detikfinance

Konsumsi Premium Terus Meningkat

Wahyu Daniel - detikfinance
Selasa, 12/08/2008 14:18 WIB
(Foto: Wahyu-detikFinance)
Jakarta - Pemerintah cemas dengan tren konsumsi premium yang terus naik. Target untuk menekan konsumsi hingga akhir tahun sebesar 38,9 juta kiloliter bakal sulit tercapai.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu mengatakan penurunan harga minyak saat ini di level US$ 114 per barel memang bagus, tapi sayangnya ada ancaman kenaikan konsumsi premium tersebut.

"Konsumsi ternyata terus meningkat ini yang kita khawatirkan, angkanya berapa nanti saya umumkan saya lupa angkanya," kata Anggito di gedung Depkeu Juanda, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (12/8/2008).

Sebenarnya, ungkap Anggito jika pemerintah bisa menekan konsumsi hingga 38,9 juta kiloliter akan memberikan saving yang sangat signifikan terhadap APBN. "Tapi karena ada tambahan konsumsi ya kita lihat dulu deh," cetusnya.

Anggito mengaku belum ada jaminan apakah penurunan harga minyak saat ini akan berlanjut lama hingga 2009. Meskipun di tahun 2009 ada prediksi harga minyak akan lebih baik dibanding 2008.

Menurutnya, harga minyak dunia akan tetap bergerak sesuai dengan supply dan demand. "Jadi semoga harga masih seperti yang kita asumsikan dalam APBN US$ 130 per barel," katanya.

Sementara untuk menekan tingginya konsumsi pemakaian bahan bakar subsidi, pemerintah juga akan mempercepat konversi minyak tanah ke elpiji. Karena program tersebut saat ini baru terealisasi 30% dari target 1 juta kiloliter.

"Kalau bisa 1 juta kiloliter itu bisa menekan subsidi, karena yang paling besar itu anggaran subsidinya ya minyak tanah," jelas Anggito.

Untuk mempercepat program konversi itu, menurut Anggito maka penyediaan tabung dan refill harus cepat sehingga Pertamina bisa dengan cepat dan mudah melakukan sosialisasi. "Sehingga rencana 1 juta kiloliter tercapai karena cuma itu cara yang paling terpercaya untuk menekan konsumsi," ujarnya.

Mengenai asumsi pertumbuhan 2009 yang dinilai terlalu optimistik di tengah kondisi pasar global yang labil, menurut Anggito karena memang pemerintah punya alasan yang kuat.

"Dalam 1-2 hari ini BPS akan mengumumkan pertumbuhan kuartal kedua, nanti Anda lihat sendirilah itu akan cukup meyakinkan," katanya.

(ir/qom)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.