Dengan kondisi tersebut, Pemerintah perlu terus melanjutkan reformasi investasi khususnya percepatan perizinan, deregulasi dan evaluasi insentif fiskal. Harapannya efek negatif investasi AS yang berkurang bisa di off-set oleh kenaikan investasi dari negara lainnya.

Dampak shutdown di pasar keuangan akan berimplikasi pada naiknya yield surat utang yang mencerminkan kenaikan resiko serta keluarnya modal asing dari negara berkembang. Perlu dicatat sepanjang 2017, berdasarkan laporan Bloomberg, dana asing yang keluar dari bursa saham (net sales) Indonesia mencapai US$ 2,96 miliar atau hampir Rp 40 triliun.


Dalam jangka menengah, tekanan keluarnya dana asing menguat dipengaruhi oleh ancaman kenaikan suku bunga Fed rate sebanyak 3 kali hingga akhir tahun, instabilitas geopolitik, proteksionisme perdagangan AS, dan kenaikan harga minyak hingga 80 dolar per barel.

Dengan kondisi tersebut, motor pertumbuhan ekonomi yang berasal dari investasi dan ekspor bisa terpengaruh. Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2018 berada diangka 5,1% (year-on-year). Sementara suku bunga acuan 7 days repo rate diperkirakan akan tetap bertahan di 4,25% pada bulan Februari 2018 mendatang. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed