Penghematan PLN Tidak Pengaruhi Angka Subsidi Listrik
Senin, 15/09/2008 15:03 WIB
(Foto: Alih-detikFinance)
Jakarta - Meski ada peluang menghemat subsidi listrik sebesar Rp 5 triliun, pemerintah tetap mengusulkan angka subsidi yang sama yaitu sebesar Rp 60,43 triliun.
Namun dengan angka subsidi yang sama, PLN sanggup melayani pertumbuhan listrik yang lebih besar dan tidak perlu ada carry over subsidi ke 2010.
Dirut PLN Fahmi Mochtar menjelaskan, dengan subsidi tetap sebesar Rp 60,43 triliun maka PLN bisa melayani pertumbuhan listrik hingga 6,99% dari sebelumnya 5,63%. Carry over subsidi sebesar Rp 3,34 triliun ke 2010 pun tidak diperlukan lagi.
"Angka nota keuangan menggunakan asumsi pertumbuhan 5,6%. Tapi dengan realisasi 2008 angka tersebut memang lebih rendah. Karenanya kami mengusulkan selisih dari optimalisasi gas untuk menambah pertumbuhan menjadi 6,99%," ujarnya dalam raker Menteri ESDM dengan Komisi VII di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (15/9/2008).
Seperti diketahui, subsidi listrik untuk RAPBN 2009 memang berpeluang untuk dihemat Rp 5 triliun dari optimalisasi gas. Dua pembangkit yang diandalkan adalah PLTGU Muara Tawar dan PLTGU Tanjung Priok.
Secara rinci, kebutuhan subsidi berjalan 2009 yang diajukan sebesar Rp 64,46 triliun. Dengan penghematan Rp 5 triliun maka yang dibutuhkan tinggal menjadi Rp 59,13 triliun. Ditambah kekurangan pembayaran subsidi 2007 sebesar Rp 5,48 triliun maka totalnya menjadi Rp 64,61 triliun.
Pada pengajuan sebelumnya, pemerintah mengajukan carry over sebesar Rp 3,34 triliun ke 2010. Namun kemudian kali ini carry over tersebut diusulkan tidak perlu lagi. Sehingga subsidi tetap sebesar Rp 64,61 triliun.
"Subsidi kami usulkan tetap Rp 60,43 triliun dengan optimalisasi gas yang bisa dilakukan sehingga volume penjualan listrik bisa naik dengan tidak ada carry over 2010," ujar Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro.
Subsidi sebesar Rp 64,61 triliun ini masih bisa ditekan dengan program penghematan sebesar Rp 6,17 triliun sehingga sisanya tinggal Rp 58,44 triliun.
Jadi jika pertumbuhan konsumsi listrik tidak naik atau tetap sebesar 5,63% dan carry over tetap tidak dilakukan, maka subsidi yang dibutuhkan sebenarnya hanya Rp 58,44 triliun.
(lih/ir)
Namun dengan angka subsidi yang sama, PLN sanggup melayani pertumbuhan listrik yang lebih besar dan tidak perlu ada carry over subsidi ke 2010.
Dirut PLN Fahmi Mochtar menjelaskan, dengan subsidi tetap sebesar Rp 60,43 triliun maka PLN bisa melayani pertumbuhan listrik hingga 6,99% dari sebelumnya 5,63%. Carry over subsidi sebesar Rp 3,34 triliun ke 2010 pun tidak diperlukan lagi.
"Angka nota keuangan menggunakan asumsi pertumbuhan 5,6%. Tapi dengan realisasi 2008 angka tersebut memang lebih rendah. Karenanya kami mengusulkan selisih dari optimalisasi gas untuk menambah pertumbuhan menjadi 6,99%," ujarnya dalam raker Menteri ESDM dengan Komisi VII di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (15/9/2008).
Seperti diketahui, subsidi listrik untuk RAPBN 2009 memang berpeluang untuk dihemat Rp 5 triliun dari optimalisasi gas. Dua pembangkit yang diandalkan adalah PLTGU Muara Tawar dan PLTGU Tanjung Priok.
Secara rinci, kebutuhan subsidi berjalan 2009 yang diajukan sebesar Rp 64,46 triliun. Dengan penghematan Rp 5 triliun maka yang dibutuhkan tinggal menjadi Rp 59,13 triliun. Ditambah kekurangan pembayaran subsidi 2007 sebesar Rp 5,48 triliun maka totalnya menjadi Rp 64,61 triliun.
Pada pengajuan sebelumnya, pemerintah mengajukan carry over sebesar Rp 3,34 triliun ke 2010. Namun kemudian kali ini carry over tersebut diusulkan tidak perlu lagi. Sehingga subsidi tetap sebesar Rp 64,61 triliun.
"Subsidi kami usulkan tetap Rp 60,43 triliun dengan optimalisasi gas yang bisa dilakukan sehingga volume penjualan listrik bisa naik dengan tidak ada carry over 2010," ujar Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro.
Subsidi sebesar Rp 64,61 triliun ini masih bisa ditekan dengan program penghematan sebesar Rp 6,17 triliun sehingga sisanya tinggal Rp 58,44 triliun.
Jadi jika pertumbuhan konsumsi listrik tidak naik atau tetap sebesar 5,63% dan carry over tetap tidak dilakukan, maka subsidi yang dibutuhkan sebenarnya hanya Rp 58,44 triliun.
(lih/ir)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 16:15 WIB
Tolak Peraturan Jero Wacik, Pekerja Tambang Curhat Soal Perceraian
-
Kamis, 24/05/2012 16:10 WIB
Investor Buru Saham Jelang Penutupan, IHSG Naik Tipis
-
Kamis, 24/05/2012 15:58 WIB
Akhirnya, Gas dari Papua Bisa Dinikmati Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 15:44 WIB
Ini Isi Surat Lengkap Investor Tol ke SBY
-
Kamis, 24/05/2012 15:38 WIB
Solusi Tunas Pratama Rights Issue Rp 695 Miliar
-
Kamis, 24/05/2012 14:38 WIB
Rugi Rp 330 Miliar Gara-gara Saham Facebook, Broker Minta Ganti Rugi
-
Kamis, 24/05/2012 15:35 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Aturan Jero Wacik Timbulkan Ancaman PHK
-
Kamis, 24/05/2012 14:27 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Hanya Ditemui oleh 4 Anggota DPR
-
Kamis, 24/05/2012 15:07 WIB
Dibela Dahlan Iskan, Antam Makin Pede Rebut Lahan Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 15:03 WIB
Ekspor Tambang Mentah Dipajaki, Negara Untung Rp 14 Triliun/Tahun
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
