Pembentukan Bank Baru untuk Holding Bank BUMN Realistis
Kamis, 17/01/2008 17:54 WIB
Jakarta - Rencana kementerian BUMN membuat bank baru sebagai holding (induk perusahaan) bank BUMN dinilai sebagai tindakan yang paling realistis.
"Bank holding memang keputusan yang paling realitis dibanding opsi yang lain tapi bukan keputusan terbaik," ujar Anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo di sela-sela FestivalEkonomi Syariah, di Jakarta Convention Center, Senayan, Kamis (17/1/2008).
Sebenarnya kata Dradjad, keputusan yang paling baik adalah melakukan merger antara bank-bank BUMN agar menjadi bank besar dan bertaraf internasional.
"Namun merger itu secara realitas politik sulit dilakukan. Apalagi menjelang pemilu, belum lagi konsekuensi sosialnya akan besar," ujarnya.
"Kalau kita bicara opsi teknis dan keuangan, opsi yang terbaik adalah merger. Tapi jika memasukkan pertimbangan sosial dan politik, opsi merger menjadi tidak layak," tambahnya.
Jadi tidak heran kata Dradjad, opsi yang muncul adalah pembentukan holding. Namun opsi holding juga tidak menjadi opsi yang terbaik karena akan menciptakan rantai birokrasi baru.
"Kalau tadinya direksi bank BUMN cukup melapor ke kantor kementerian BUMN,
sekarang dia harus masuk ke direksi holding bank, baru disampaikan ke Menneg BUMN. Dengan birokrasi tambahan, akan menimbulkan biaya tambahan juga. Karena sebagian keuntungan dari bank BUMN itu harus dibayarkan untuk operasional bank holding company-nya," ujarnya.
Dalam holding bank juga akan muncul masalah mengenai kepemilikan negara. Negara kan memiliki bank holding, tetapi negara tidak langsung memiliki BUMN-nya hanya menjadi anak perusahaan..
"Pertanyaan saya, kalau BUMN itu BNI, Mandiri dia adalah anak perusahaan dari sebuah bank holding, aktiva dia itu disebut kekayaan negara atau tidak. Kemudian, kalau dia memiliki piutang, menjadi piutang negara atau tidak. Dia menerbitkan utang, subdebt dan sebagainya, itu menjadi utang negara atau tidak? Selama ini kan tidak konsisten, utang bank BUMN tidak dianggap utang negara, tapi piutang bank BUMN dianggap sebagai piutang negara," paparnya.
Meskipun demikian menurutnya opsi holding bank merupakan opsi yang paling
memungkinkan bagi pemerintah untuk mematuhi aturan kebijakan pemilik tunggal atau Single Presence Policy (SPP).
(ddn/ir)
"Bank holding memang keputusan yang paling realitis dibanding opsi yang lain tapi bukan keputusan terbaik," ujar Anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo di sela-sela FestivalEkonomi Syariah, di Jakarta Convention Center, Senayan, Kamis (17/1/2008).
Sebenarnya kata Dradjad, keputusan yang paling baik adalah melakukan merger antara bank-bank BUMN agar menjadi bank besar dan bertaraf internasional.
"Namun merger itu secara realitas politik sulit dilakukan. Apalagi menjelang pemilu, belum lagi konsekuensi sosialnya akan besar," ujarnya.
"Kalau kita bicara opsi teknis dan keuangan, opsi yang terbaik adalah merger. Tapi jika memasukkan pertimbangan sosial dan politik, opsi merger menjadi tidak layak," tambahnya.
Jadi tidak heran kata Dradjad, opsi yang muncul adalah pembentukan holding. Namun opsi holding juga tidak menjadi opsi yang terbaik karena akan menciptakan rantai birokrasi baru.
"Kalau tadinya direksi bank BUMN cukup melapor ke kantor kementerian BUMN,
sekarang dia harus masuk ke direksi holding bank, baru disampaikan ke Menneg BUMN. Dengan birokrasi tambahan, akan menimbulkan biaya tambahan juga. Karena sebagian keuntungan dari bank BUMN itu harus dibayarkan untuk operasional bank holding company-nya," ujarnya.
Dalam holding bank juga akan muncul masalah mengenai kepemilikan negara. Negara kan memiliki bank holding, tetapi negara tidak langsung memiliki BUMN-nya hanya menjadi anak perusahaan..
"Pertanyaan saya, kalau BUMN itu BNI, Mandiri dia adalah anak perusahaan dari sebuah bank holding, aktiva dia itu disebut kekayaan negara atau tidak. Kemudian, kalau dia memiliki piutang, menjadi piutang negara atau tidak. Dia menerbitkan utang, subdebt dan sebagainya, itu menjadi utang negara atau tidak? Selama ini kan tidak konsisten, utang bank BUMN tidak dianggap utang negara, tapi piutang bank BUMN dianggap sebagai piutang negara," paparnya.
Meskipun demikian menurutnya opsi holding bank merupakan opsi yang paling
memungkinkan bagi pemerintah untuk mematuhi aturan kebijakan pemilik tunggal atau Single Presence Policy (SPP).
(ddn/ir)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 11:31 WIB
Lippo Banderol Apartemen St. Moritz Tebaru Rp 2,5 Miliar
-
Kamis, 24/05/2012 11:26 WIB
Banyak Fiktif, Anggaran Perjalanan Dinas Dipangkas Demi Didik PNS
-
Kamis, 24/05/2012 10:59 WIB
Tanri Abeng Si 'Manajer Rp 1 Miliar' Memulai Bisnis dari Jualan Pisang
-
Kamis, 24/05/2012 10:44 WIB
Berjuang di Bisnis PC, HP Terpaksa PHK 25.000 Karyawan
-
Kamis, 24/05/2012 10:15 WIB
Saham Anjlok, Facebook & Morgan Stanley Digugat Investor
-
Kamis, 24/05/2012 10:15 WIB
Saham Anjlok, Facebook & Morgan Stanley Digugat Investor
-
Kamis, 24/05/2012 10:02 WIB
Saham Facebook Naik, Tapi Masih di Bawah Harga IPO
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 09:08 WIB
The Signature Tower Angkat Nama Indonesia di Internasional
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
31 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 10:59 WIB
Tanri Abeng Si 'Manajer Rp 1 Miliar' Memulai Bisnis dari Jualan Pisang
Tanri Abeng mengaku pernah mengalami masa-masa sulit semenjak kecil. Kini ia menjadi pengusaha sukses, yang diawalinya dari jualan pisang ketika kecil.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
