Follow detikFinance
Kamis 27 Sep 2012, 12:31 WIB

25% Anggaran 'Ludes' Buat Subsidi BBM, Agus Marto Diminta Tegas ke DPR

- detikFinance
25% Anggaran Ludes Buat Subsidi BBM, Agus Marto Diminta Tegas ke DPR Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Lembaga ekonomi asing Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) meminta pemerintah Indonesia tegas menekan subsidi energi khususnya BBM, yang menggerogoti 25% dari total anggaran negara.

Sekretaris Jenderal OECD Angela Gurria mengatakan, anggaran subsidi BBM yang jumlahnya mencapai lebih dari Rp 200 triliun mempersempit ruang anggaran pembangunan.

\\\"Subsidi energi di negara ini mengambil jatah hampir seperempat dari total budget. Jika juga menghitung rigiditas dalam budget, anggaran, gaji, pembayaran bunga utang, dan berbagai layanan lainnya. Di mana ruang untuk Menteri Keuangan untuk mengalokasikan dana bagi pertumbuhan seperti investasi?\\\" ujar Gurria dalam Seminar OECD di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (27\/9\/2012).

Gurria menyatakan, pemerintah harus benar-benar memiliki komitmen guna mengurangi subsidi tersebut. Hal ini merupakan tanggung jawab pemerintah dalam menjaga defisit negara.

Menurutnya, saat ini pemberian subsidi energi tak efektif karena diterima oleh pihak-pihak yang tidak berhak mendapatkan subsidi alias orang-orang kaua. Selain menggerogoti anggaran, uang yang dikeluarkan untuk subsidi ini juga merusak lingkungan.

\\\"Sebagian besar dari subsidi ini mengalir ke orang-orang yang tidak membutuhkan dan subsidi ini buruk bagi lingkungan karena pada tahap tertentu dia mendorong orang menggunakan bahan bakar fosil. Sekarang kalau kita pikirkan 25 persen dari anggaran itu, kita alokasikan untuk orang-orang yang membutuhkan saja, anda bisa membuat perubahan yang besar,\\\" paparnya.

Gurria menegaskan, Menteri Keuangan Agus Martowardojo harus berani mengambil tindakan pemotongan anggaran ketika melihat anggaran negaranya terancam. Apalagi dengan harga minyak dunia yang tidak dapat dipastikan.

\\\"Ketika saya menjabat Menkeu Meksiko, sehari setelah saya dilantik, harga minyak jadi US$ 10 per barel, bukan US$ 80-90 per barel lagi. Padahal pendapatan Meksiko 40 persen dari minyak, sehingga saya harus memotong anggaran 4 kali tahun itu. Itulah yang menyebabkan saya dikenal sebagai Gurria Scissorhand,\\\" tandasnya.

Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto pernah mengatakan, subsidi BBM tidak tepat lagi. Harga seliter BBM subsidi yang lebih murah dari 1 botol air mineral, sudah tidak masuk akal.

Menurut Suryo, subsidi energi (BBM dan listrik) yang mencapai hampir Rp 300 triliun dinilai terlalu besar, dan habis hanya untuk dibakar.

\\\"Bayangkan kalau Rp 300 triliun tersebut dialihkan ke infrastruktur dan pendidikan. Banyak yang merasakan dampaknya, seperti pembangunan infrastruktur efeknya akan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan geliat ekonomi, dan pengusaha pastinya akan memanfaatkannya juga. Bandingkan dengan subsidi BBM dan listrik saat ini, ya yang menikmati kita-kita ini (pengusaha) dan orang mampu,\\\" paparnya.

Sebelumnya, menurut laporan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), seringkali terjadi penyelundupan BBM subsidi yang jumlahnya lumayan. Terakhir, ada sekitar 1.700 KL BBM subsidi diduga yang diselundupkan di Kalimantan. Bahkan ada juga oknum aparat keamanan yang juga membekingi BBM subsidi untuk diselundupkan ke industri.

Bahkan Menteri ESDM Jero Wacik mengakui, selama ini penyelundupan BBM subsidi makin banyak karena harga BBM subsidi yang terlalu murah yaitu Rp 4.500 per liter dibandingkan BBM non subsidi sekitar Rp 9.700 per liter.

Jero Wacik tak menampik adanya penyelundupan BBM subsidi. Bahkan menurut Jero, aksi penyelundupan BBM subsidi makin banyak walaupun sudah banyak yang tertangkap. Hal ini salah satunya disebabkan oleh makin lebarnya perbedaan harga antara BBM subsidi dengan BBM non subsidi.

\\\"Kita sudah tangkap mereka, tapi yang menyelundup makin banyak lagi, semakin banyak akal-akalan mereka\\\", kata Jero.

(nia/dnl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed