detikfinance

Impor Truk Bekas Masih Dibutuhkan

Suhendra - detikfinance
Selasa, 08/04/2008 07:25 WIB
Impor Truk Bekas Masih Dibutuhkan Truk (Foto:Nissan)
Jakarta -Perusahaan rekondisi truk bekas keluhkan penutupan kran impor truk bekas khusus berbobot 24 ton ke atas. Karena dengan adanya penutupan tersebut para pengusaha tidak mampu memenuhi permintaan kebutuhan truk rekondisi (sudah diperbaiki) yang sangat tinggi. Sedangkan pasokan truk bekas di dalam negeri sangat terbatas.

Larangan impor truk bekas mulai diterapkan sejak tahun 2007, tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 06 Tahun 2006.

Demikian disampaikan oleh Ketua Harian Asosiasi Perusahaan Rekondisi Alat Berat dan Truk Indonesia (Aparati)  M Noor Aman kepada detikFinance, Selasa (7/4/2008).

"Kalau bicara kran impor truk bekas bukan hanya bicara soal kepentingan para pengusaha rekondisi tetapi harus dilihat juga para kontraktor-kontraktor bidang infrastruktur yang masih membutuhkan," ujarnya.

Noor menambahkan bahwa kalangan kontraktor dan pemerintah daerah banyak memesan truk rekondisi, khususnya 24 ton ke atas, untuk proyek-proyek perkebunan, pertambangan, dan konstruksi yang sedang menggeliat. Sedangkan pasokan truk bekas dari dalam negeri yang direkondisi sangat minim atau jauh dari permintaan.

"Dari total kebutuhan truk dalam negeri yang mencapai 10.000 unit per tahun, produk truk baru hanya bisa memenuhi kebutuhan hingga 35% oleh industri dalam negeri," ungkap Noor.

Artinya dengan demikian masih perlu adanya pasokan truk terutama truk bekas, karena dinilai oleh para kontraktor menengah dan skala kecil truk rekondisi bisa memenuhi skala ekonomis dari bisnisnya.

"Perbedaan harga truk bekas yang sudah direkondisi dengan truk baru bisa mencapai 50%, selain itu juga bagi kontraktor yang akan membeli baru harus inden dahulu dengan waktu lama," imbuhnya.

Sebagai gambaran saja harga truk baru jenis 24 ton ke atas berkisar antara Rp 1 miliar hingga Rp 1,5 miliar. Sementara harga truk rekondisi hanya  mencapai  Rp 500 juta saja. Walaupun begitu pemerintah memiliki pandangan lain, bahwa pelarangan
tersebut justru dinilai memiliki dampak positif bagi industri truk dalam negeri.

"Larangan impor truk bekas tersebut, justru produksi dan penjualan di dalam negeri terus meningkat. Ini sinyal positif dan baik untuk peningkatan investasi di industri otomotif," ujar Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen
Perindustrian (Depperin) Budi Darmadi, di gedung Depperin, Jakarta.

"Banyak mengkhawatirkan kalau ini terus dibuka bisa mengganggu produksi truk dalam negeri, padahal menurut saya kalau komposisi truk rekondisi itu 50% dari kebutuhan pun tidak akan mengganggu," timpal Noor.
(hen/ir)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Laut Natuna Akan Dipenuhi dengan Nelayan RI Jumat, 26/08/2016 07:22 WIB
    Wawancara Sekjen KKP
    Laut Natuna Akan Dipenuhi dengan Nelayan RI
    Perairan Natuna menyimpan potensi perikanan yang sangat besar. Kekayaan itu membuat nelayan dari berbagai sering mencuri ikan di wilayah ini. P
  • Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi? Kamis, 24/03/2016 17:19 WIB
    Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi?
    Memilih investasi yang tepat bukan perkara mudah. Berbagai instrumen investasi ditawarkan mulai dari saham, obligasi, reksa dana, deposito, emas, dan lain-lain.
  • Doa Sri Mulyani di Hari Ulang Tahun Jumat, 26/08/2016 18:56 WIB
    Doa Sri Mulyani di Hari Ulang Tahun
    Sri Mulyani genap berusia 54 tahun. Usianya tergolong muda untuk ukuran orang yang berkali-kali menduduki jabatan penting skala nasional dan internasional.


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut