Distribusi Kartu BLT Diawasi Ketat
Jumat, 23/05/2008 17:42 WIB
Pembagian BLT (dok)
Jakarta - Agar tidak diperjualbelikan kepada orang lain, distribusi kartu bantuan langsung tunai (BLT) akan diawasi secara ketat. Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta meminta masing-masing pemerintah kota dan kabupaten serta kejaksaan untuk ikut mengawasi.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Sosial Provinsi DI Yogyakarta, Andung Pribadi Santoso kepada wartawan di kantor Gubernur DIY di Kepatihan Jl Malioboro, Jumat (23/5/2008).
"Ijon itu tidak sesuai prosedur. Tidak boleh itu mas. Meski ndak ada aturan tertulis seperti itu tapi itu tetap tak sesuai prosedur. Itu dilarang dan nanti akan diawasi pihak kejaksaan," kata Andung.
Dia mengatakan hingga saat ini Pemerintah Provinsi DIY masih akan tetap mengacu pada jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) berdasarkan data BPS tahun 2005. Namun diakui selama 3 tahun telah terjadi perubahan data RTS seperti di Kota Yogyakarta. Perubahan bisa disebabkan karena ada warga yang meninggal, lahir dan pindah.
Pada tahap pertama, penyaluran dana BLT tetap akan diberikan sebagaimana data tahun 2005. Apabila ada sisa baru akan diusulkan melalui rembug desa serta verifikasi oleh pemerintah pusat.
"Dana yang akan disalurkan tetap sesuai dengan data BPS 2005 dan sisanya atau mungkin kelebihannya nanti akan dimusyawarahkan di masing-masing kelurahan. Setelah itu diusulkan ke pemerintah pusat," katanya.
Menurut dia, bila di lapangan nanti terjadi kelebihan jumlah RTS sehingga dana BLT tidak mencukupi, Pemprov DIY tidak bisa menyiapkan dana talangan lebih dahulu. Sebab kebijakan penyaluran BLT merupakan kebijakan pusat sedangkan daerah hanya bisa melakukan koordinasi dan monitoring.
"Kita tidak bisa memberikan dana talangan. Masalahnya dana BLT itu kebijakan pusat. Harus lewat persetujuan DPRD dulu," katanya.
Andung menegaskan saat ini yang lebih penting warga miskin atau RTS itu menerima kartu BLT terlebih dulu sambil menunggu ada instruksi dari presiden. Petugas di masing-masing kelurahan masih melakukan validasi data bersama PT Pos Indonesia. "Semua kita awasi agar berjalan lancar dan tak ada penyimpangan," pungkas dia.
(bgs/lih)
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Sosial Provinsi DI Yogyakarta, Andung Pribadi Santoso kepada wartawan di kantor Gubernur DIY di Kepatihan Jl Malioboro, Jumat (23/5/2008).
"Ijon itu tidak sesuai prosedur. Tidak boleh itu mas. Meski ndak ada aturan tertulis seperti itu tapi itu tetap tak sesuai prosedur. Itu dilarang dan nanti akan diawasi pihak kejaksaan," kata Andung.
Dia mengatakan hingga saat ini Pemerintah Provinsi DIY masih akan tetap mengacu pada jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) berdasarkan data BPS tahun 2005. Namun diakui selama 3 tahun telah terjadi perubahan data RTS seperti di Kota Yogyakarta. Perubahan bisa disebabkan karena ada warga yang meninggal, lahir dan pindah.
Pada tahap pertama, penyaluran dana BLT tetap akan diberikan sebagaimana data tahun 2005. Apabila ada sisa baru akan diusulkan melalui rembug desa serta verifikasi oleh pemerintah pusat.
"Dana yang akan disalurkan tetap sesuai dengan data BPS 2005 dan sisanya atau mungkin kelebihannya nanti akan dimusyawarahkan di masing-masing kelurahan. Setelah itu diusulkan ke pemerintah pusat," katanya.
Menurut dia, bila di lapangan nanti terjadi kelebihan jumlah RTS sehingga dana BLT tidak mencukupi, Pemprov DIY tidak bisa menyiapkan dana talangan lebih dahulu. Sebab kebijakan penyaluran BLT merupakan kebijakan pusat sedangkan daerah hanya bisa melakukan koordinasi dan monitoring.
"Kita tidak bisa memberikan dana talangan. Masalahnya dana BLT itu kebijakan pusat. Harus lewat persetujuan DPRD dulu," katanya.
Andung menegaskan saat ini yang lebih penting warga miskin atau RTS itu menerima kartu BLT terlebih dulu sambil menunggu ada instruksi dari presiden. Petugas di masing-masing kelurahan masih melakukan validasi data bersama PT Pos Indonesia. "Semua kita awasi agar berjalan lancar dan tak ada penyimpangan," pungkas dia.
(bgs/lih)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
-
Kamis, 24/05/2012 12:36 WIB
Ekonomi Dunia Suram, RI Waspada Banjir Produk China
-
Kamis, 24/05/2012 12:36 WIB
Jakarta Setiabudi Bagi-bagi Dividen Rp 10 per Lembar
-
Kamis, 24/05/2012 12:21 WIB
Warga Kalimantan Hanya Ingin BBM Subsidi, Pertamax Cs Tak Laku
-
Kamis, 24/05/2012 12:20 WIB
Perlukah Anggota DPR Naik Gaji Tahun Depan?
-
Kamis, 24/05/2012 10:15 WIB
Saham Anjlok, Facebook & Morgan Stanley Digugat Investor
-
Kamis, 24/05/2012 10:02 WIB
Saham Facebook Naik, Tapi Masih di Bawah Harga IPO
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 09:08 WIB
The Signature Tower Angkat Nama Indonesia di Internasional
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
31 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
