Cadangan Listrik PLN Menipis
Senin, 14/07/2008 14:12 WIB
Foto: Nurul Q/detikFinance
Jakarta - Cadangan daya listrik PLN makin menipis. Dari batas cadangan listrik minimal sebesar 30%, pada kenyataannya cadangan yang tersisa hanya tinggal 20%.
Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menegaskan, dengan kondisi seperti ini, satu saja pembangkit andalan PLN terganggu, maka pemadaman listrik tak terhindarkan.
"Cadangannya hanya 20%. Dengan cadangan sebesar itu, kalau ada unit pembangkit besar mengalami gangguan, dikhawatirkan akan terjadi pemadaman," ujarnya di Gedung Departemen ESDM, Jakarta, Senin (14/7/2008).
Kondisi kritis ini dipicu dari dua sisi, yaitu sisi pasokan dan sisi permintaan. Dari sisi pasokan, pembangkit-pembangkit PLN yang sudah menua tak sanggup lagi beroperasi penuh.
"Misalkan pembangkit yang disebut 300 MW, karena pembangkitnya tua, biasanya yang dioperasikan bukan benar-benar 300 MW. Bisa efektifnya hanya 80-90%-nya," katanya.
Ditambah lagi sampai sekarang belum ada tambahan daya listrik yang berarti, sehingga pasokan listrik bisa dibilang stagnan.
Sementara di sisi permintaan, konsumsi pelanggan PLN baik dari rumah tangga maupun industri terus meningkat, bahkan diatas perkiraan PLN. Bayangkan saja, prediksi konsumsi listrik PLN di APBNP 2008 hanya sekitar 1-1,5%, tapi kenyataannya konsumsi listrik mencapai 6%.
Dengan kondisi seperti ini, pasokan listrik yang diam ditempat akhirnya tidak mampu mengejar pertumbuhan listrik yang melaju kencang. Akibatnya, harus ada sebagian pelanggan PLN yang rela tidak kebagian listrik alias pemadaman.
"Cadangan kita sudah tidak mampu lagi menahan beban kalau pembangkit terbesar kita keluar secara tiba-tiba dari sistem. Situasi inilah yang menimbulkan adanya pemadaman mendadak," Dirut PLN Fahmi Mochtar menambahkan.
Menghadapi situasi seperti ini, pemerintah dan PLN kerap mengeluarkan berbagai jurus. Sebut saja pembatasan konsumsi listrik di gedung pemerintahan, tarif non subsidi untuk pelanggan 6.600 VA, pengetatan pemakaian listrik di fasilitas umum seperti lampu jalan dan reklame.
Semua dijalankan, tetapi hasilnya tidak mengigit. Bahkan dari hasil evaluasi PLN, pelanggan 6.600 VA ternyata lebih rela membayar lebih mahal ketimbang harus berhemat.
"Evaluasi kami dalam 2 bulan ini, pelanggan 6.600 VA ternyata tidak sensitif soal harga. Pemakaiannya ternyata tidak turun. Karenanya ada masukan supaya dikenakan tarif non subsidi secara penuh saja," kata Direktur Pembangkit Jawa Bali PLN Murtaqi Syamsuddin, Minggu (13/7/2008).
(lih/qom)
Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menegaskan, dengan kondisi seperti ini, satu saja pembangkit andalan PLN terganggu, maka pemadaman listrik tak terhindarkan.
"Cadangannya hanya 20%. Dengan cadangan sebesar itu, kalau ada unit pembangkit besar mengalami gangguan, dikhawatirkan akan terjadi pemadaman," ujarnya di Gedung Departemen ESDM, Jakarta, Senin (14/7/2008).
Kondisi kritis ini dipicu dari dua sisi, yaitu sisi pasokan dan sisi permintaan. Dari sisi pasokan, pembangkit-pembangkit PLN yang sudah menua tak sanggup lagi beroperasi penuh.
"Misalkan pembangkit yang disebut 300 MW, karena pembangkitnya tua, biasanya yang dioperasikan bukan benar-benar 300 MW. Bisa efektifnya hanya 80-90%-nya," katanya.
Ditambah lagi sampai sekarang belum ada tambahan daya listrik yang berarti, sehingga pasokan listrik bisa dibilang stagnan.
Sementara di sisi permintaan, konsumsi pelanggan PLN baik dari rumah tangga maupun industri terus meningkat, bahkan diatas perkiraan PLN. Bayangkan saja, prediksi konsumsi listrik PLN di APBNP 2008 hanya sekitar 1-1,5%, tapi kenyataannya konsumsi listrik mencapai 6%.
Dengan kondisi seperti ini, pasokan listrik yang diam ditempat akhirnya tidak mampu mengejar pertumbuhan listrik yang melaju kencang. Akibatnya, harus ada sebagian pelanggan PLN yang rela tidak kebagian listrik alias pemadaman.
"Cadangan kita sudah tidak mampu lagi menahan beban kalau pembangkit terbesar kita keluar secara tiba-tiba dari sistem. Situasi inilah yang menimbulkan adanya pemadaman mendadak," Dirut PLN Fahmi Mochtar menambahkan.
Menghadapi situasi seperti ini, pemerintah dan PLN kerap mengeluarkan berbagai jurus. Sebut saja pembatasan konsumsi listrik di gedung pemerintahan, tarif non subsidi untuk pelanggan 6.600 VA, pengetatan pemakaian listrik di fasilitas umum seperti lampu jalan dan reklame.
Semua dijalankan, tetapi hasilnya tidak mengigit. Bahkan dari hasil evaluasi PLN, pelanggan 6.600 VA ternyata lebih rela membayar lebih mahal ketimbang harus berhemat.
"Evaluasi kami dalam 2 bulan ini, pelanggan 6.600 VA ternyata tidak sensitif soal harga. Pemakaiannya ternyata tidak turun. Karenanya ada masukan supaya dikenakan tarif non subsidi secara penuh saja," kata Direktur Pembangkit Jawa Bali PLN Murtaqi Syamsuddin, Minggu (13/7/2008).
(lih/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 14:38 WIB
Rugi Rp 330 Miliar Gara-gara Saham Facebook, Broker Minta Ganti Rugi
-
Kamis, 24/05/2012 14:27 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Hanya Ditemui oleh 4 Anggota DPR
-
Kamis, 24/05/2012 14:26 WIB
Susah Bebaskan Lahan, Investor Tol Kirim Surat ke SBY
-
Kamis, 24/05/2012 13:50 WIB
Buka Kasino, Taipan Hong Kong Diduga Suap Pejabat Macau
-
Kamis, 24/05/2012 13:35 WIB
Wah! DKI Jakarta Masih Terboros Konsumsi Bensin Premium
-
Kamis, 24/05/2012 13:35 WIB
Wah! DKI Jakarta Masih Terboros Konsumsi Bensin Premium
-
Kamis, 24/05/2012 13:50 WIB
Buka Kasino, Taipan Hong Kong Diduga Suap Pejabat Macau
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
-
Kamis, 24/05/2012 12:36 WIB
Ekonomi Dunia Suram, RI Waspada Banjir Produk China
-
Kamis, 24/05/2012 11:50 WIB
PNS Indonesia Kalah dengan Singapura karena Jarang Dididik
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
