Follow detikFinance
Jumat 17 Oct 2014, 16:35 WIB

KEN Perkirakan Dolar Tahun Depan Masih di Atas Rp 12.000

- detikFinance
KEN Perkirakan Dolar Tahun Depan Masih di Atas Rp 12.000
Jakarta - Komite Ekonomi Nasional (KEN) memperkirakan pada 2015 nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih belum mampu menguat signifikan. Penyebabnya adalah masih banyaknya tantangan ekonomi yang harus dihadapi.

Demikian dikemukakan Wakil Ketua KEN Raden Pardede dalam acara seminar Prospek Ekonomi 2015 di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Jumat (17/10/2014).

"KEN memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2015 akan berada pada kisaran 5,2-5,5% dengan asumsi bahwa stimulus fiskal dapat dieksekusi pada semester II-2015 sebagai akibat dari dampak kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak). Lalu dalam menghadapi tekanan inflasi, suku acuan BI akan naik 7,5-8%," papar Raden.

Menghadapi situasi tersebut, lanjut Raden, maka nilai tukar rupiah pada 2015 akan bergerak di level Rp 12.222 per dolar AS. Lebih kemah dibandingkan asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015 yang sebesar Rp 11.900 per dolar AS.

Selain itu, KEN juga menyoroti sejumlah masalah ekonomi Indonesia saat ini yang perlu menjadi perhatian pemerintah baru di bawah kepemimpinan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi).

"Tantangan domestik masih sama. Terjadi defisit ganda, baik budget maupun neraca transaksinya," kata Raden.

KEN, tambah Raden, berpendapat defisit diakibatkan oleh kelemahan struktural. "Jadi kebijakan untuk menangkal ini tidak bisa ditangani dengan satu kebijakan saja. Melainkan gabungan dari banyak kebijakan atau bauran kebijakan," tuturnya.

Pemerintahan Jokowi, menurut Raden, harus melaksanakan sejumlah kebijakan. "Harus fokus pada pembangunan infrastruktur, perbaikan sistem logistik, pengadaan lahan, pengadaan listrik. Ini adalah PR lama yang belum kita selesaikan," tegasnya.

Namun, demikian Raden, pemerintahan Jokowi sudah punya modal yang lumayan. Dalam beberapa bulan terakhir, sudah ada sejumlah kemajuan yang bisa dilanjutkan oleh pemerintahan mendatang.

"Beberapa bulan terakhir terdapat beberapa kemajuan. Misalnya pengendalian inflasi, di sektor tambang ada kepastian perpanjangan kontrak, pembangunan infrastruktur juga sudah semakin masif meskipun masih berada pada tahap awal. Ini bisa menjadi modal awal bagi pemerintah berikutnya untuk dilanjutkan," jelasnya.

(hds/hen)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed