Follow detikFinance
Kamis 14 Dec 2017, 06:10 WIB

Menolak Asuransi Tapi Ingin Ada Dana Kesehatan, Ini Solusinya

Ila Abdulrahman - detikFinance
Menolak Asuransi Tapi Ingin Ada Dana Kesehatan, Ini Solusinya Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Pada tahun 2015, Menkes Nila Moeloek menyatakan,"Jumlah penduduk yang sakit mencapai 65% dari 250 juta orang. Jumlah yang jauh di atas rentang normal, 10%-15% dari total penduduk."

Sebagai Financial Planner, saya pribadi sangat bersyukur dengan adanya program JKN melalui BPJS terutama BPJS Kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Beban moral secara pribadi sangat berkurang.

Asuransi masih dianggap tidak penting, padahal ia ibarat payung, jas hujan di musim hujan, mungkin tidak melindungi sepenuhnya dari guyuran air hujan, setidaknya tidak basah kuyub. Asuransi, mungkin tidak mencakup semua biaya, setidaknya kita hanya perlu menambah biaya yang tidak dicakup.

Seperti halnya payung yang dibeli dan disimpan ketika cerah, dan di pakai ketika hujan turun atau beberapa ketika panas terik, begitu juga asuransi, dimanfaatkan ketika sedang tidak sehat. Memakai payung pun kadang masih basah kaki dan sebagian badan kita, apalagi tidak.

Saat sehat, premi yang dibayarkan terasa mahal, mati-matian menawar minta diskon inilah itulah, minta naik benefit dengan premi yang sama, namun ketika sakit datang premi itu terasa sangat murah, sayangnya saat sakit sudah datang, kita tidak bisa membelinya.

Beberapa agen asuransi menceritakan hal yang serupa, premi bayar Rp 1 juta untuk setahun, sakit habis Rp 12 juta dicakup Rp 10 juta, masih bilang, kok cuman dicover Rp 10 juta? Anggap saja Rp 2 jutanya air yang masih membasahi meski sudah pakai payung.

Seberapa penting memiliki asuransi kesehatan?

Dalam urutan Perencanaan Keuangan, ia menempati urutan ke 3, setelah melunasi hutang konsumtif dan memiliki Dana Darurat (DD), artinya sangat penting.

Sakit, tak satu orangpun mau, namun ketika datang tak satupun bisa menolak, yang bisa dilakukan hanyalah pencegahan dan pengobatan. Jika kita tidak memiliki asuransi, siapa yang akan membayar? Tidak masalah bagi yang berkecukupan, yang tidak, mungkin harus pinjam kesana kemari.

Jika kita punya Asuransi, sudah ada yang membayar ketika sakit, ketika punya asuransi dan kita tetap sehat, setidaknya premi kita telah membantu peserta lain yang sedang sakit.

Berapa benefit yang harus dibeli?

Bagi karyawan yang sudah mendapat jaminan kesehatan dari kantor, cek mendapat benefit berapa, sesuai atau tidak dengan yang anda inginkan? Jika cukup tidak perlu beli lagi, namun jika kurang, silakan beli tambahan.

Misal dari kantor mendapat benefit Kamar Rawat Inap 600,(biasa disebut Ip-600), ternyata anda ingin di rawat kamar VIP seharga Rp 800rb, maka anda membeli lagi sendiri asuransi lain minimal sebesar IP 200, sehingga ketika sakit dan rawat di kamar VIP IP 800, biaya sudah dicakup asuransi dari kantor dan asuransi sendiri.

Bagi anda yang bukan karyawan tinggal beli sesuai benefit yang diinginkan. Bagi yang sudah punya BPJS Kesehatan , dan ingin beli lagi, belilah yang sudah CoB dengan BPJS. Buat Bisnis Owner, belikan untuk seluruh karyawannya dan keluarganya atau setidaknya ada santunan kesehatan yang bisa di belikan asuransi sendiri, sehingga karyawan lebih produktif.

Perlukan asuransi penyakit kritis?

Sebenarnya tidak ada yang namanya penyakit kritis, yang ada adalah kondisi suatu penyakit yang sudah kritis. Karena namanya kondisi kritis, maka benefit akan cair pada saat kondisi penyakit tersebut sudah kritis.

Tingkatan pengcoveran level kritis masing-masing perusahaan asuransi berbeda-beda, mulai dari terdeteksi, stadium 1 (a,b) stadium 2 atau beberapa jenis penyakit dicakup ketika stadium sudah 4 yang secara media sudah mendekati final/terminal.

Saya menolak asuransi, lalu bagaimana menyiapkan dana kesehatan?

Bagi yang tidak setuju dengan konsep asuransi baik asuransi konvensional ataupun syariah, silakan siapkan dalam dana darurat. Dalam urutan Financial Planning, Dana Darurat menempati prioritas ke-2.
  • Lihat riwayat kesehatan keluarga baik dari garis anda sendiri maupun garis pasangan (minimal dari mulai nenek/kakek), jenis penyakit apa saja yang pernah di derita.
  • Bagaimana gaya hidup anda, cari tahu risiko penyakit yang mungkin ditimbulkan.
  • Cari tahu biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan penyakit-penyakit pada poin 1 dan 2. Sakit Jantung misalnya, saat ini anggap butuh biaya setidaknya Rp 400 juta.
  • Hitung inflasi biaya kesehatan, misal kenaikan biaya kesehatan 20%, maka setahun ke depan, Rp 400 juta akan menjadi Rp 480 juta.
  • Tambahkan ke dalam simpanan DD kesehatan dan jumlah terus ditambah mengikuti inflasi kesehatan setiap tahun. Mudah Buka Ingat, contoh di atas hanya untuk 1 jenis penyakit, hitung detil. Untuk semua risiko penyakit dari riwayat keluarga maupun yang mungkin timbul dari gaya hidup.
Mau tau lebih detil kebutuhan asuransi anda seperti apa? Kalau anda berminat untuk belajar lebih detil dan dalam lagi, bisa dengan mengikuti kelas atau workshop yang kami rekomendasikan. Kemana saja? Ada yang dilakukan baik oleh AAM & Associates maupun IARFC Indonesia. Untuk workshop Kaya Raya Dengan Reksadana di bulan Desember bisa dibuka di sini.

Untuk belajar mengelola gaji bulanan bisa ikut workshop CPMM, info buka di sini. Sementara untuk ilmu yang lengkap, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan ilmu advance, info buka di sini dan untuk workshop Basic Financial Planning info bisa dibuka di sini. Selain itu bisa juga bergabung di akun telegram group kami dengan nama Seputar Keuangan atau klik di sini.



(mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed