detikfinance

Biaya Ekonomi Tinggi

Perusahaan Bangkrut Meningkat

Nurul Qomariyah - detikfinance
Selasa, 08/07/2008 15:21 WIB
//images.detik.com/content/2008/07/08/4/Gedung-dalam.JPG Gedung di Jepang (qom)
Tokyo -Situasi perekonomian dunia sedang sulit. Jumlah perusahaan yang bangkrut semakin banyak, sementara sebagian perusahaan berjuang dengan mengurangi ekspansi dan melakukan efisiensi.

Di Jepang, jumlah perusahaan yang bangkrut melonjak hingga 11,6% selama semester I-2008. Perusahaan-perusahaan yang bangkrut itu terutama yang berkaitan dengan semakin mahalnya harga material.

Total perusahaan yang bangkrut di Jepang selama semester I-2008 mencapai 6.022, sementara jumlah passiva naik 17,4% menjadi 3,019 triliun yen atau sekitar US$ 28 miliar dibandingkan tahun lalu.

Passiva merupakan semua pos pada posisi kredit neraca yang terdiri dari utang, modal saham atau unsur sejenis dan ongkos yang harus dibayar serta pendapatan yang diterima terlebih dahulu.

Khusus selama Juni, jumlah kebangkrutan mencapai 1.065 dengan passiva masing-masing 10 juta yen, yang berarti naik 7,1% dari 994 kasus pada Mei.

Menurut data yang dirilis Teikoku Data Bank, seperti dikutip dari AFP, Selasa (8/7/2008), sektor yang paling tinggi kebangkrutannya adalah konstruksi. Hal itu terjadi karena turunnya order untuk pengerjaan umum dan meningkatnya biaya material.

Jumlah bisnis yang gagal akibat melonjaknya bahan-bahan baku mencapai 54 kasus selama Juni atau naik 40% dibandingkan tahun 2008. Kegagalan bisnis itu diprediksi akan terus berlanjut dengan kecepatan yang lebih tinggi, namun dampaknya kepada perusahaan kecil dan menengah lebih kecil.

"Jepang sejak tahun 2002 sudah berada dalam ekspansi ekonomi terpanjang pascaperang, namun era itu kini sudah berakhir," demikian Teikoku Data Bank.

"Industri konstruksi, peritel kecil diperkirakan menghadapi periode yang sulit karena survei konsumen terbaru menunjukkan bahwa belanja konsumen akan menurun. Sementara permintaan dari negara lain berkurang, yang berarti sektor manufaktur yang keluar dari bisnis akan semakin banyak," demikian laporan tersebut.
(qom/ddn)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!



Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut