Follow detikFinance
Jumat 07 Feb 2014, 14:59 WIB

Baru 1% Penduduk RI Investasi Saham, Padahal Untungnya Bisa 1.000%

- detikFinance
Baru 1% Penduduk RI Investasi Saham, Padahal Untungnya Bisa 1.000%
Jakarta -

Masyarakat Indonesia memang perlu pencerahan terkait investasi terlebih di instrumen saham. Saat ini, jumlah investor di pasar modal masih sangat minim hanya 1% dari jumlah penduduk Indonesia. Padahal, investasi di saham punya peluang keuntungan yang lebih tinggi hingga mencapai 1.000% dibanding investasi jenis lainnya.

Direktur Informasi dan Pendidikan OJK Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agus Sugiharto
menyebutkan, tingkat literasi keuangan di Indonesia masih rendah, perbankan yang paling tinggi tingkat literasinya mencapai 21% sedangkan yang paling rendah di pasar modal sekitar 1%.

Cynthia Nadeak, seorang investor saham mengaku, berinvestasi di saham punya peluang keuntungan yang tinggi dibanding investasi jenis lainnya seperti reksa dana dan deposito.

Imbal hasil atau return di saham memang tidak bisa diprediksi secara pasti namun bisa jauh melebihi return rata-rata reksa dana saham misalnya yang mencapai 20% per tahun.

Reksa dana pendapatan tetap yang hanya memberikan imbal hasil 10-15% per tahun, reksa dana campuran 15% per tahun, dan reksa dana pasar uang 10-12% per tahun. Bahkan, saat ini bunga deposito hanya memberikan keuntungan 9% saja.

"Kalau di saham keuntungan bisa bermacam-macam, sehari keuntungan di saham bisa 20-25% maksimal, sudah mentok tuh. Malah ada yang 100%, 200%, 500% bahkan 1.000% dalam jangka waktu 10 tahun misalnya, semua tergantung pilihan sahamnya," ujar dia saat dihubungi detikFinance, di Jakarta, Jumat (7/2/2014).

Namun, Cynthia menjelaskan, berinvestasi di pasar saham tidak melulu menoreh keuntungan besar, ada juga risiko kerugian yang tidak sedikit.

"Contohnya saham BNBR yang sudah turun sekitar 25% harganya jadi Rp 50 per saham. BUMI juga sahamnya sekarang cuma Rp 300 dari Rp 8.000 di tahun 2006-2007," kata dia.

Untuk itu, perlu persiapan matang dalam perencanaan investasi saham baik kondisi keuangan, jangka waktu, dan profil risko.

"Dipastikan dulu uang untuk investasi adalah bukan uang sehari-hari tapi sengaja disisihkan dari penghasilan kita, mau jangka waktu berapa lama misalkan 3 tahun dan harus tahu profil risiko kita agresif atau konservatif," jelas dia.

(drk/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed