Follow detikFinance
Selasa 09 Aug 2016, 14:18 WIB

Bisakah Pasar Saham RI Punya Perusahaan Sekelas Google dan Twitter?

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Bisakah Pasar Saham RI Punya Perusahaan Sekelas Google dan Twitter? Foto: Ari Saputra
Jakarta - Zaman terus berkembang. Startup berbasis teknologi mulai bermunculan. Sebut saja Go-Jek, Grab, Uber, Bukalapak, Mataharimall, dan lain-lain. Aktivitas sehari-hari menjadi lebih mudah dengan berbagai aplikasi tersebut.

Di luar negeri, startup lebih dulu mencuat dan terbukti sukses dengan mencatatkan nilai perusahaan yang tinggi. Misalnya saja Twitter. Perusahaan yang didirikan Jack Dorsey ini pada 7 November 2013 sukses melantai di bursa saham New York dengan meraup dana US$ 1,82 miliar.

Saat itu, kapitalisasi pasar atau nilai perusahaan Twitter mencapai US$ 14,4 miliar (Rp 144 triliun).

Tak hanya Twitter, perusahaan serupa seperti Google juga tak kalah sukses. Alphabet, induk perusahaan Google telah berhasil menggeser posisi Apple sebagai perusahaan termahal di dunia.

Mungkinkah perusahaan startup RI bisa menjadi perusahaan sekelas Google dan Twitter dengan melantai di bursa saham?

"Mungkin saja. Bisa saja melantai di bursa, selalu ada kemungkinan (menjadi besar dan sukses)," ujar Analis First Asia Capital David Sutyanto kepada detikFinance, Selasa (9/8/2016).

Menurut David, banyak startup di dalam negeri yang memiliki potensi untuk tumbuh berkembang menjadi besar. Seperti halnya Go-Jek. Layanan aplikasi transportasi berbasis online ini, kini tengah digandrungi masyarakat. Perlahan tapi pasti, Go-Jek menjadi startup dengan nilai perusahaan yang mumpuni.

Potensi tersebut bisa saja mendorong Go-Jek untuk melantai di bursa saham. Namun, itu saja tidak cukup. Go-Jek harus bisa meyakinkan kapan ia akan bisa meraup keuntungan dari bisnisnya.

Proyeksi ini yang akan menjadi salah satu syarat untuk bisa melantai di bursa saham. Bursa Efek Indonesia (BEI) tentu tidak akan begitu saja 'membuka pintu' bagi perusahaan yang akan melantai di bursa tanpa ada bekal pasti jika perusahaan tersebut akan mampu meraup untung. Wajar saja, ini berkaitan dengan kepercayaan investor di pasar modal.

Sebab, kata David, melantai di bursa saham dengan mencatatkan sahamnya di BEI adalah langkah awal menuju persaingan bisnis yang sesungguhnya. Jadi, lanjut David, perusahaan dimaksud harus benar-benar memberikan keuntungan kepada investor.

Dalam pandangan David, untuk startup yang bisa melantai di bursa, paling tidak telah beroperasi minimal 5 tahun. Selain itu, perusahaan ini haruslah memiliki aset bersih (net tangible asset) paling tidak Rp 5 miliar.

"Misalnya Go-Jek. Dia kan sekarang masih rugi. Jadi, sebelum masuk bursa dia harus bisa memprediksi kapan dia akan untung. Bisa diproyeksi bisa meraup untung, bisnisnya berjalan paling nggak 5 tahun, harus make sure, jangan sampai, setelah listing malah menimbulkan risiko," jelas David.

Sejauh ini, David mengatakan, masalah yang menghadang startup bisa masuk pasar modal adalah soal kondisi keuangan perusahaan itu sendiri. Keuangan yang masih rugi menjadi alasan kuat sulitnya startup bisa masuk menjadi bagian perusahaan tercatat.

Untuk itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai otoritas di pasar modal perlu memberikan aturan jelas soal kemudahan perusahaan startup masuk pasar modal. Di sisi lain, perusahaan startup juga perlu mempersiapkan lebih jauh agar bisa layak masuk pasar modal.

"Jadi ini bukan saja masalah ketinggalan, karena pada intinya perusahaan publik itu harus menguntungkan buat investor publik, jangan sampai sudah listing terus bangkrut, ini nantinya justru merugikan investor," pungkasnya. (drk/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed