Follow detikFinance
Jumat 19 May 2017, 19:03 WIB

Kata BI Soal Kondisi Ekonomi RI Kuartal I-2017

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kata BI Soal Kondisi Ekonomi RI Kuartal I-2017 Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Kondisi perekonomian Indonesia diklaim mengalami perbaikan. Mulai dari pertumbuhan ekonomi kuartal I 2017 yang mencapai 5,01% dan perbaikan pada nilai ekspor impor.

Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI Repo Rate di level 4,75% sama dengan periode bulan sebelumnya. Keputusan tersebut konsisten dengan upaya BI menjaga stabilitas sistem keuangan dengan tetap mendorong proses pemulihan perekonomian domestik.

BI tetap mewaspadai sejumlah risiko global dan domestik untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara mengatakan, saat ini pertumbuhan ekonomi nasional masih diproyeksikan 5% - 5,4% hingga akhir tahun.

"Sesuai polanya, kuartal II akan lebih baik, bisa dilihat dari investasi yang sudah membaik, aliran modal ada peningkatan, ekspor impornya sudah membaik kontribusinya ke produk domestik bruto (PDB)," kata Mirza di gedung BI, Jumat (19/5/2017)

Dia menceritakan aktivitas ekonomi nasional memang belum optimal kuartal I, ini sesuai pola tahunan. Kemudian kuartal II ekonomi membaik.

"Apalagi di Jakarta sudah selesai pilkada, ini ada pergerakan yang lebih baik," ujarnya.

Perekonomian nasional kuartal I 2017 tumbuh 5,01% ditopang oleh pertumbuhan ekonomi di pulau Jawa yang mencapai 5,66% naik dibandingkan kuartal IV 2016 5,45%.

Kemudian pertumbuhan ekonomi Kalimantan yang tercatat 4,92% naik dari kuartal IV tahun lalu 2,22%. Penopang pertumbuhan wilayah ini adalah perbaikan kinerja ekspor dan investasi.

BI memprediksikan tingkat inflasi Mei 2017 diperkirakan mencapai 0,27%. Masih sejalan dengan target BI.

Indikator yang perlu diwaspadai adalah peningkatan harga pada bawang putih, daging ayam, telur ayam dan kenaikan tarif dasar listrik (TDL).

Sedangkan komoditi seperti bawang merah, cabai merah itu menyumbang deflasi. April lalu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi tercatat 0,09%. Secara tahun kalender inflasi mencapai 1,28% dan tahunan 4,17%.

KPR dan kredit konstruksi

BI juga menyebutkan penyesuaian loan to value (LTV) yang dilakukan Bank Indonesia (BI) pada Agustus 2016 lalu dinilai belum berdampak signifikan untuk mengerek kenaikan kredit di sektor properti.

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Filianingsih Hendarta mengatakan. Peraturan LTV memang tidak bisa berdampak langsung terhadap kredit.

"Memang tidak bisa serta merta, pelonggaran ini berhasil tapi sekarang terlihat bisa menahan penurunan," ujar Filianingsih di gedung BI, Jumat (19/5/2017)

Dia mengaku optimistis penyaluran kredit bisa terus meningkat hingga akhir tahun. Hal ini sudah tercermin dari pertumbuhan kredit konstruksi yang mulai tumbuh di kuartal I 2017.

"Bisa dilihat ya, Down payment (DP) sudah turun, kami akan terus pantau bagaimana pergerakan pertumbuhannya," kata dia.
Dari data uang beredar BI per Maret 2017 penyaluran kredit properti tercatat Rp 719 triliun tumbuh 15,2% dibandingkan periode bulan Februari sebesar Rp 706,2 triliun.

Kemudian untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) tercatat Rp 375,1 triliun, tumbuh 8,4% dibandingkan periode Februari Rp 367,6 triliun.

Kredit konstruksi tercatat Rp 214,5 triliun tumbuh 26,1%. Kemudian kredit real estate Rp 129,4 triliun tumbuh 20%.

Modal Bank

Sementara itu untuk menjaga kinerja perbankan nasional BI tidak merubah besaran tambahan modal bank berupa Countercyclical Capital Buffer (CCB) sebesar 0%.

Ini dilakukan karena belum adanya pertumbuhan kredit yang berlebihan yang berpotensi menyebabkan risiko sistemik.

Hal ini ditunjukkan oleh indikator kesenjangan rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (Credit to GDP gap), sebagai indikator utama (buffer guide) dalam menetapkan besaran CCB, yang berada di bawah ambang batas (threshold) bawah.

Pada akhir triwulan I 2017 pertumbuhan kredit telah menunjukkan peningkatan yakni menjadi 9,24% (yoy), seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,01%.

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.17/22/PBI/2015, Bank Indonesia melakukan evaluasi besaran dan waktu pemberlakuan CCB paling kurang 1 (satu) kali dalam 6 (enam) bulan.

Penetapan besaran CCB sebesar 0% tidak akan mempengaruhi upaya bank dalam meningkatkan fungsi intermediasinya, sehingga diharapkan dapat berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Terakhir, BI mencermati rencana Amerika Serikat (AS) mengurangi neraca pembayaran dalam waktu dekat, selain itu The Federal Reserve (The Fed) juga akan menaikkan suku bunga. Kedua aksi ini dinilai akan mempengaruhi pergerakan perekonomian Indonesia.

BI mencermati peningkatan suku bunga diprediksi terjadi Juni juga harus diantisipasi. Pasalnya, pengecilan balance sheet bank sentral AS tersebut tidak akan memperpanjang surat-surat berharga yang sudah jatuh tempo di sejumlah negara. (hns/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed