Follow detikFinance
Jumat 08 Dec 2017, 07:54 WIB

Laba BUMN Karya Naik, Kok Sahamnya Terus Turun?

Danang Sugianto - detikFinance
Laba BUMN Karya Naik, Kok Sahamnya Terus Turun? Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Para BUMN konstruksi yang melantai di pasar modal hingga kuartal III-2017 kinerjanya cukup baik. Namun anehnya, jika dilihat dari awal tahun saham BUMN di kelompok tersebut seluruhnya melemah.

Menurut Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta, penurunan harga saham para BUMN konstruksi lantaran arus kas (cash flow) yang berantakan.

"Masalah cash flow emiten BUMN konstruksi yang sementara ini membuat harga sahamnya terkoreksi," tuturnya kepada detikFinance, Kamis (7/12/2017).

Seperti diketahui PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) berhasil mengantongi laba bersih Rp 989,9 miliar, naik 74,7% dari Rp 566 miliar. Pendapatan usaha juga naik 27,4% dari Rp 10,8 triliun menjadi Rp 13,76 triliun.

Lalu PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) laba bersihnya naik 46,66% dari Rp 465,46 miliar jadi Rp 682,64 miliar. Penjualan bersih juga naik 69,99% jadi Rp 15,88 triliun dari Rp 9,34 triliun.

PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mengantongi laba bersih Rp 2,57 triliun, naik 137,9% dari Rp 1,08 triliun. Pendapatan usaha Rp 28,5 triliun, naik 50% dari Rp 14 triliun.

Sedangkan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) memperoleh laba bersih Rp 205,07 miliar, naik 78% dari Rp 115,18 miliar. Pendapatan usaha juga naik 53% jadi Rp 8,7 triliun dari Rp 5,69 triliun.

Namun peningkatan laba bersih itu tidak dibarengi dengan cash flow yang sehat. Seperti PTPP arus kas bersih dari aktivitas operasi masih minus Rp 1,52 triliun. Hal itu lantaran pembayaran kas kepada pemasok dan subkontraktor lebih besar yakni Rp 11,8 triliun dibanding penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp 11,7 triliun.


Sementara total arus kas untuk aktivitas operasi ADHI minus Rp 3 triliun. Total arus kas penerimaan Rp 6,87 triliun sementara total arus kas pengeluaran lebih besar yakni Rp 9,9 triliun.

Arus kas bersih untuk aktivitas operasi WIKA juga masih minus Rp 2,69 triliun. Penerimaan kas dari pelanggan hanya Rp 9,8 triliun namun pembayaran kepada pemasok sebesar Rp 11,5 triliun.

Begitu pula dengan WSKT yang arus kas bersih untuk aktivitas operasinya minus Rp 5 triliun. Penerimaan kas dari pelanggan Rp 14,24 triliun sedangkan pengeluaran kas pada pemasok sebesar Rp 16,55 triliun.

Tidak hanya itu menurut Nafan, dengan dibukanya proyek-proyek infrastruktur nasional kepada swasta juga turut memberikan sentimen negatif.

Saham PTPP sejak awal tahun tercatat sudah turun 36,3% dari level Rp 3.770 menjadi Rp 2.400. Saham WSKT juga tercatat turun 27,51% dari awal tahun di posisi Rp 2.580 menjadi Rp 1,870. Begitu juga saham WIKA yang turun 36,25% dari awal tahun Rp 2.510 menjadi Rp 1.600. Saham ADHI juga tercatat turun 17% dari awal tahun Rp 2.130 menjadi Rp 1.735.

Namun menut Nafan harga saham dari BUMN konstruksi tersebut sudah terbilang murah. Sehingga harga sahamnya berpotensi untuk rebound. "Ini tergolong murah atau diskon. Bisa saja kembali ke level awal tahun," tandasnya. (dna/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed