detikfinance

Harga Minyak Tinggi, Keamanan APBN Disangsikan

Wahyu Daniel - detikfinance
Jumat, 04/07/2008 08:31 WIB
Kilang Minyak (istimewa)
Jakarta - APBN-P 2008 disangsikan bisa aman dengan kondisi harga minyak yang terus meningkat. Kenaikkan harga minyak akan meningkatkan besaran subsidi BBM yang harus ditanggung pemerintah.

Demikian disampaikan oleh Anggota Komisi XI DPR Dradjad H. Wibowo ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (3/7/2008).

"Selain itu, tingginya harga minyak dunia juga menyebabkan pemerintah menahan sebagian pencairan dana untuk program jangka pendek. Persoalannya adalah menjaga likuiditas, jadi sebagian besar dana ditahan," katanya.

Hal inilah yang menyebabkan Dradjad sangsi APBN-P 2008 akan aman dengan tingginya harga minyak dunia saat ini. Pasalnya, selain membengkaknya subsidi, pembangunan di daerah juga tersendat karena dananya ditahan pemerintah untuk mengamankan APBN.

"Makanya sekarang anggaran surplus karena memang tidak dipakai. Pemerintah sengaja membuat pencairan anggaran seret karena masalah likuiditas," jelasnya.

Selain itu, Dradjad juga mengatakan dengan kondisi likuiditas pemerintah yang dinilai menahan likuiditas anggaran untuk antisipasi lonjakkan subsidi BBM karena kenaikkan harga minyak, mestinya rupiah sudah terkoreksi tajam.

"Jadi kestabilan rupiah itu saat ini karena BI yang berkorban menjaga rupiah dengan biaya moneter yang besar. Apalagi penempatan devisa hasil ekspor pemerintah cenderung meningkat mencapai US$ 2,8 miliar pada Mei 2008," jelasnya.

Kondisi ini dikatakan Dradjad menyebabkan pasokan valas dalam negeri kurang maksimal, sehingga BI harus berkorban menjaga rupiah. "Kalau pemerintah, likuiditasnya sudah lampu kuning. Makanya pemerintah menahan sebagian proyek-proyek dan global bind yang mahal pun ditabrak," ucapnya.

Itu maksudnya, lanjut Dradjad, dengan kondisi likuiditas pemerintah seperti saat ini, mustinya rupiah sudah terkoreksi tajam. Apalagi dana ekspor yg disimpan di luar negeri tinggi.

"Kalau rupiah masih stabil, itu karena BI yang berkorban jaga rupiah dengan biaya moneter yang besar. Padahal BI mustinya dapat keuntungan finansial kalau rupiah terdepresiasi," katanya.



(dnl/ir)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.