Follow detikFinance
Senin 03 Mar 2014, 09:22 WIB

Orang Terkaya Ukraina Minta Warga Bersatu Kecam Serangan Rusia

- detikFinance
Orang Terkaya Ukraina Minta Warga Bersatu Kecam Serangan Rusia
Kiev - Orang terkaya di Ukraina yang juga pendukung presiden Viktor Yanukovych yang baru saja digulingkan, Rinat Akhmetov, mengecam serangan Rusia dan meminta Ukraina bersatu mempertahankan integritas negara mereka.

"Adanya serangan dari luar seperti ini tidak dapat diterima. Krisis hanya dapat diselesaikan secara damai," kata Akhmetov, salah satu sekutu terdekat mantan presiden itu, seperti dikutip AFP, Senin (3/3/2014).

"Saya meminta semua warga untuk bersatu dan tak terpisahkan untuk Ukraina. Kita harus menjaga kepala dingin, tidak menyerah pada provokasi dan mengambil keputusan dengan cepat tanggap," kata Akhmetov dalam keterangan tertulis.

Seperti Yanukovych, Akhmetov berasal dari daerah pro-Rusia Donetsk di bagian timur Ukraina. Kota tersebut juga jadi markas bagi System Capital Management, perusahaan investasi miliknya.

Majalah Forbes mencatat kekayaan Akhmetov saat ini mencapai US$ 15 miliar (Rp 150 triliun). Ia dua kali terpilih sebagai anggota parlemen dari partainya Yanukovych.

Sabtu lalu, dewan lokal di Donetsk menyerukan referendum mengenai apakah akan tetap menjadi bagian dari Ukraina setelah adanya demonstrasi pro-Rusia besar-besaran.

Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk menyebutkan jika negaranya berada di ambang bencana. Dia mengatakan Rusia telah mendeklarasikan perang.

"Ini sudah kode merah, ini bukanlah ancaman. Ini sebenarnya adalah sebuah deklarasi perang pada negara kami," ujar Arseniy.

Hal itu disampaikan oleh Arseniy sehari setelah parlemen Rusia menyetujui pengerahan angkatan bersenjata mereka ke Ukraina.

Ratusan tentara Rusia melakukan konvoi menuju kota Crimea, Ukraina pada hari Minggu ini. Presiden Rusia Vladimir Putin telah menolak bujukan Barat untuk menarik kembali pasukannya.

Putin bersikeras pihaknya memiliki hak untuk melindungi kepentingan populasi masyarakat berbahasa Rusia di Crimea dan tempat lainnya di Ukraina.

Presiden Putin sempat meminta persetujuan untuk mengirimkan pasukan Rusia ke Crimea untuk menormalkan situasi politik di sana. Putin menyebut adanya ancaman terhadap kehidupan warga Rusia dan personel militer Rusia yang berbasis di wilayah selatan negara itu.

(ang/dru)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed