Redemption Reksa Dana Masih Normal
Kamis, 11/09/2008 14:16 WIB
Abiprayadi Riyanto (Alih)
Jakarta - Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) menilai kinerja reksa dana kini masih normal ditengah kondisi pasar finansial yang hancur-hancuran. Tingkat redemption dibanding dengan subscription masih dalam kisaran normal.
"Kinerja reksa dana masih normal kok. Tingkat redemption masih berimbang dengan subscription. Kalau NAB menurun, itu karena portofolio saham sedang anjlok. Tapi tingkat redemption masih dalam batas normal," ujar Ketua APRDI, Abiprayadi Riyanto saat dihubungi detikFinance, Kamis (11/9/2008).
Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), mulai 1 hingga 10 September 2008, tingkat redemption seluruh reksa dana sebesar Rp 2,365 triliun, sedangkan tingkat subscription sebesar Rp 1,838 triliun. Artinya tingkat redemption bersih selama 10 hari pertama September 2008 sebesar Rp 527,036 miliar.
"Angka itu masih normal, karena selisihnya masih berimbang. Jadi masih dalam kisaran normal," ujar Abi.
Pendapat Abi diperkuat dengan data Bapepam, bahwa sepanjang Januari-September 2008, tingkat subscription masih lebih besar ketimbang tingkat redemption.
Total tingkat redemption periode Januari-September 2008 sebesar Rp 63,710 triliun, sedangkan tingkat subscription sebesar Rp 74,187 triliun, atau masih lebih besar tingkat subcsription bersih sebesar Rp 10,477 triliun.
"Kinerja reksa dana saham memang anjlok karena portofolio IHSG anjlok sekitar 27% dibanding posisi awal tahun ini. Pada awal tahun NAB reksa dana saham sekitar Rp 40 triliun. Artinya posisi NAB reksa dana saham saat ini ikut jatuh sekitar 27%," imbuh Abi.
Dengan asumsi tersebut, posisi NAB reksa dana saham saat ini sekitar Rp 29,2 triliun. Menurut Abi, penurunan NAB reksa dana saham memang mempengaruhi kinerja seluruh reksa dana.
"Namun secara umum belum kelihatan ada redemption besar-besaran. Investor kita udah pintar-pintar kok, mana mau mereka redemption sekarang, bisa rugi besar," ujar Abi.
Sementara berdasarkan data Bapepam, NAB seluruh reksa dana per 10 September 2008 sebesar Rp 85,449 triliun, anjlok 9,05% dibanding posisi awal tahun sebesar Rp 93,956 triliun.
Berdasarkan jumlah unit, reksa dana per 10 September 2008 sebesar Rp 63,166 triliun, naik 15,16% dari posisi awal tahun sebesar Rp 54,846 triliun.
(dro/qom)
"Kinerja reksa dana masih normal kok. Tingkat redemption masih berimbang dengan subscription. Kalau NAB menurun, itu karena portofolio saham sedang anjlok. Tapi tingkat redemption masih dalam batas normal," ujar Ketua APRDI, Abiprayadi Riyanto saat dihubungi detikFinance, Kamis (11/9/2008).
Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), mulai 1 hingga 10 September 2008, tingkat redemption seluruh reksa dana sebesar Rp 2,365 triliun, sedangkan tingkat subscription sebesar Rp 1,838 triliun. Artinya tingkat redemption bersih selama 10 hari pertama September 2008 sebesar Rp 527,036 miliar.
"Angka itu masih normal, karena selisihnya masih berimbang. Jadi masih dalam kisaran normal," ujar Abi.
Pendapat Abi diperkuat dengan data Bapepam, bahwa sepanjang Januari-September 2008, tingkat subscription masih lebih besar ketimbang tingkat redemption.
Total tingkat redemption periode Januari-September 2008 sebesar Rp 63,710 triliun, sedangkan tingkat subscription sebesar Rp 74,187 triliun, atau masih lebih besar tingkat subcsription bersih sebesar Rp 10,477 triliun.
"Kinerja reksa dana saham memang anjlok karena portofolio IHSG anjlok sekitar 27% dibanding posisi awal tahun ini. Pada awal tahun NAB reksa dana saham sekitar Rp 40 triliun. Artinya posisi NAB reksa dana saham saat ini ikut jatuh sekitar 27%," imbuh Abi.
Dengan asumsi tersebut, posisi NAB reksa dana saham saat ini sekitar Rp 29,2 triliun. Menurut Abi, penurunan NAB reksa dana saham memang mempengaruhi kinerja seluruh reksa dana.
"Namun secara umum belum kelihatan ada redemption besar-besaran. Investor kita udah pintar-pintar kok, mana mau mereka redemption sekarang, bisa rugi besar," ujar Abi.
Sementara berdasarkan data Bapepam, NAB seluruh reksa dana per 10 September 2008 sebesar Rp 85,449 triliun, anjlok 9,05% dibanding posisi awal tahun sebesar Rp 93,956 triliun.
Berdasarkan jumlah unit, reksa dana per 10 September 2008 sebesar Rp 63,166 triliun, naik 15,16% dari posisi awal tahun sebesar Rp 54,846 triliun.
(dro/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 16:15 WIB
Tolak Peraturan Jero Wacik, Pekerja Tambang Curhat Soal Perceraian
-
Kamis, 24/05/2012 16:10 WIB
Investor Buru Saham Jelang Penutupan, IHSG Naik Tipis
-
Kamis, 24/05/2012 15:58 WIB
Akhirnya, Gas dari Papua Bisa Dinikmati Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 15:44 WIB
Ini Isi Surat Lengkap Investor Tol ke SBY
-
Kamis, 24/05/2012 15:38 WIB
Solusi Tunas Pratama Rights Issue Rp 695 Miliar
-
Kamis, 24/05/2012 14:38 WIB
Rugi Rp 330 Miliar Gara-gara Saham Facebook, Broker Minta Ganti Rugi
-
Kamis, 24/05/2012 15:35 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Aturan Jero Wacik Timbulkan Ancaman PHK
-
Kamis, 24/05/2012 14:27 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Hanya Ditemui oleh 4 Anggota DPR
-
Kamis, 24/05/2012 15:07 WIB
Dibela Dahlan Iskan, Antam Makin Pede Rebut Lahan Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 15:03 WIB
Ekspor Tambang Mentah Dipajaki, Negara Untung Rp 14 Triliun/Tahun
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
