Follow detikFinance
Selasa 23 Jan 2018, 14:41 WIB

Garuda Indonesia Diperkirakan Masih Merugi di 2017

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Garuda Indonesia Diperkirakan Masih Merugi di 2017 Foto: Erna Mardiana/detikTravel
Jakarta - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) diperkirakan masih mencatatkan kerugian di tahun buku 2017. Jumlah kerugian diperkirakan masih terjadi secara akumulasi sepanjang kuartal I sampai kuartal IV-2017.

Jumlah kerugian tersebut jika dirinci dari kuartal I-2017 sebesar US$ 99,1 juta, kuartal II-2017 US$ 184,7 juta, kuartal III-2017 mulai untung US$ 62 juta, dan kuartal IV-2017 yang belum bisa dirilis perseroan.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia Helmi Imam Satriyono berharap banyak atas kinerja perseroan di semester II-2017 karena tren keuntungan di kuartal III-2017 US$ dan kuartal IV-2017 yang belum dirilis. Meski diperkirakan masih mengalami kerugian, tren ini diperkirakan menurun di 2017.

"Q4 belum bisa announce, tapi bisa melihat improve besar. Kita harapkan signifkan selama second half sehingga loss bisa ditekan," kata Helmi di Restoran Manggar, Jakarta Pusat, Selasa (23/1/2018).

Helmi merinci, kerugian di kuartal II-2017 disebabkan memperhitungkan pencatatan transaksi pengampunan pajak alias tax amnesty perseroan di buku April 2017 US$ 137 juta dan denda hukum di Australia 10 juta dolar Australia atau sekitar US$ 8 juta terkait persaingan usaha kargo 2012 silam.

Dengan demikian, kerugian perseroan sebesar US$ 38 juta ditambah dengan tax amnesty perseroan di buku April 2017 US$ 137 juta dan denda hukum di Australia US$ 8 juta menjadi US$ 184,7 juta.

"Q2 mengikuti tax amnesty dan juga ada legal case Australia di 2012," ujar Helmi.

Untuk mencatatkan kinerja positif di tahun ini, Garuda Indonesia menerapkan strategi khusus, yaitu 5 quick win. Perseroan melakukan efisiensi di operasional mulai dari penyewaan pesawat hingga bahan bakar (fuel).

"Kita harapkan ada tambahan sewa-sewa pesawat bisa dinegosiasikan sehingga sewa pesawat bisa lebih kompetitif. Improve utilisasi pesawat kita perbaiki dan bisa tumbuh," kata Helmi.

On time performance (OTP) di 2017 sebesar 86,4% dan ditargetkan naik ke level 90% di tahun ini. Rating airline bintang lima juga kembali diraih maskapai pelat merah tahun ini.

"Kemudian salah satu hal canangkan quick win adalah kontribusi pendapatan menggunakan channel kita," ujar Helmi.

Direktur Operasi Garuda Indonesia Triyanto Moeharsono menambahkan, Garuda Indonesia saat ini mengoperasikan 144 pesawat yang terdiri dari 10 Boeing 777, 24 Airbus 330, 73 Boeing 737-80, 1 Boeing 737 Max, 18 ATR, dan pesawat CRJ 1000.

"Jumlah penerbang Garuda 1.367 saat ini dan masih aktif menerbangkan pesawat. Jumlah penerbangan 630 penerbangan per hari dari seluruh dunia dan dari Cengkareng 190 per hari jadi cukup padat cukup besar airline kita dan menerbangkan 119 domestik dan 41 penerbangan internasional," ujar Triyanto.

Keselamatan penerbangan Garuda Indonesia juga semakin meningkat yang bisa dihitung setiap 1.000 keberangkatan.

"Tren kita dari 2003 itu terjadi satu insiden setiap 1.000 departure. 2004 0,95% terus turun sampai 2017 hanya 0,329%," tutur Triyanto. (ara/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed