Follow detikFinance
Kamis 07 Dec 2017, 16:23 WIB

Trump Akui Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel, Bagaimana Efeknya ke RI?

Hendra Kusuma - detikFinance
Trump Akui Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel, Bagaimana Efeknya ke RI? Foto: REUTERS/Jonathan Ernst
Jakarta - Goyangnya pasar saham Tokyo, Jepang menjadi bukti kekhawatiran investor pasca pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Lantas bagaimana dampaknya terhadap Indonesia ?

Analis Recapital Sekuritas Kiswoyo Adi Joe mengatakan, persoalan ini tidak akan memberikan dampak besar. Bahkan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini hanya menjadi sentimen sesaat saja.

"Sebetulnya kalau untuk kita Asia sih enggak ada masalah yah, kalau kita bicara politik, mungkin yang berbahaya adalah kepentingan AS terutama di Timur Tengah. Tapi kalau di Eropa dan di negara lain sih kepentingan AS aman," kata Kiswoyo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Kamis (7/12/2017).


Tidak adanya dampak terhadap ekonomi Indonesia juga bisa dilihat dari investasi AS yang terbilang kecil di Indonesia. Apalagi, pernyataan Yerusalem menjadi tempat pemindahan kantor kedutaan AS merupakan topik yang sudah dibahas lama.

"Jadi kalau bicara ekonomi sih enggak ada pengaruh sekali, ke Asia juga enggak ada, hanya sentimen sesaat saja," jelas dia.

"Jadi sebetulnya itu sudah lama, cuma memang baru disetujui oleh Presiden AS saat ini, jadi kalau bicara kepentingan politik saya enggak tahu nih ini Trump ada apa nih. Tapi kalau bicara ke ekonominya enggak ada, hanya kepentingan AS di Timur Tengah yang terancam," sambungnya.

Meski demikian, Kiswoyo menilai, yang lebih ditakuti investor untuk saat ini adalah kebijakan reformasi pajak Donald Trump untuk tarif PPh Badan dari 35% menjadi 15% yang sudah disepakati.

Pasalnya, dengan tarif pajak 35% faktanya APBN-nya negeri paman sam itu masih mengalami defisit. Jika tarif dikurangi, maka akan terjadi penurunan penerimaan, sedangkan pengeluaran tidak bisa dikurangi.

"Nah itu yang ditakutin adalah apakah itu akan membangkitkan ekonomi AS atau tidak. Apakah ekonomi AS bisa bergerak agar pajak turun nilai yang didapatkan lebih gede, orang yang bayar lebih gede, bisa enggak seperti itu, kalau enggak bisa berarti pendapatan pajak AS turun, itu berbahaya dan defisit mereka makin besar," kata dia.

"Jadi enggak ada masalah, cuma masalah reformasi pajak saja yang ditakuti oleh investor, ini yakin enggak ini, pas di diskon mau enggak orang balik ke AS, kalau enggak mau bagaimana, karena ternyata itu lagi-lagi UMR AS itu mahal," tukas dia. (mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed