Follow detikFinance
Kamis 18 Jan 2018, 20:07 WIB

Ini Jurus OJK Pacu Pertumbuhan di Sektor Keuangan

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ini Jurus OJK Pacu Pertumbuhan di Sektor Keuangan Foto: Hendra Kusuma/detikFinance
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan industri keuangan bisa tumbuh tahun ini. Untuk perbankan OJK menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 12,2% dan dana pihak ketiga (DPK) 11,16%.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam sambutannya mengungkapkan, untuk menghadapi tantangan dan mendorong ekonomi nasional lebih baik. OJK akan mengambil sejumlah kebijakan strategis Antara lain.

Untuk mendukung pembiayaan infrastruktur dan sektor prioritas sekaligus memperdalam pasar keuangan, OJK akan mendorong perluasan dan pemanfaatan instrumen pembiayaan yang lebih bervariasi, antara lain perpetual bonds, green bonds, dan obligasi daerah, termasuk penerbitan ketentuan pengelolaan dana Tapera melalui skema Kontrak Investasi Kolektif.

Dia menjelaskan OJK mempermudah proses penawaran umum Efek bersifat utang dan sukuk bagi pemodal profesional. Kemudian, meningkatkan akses bagi investor domestik serta keterlibatan pelaku ekonomi khususnya lembaga jasa keuangan di daerah melalui penerbitan kebijakan pendirian Perusahaan Efek Daerah.

"Kami juga akan meningkatkan proses handling perizinan dan penyelesaian transaksi yang lebih cepat dengan menggunakan teknologi, serta menghilangkan kewajiban pembentukan margin 10% untuk transaksi hedging nilai tukar," kata Wimboh dalam sambutannya di acara Pertemuan Tahunan Jasa Keuangan di Ritz Charlton PP, Jakarta, Kamis (18/1/2018).

Dia menjelaskan, untuk mendorong peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat, OJK akan mengembangkan KUR Klaster yakni penyaluran KUR yang diiringi dengan pendampingan dan pemasaran produk yang akan dilakukan oleh perusahaan inti, baik perusahaan BUMN, BUMDes/BUMADes berdasarkan asas TARIF (Transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi dan Fairness) agar aspek perlindungan nasabah terpenuhi.

Tahun ini OJK juga akan mengeluarkan kebijakan di lembaga jasa keuangan, antara lain: guiding principles bagi Penyelenggara Layanan Keuangan Digital yang akan mencakup mekanisme pendaftaran dan perizinan serta penerapan regulatory sandbox dan kebijakan tentang Crowdfunding. Hal ini dilakukan untuk mengarahkan lembaga jasa keuangan agar dapat meningkatkan sinergi dengan perusahaan Fintech ataupun mendirikan lini usaha Fintech.

"Untuk perkembangan cryptocurrency, kami melarang lembaga jasa keuangan untuk menggunakan dan memasarkan produk yang tidak memiliki legalitas izin dari otoritas terkait," imbuh dia.

OJK akan meningkatkan edukasi dan literasi keuangan melalui pengembangan edukasi keuangan yang berdampak kepada masyarakat. Agar tepat sasaran dan terukur dengan memanfaatkan berbagai delivery channel. Peran Satgas Waspada Investasi dalam pencegahan dan penindakan maraknya investasi ilegal yang merugikan masyarakat juga akan terus kita optimalkan lagi.

Untuk melakukan pengawasan industri jasa keuangan secara terintegrasi untuk perbankan, pasar modal dan industri keuangan non bank melalui optimalisasi peran teknologi dalam proses pengawasannya dengan menerapkan standar internasional yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. "Dalam rangka mendukung inisiatif ini, kami akan terus meningkatkan efisiensi melalui penggunaan teknologi informasi yang lebih intensif," imbuh dia.

Saat ini permodalan lembaga jasa keuangan kita relatif kuat, yang ditunjukkan dengan rasio kecukupan modal/CAR perbankan sebesar 23,36%. Dengan asumsi CAR disesuaikan ke level setara dengan rata-rata CAR perbankan di kawasan ASEAN yakni 18%. "Dengan jumlah CAR ini maka industri perbankan kita memiliki potensi untuk mendorong penyaluran kredit sampai RP 640 triliun," ujar Wimboh.

Kuatnya permodalan ini juga didukung oleh tingkat risiko kredit yang terkendali dengan rasio kredit bermasalah/NPL 2,59% secara gross atau 1,11% secara net, angka NPL ini berada di tren menurun. Sementara itu likuiditas yang tersedia di sektor jasa keuangan masih sangat memadai mencapai RP 626 triliun.

Di Pasar modal, OJK melihat penghimpunan dana yang mencapai Rp 264 triliun jauh melampaui target sebesar RP 217 triliun dan diharapkan penghimpunan tahun ini bisa meningkat. Kemudian untuk industri keuangan non bank menunjukkan perkembangan positif, dengan risiko yang terkendali.

Hal ini tercermin dari pertumbuhan aset industri asuransi sebesar 20,2% yoy, melampaui pertumbuhan tahun 2016 sebesar 18,2% yoy. Yang didukung oleh tingkat permodalan yang memadai untuk membayar klaim. Sementara itu untuk piutang pembiayaan yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 7,05%, dengan tingkat pengelolaan risiko yang memadai. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed