detikfinance

BI Waspadai Peredaran Uang Palsu Usai Lebaran

Suhendra - detikfinance
Kamis, 18/09/2008 08:27 WIB
Foto: Dok detikcom
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mewaspadai maraknya peredaran uang palsu pascaperayaan lebaran. Tingginya arus uang yang mengalir dari masyarakat ke perbankan menjadi celah masuknya uang palsu yang beredar.

Namun BI juga menggarisbawahi, peredaran uang palsu memasuki bulan puasa dan sebelum lebaran cenderung tidak mengkhawatirkan karena yang terjadi adalah arus uang keluar, dan setelah lebaran baru akan terjadi aliran uang masuk.

"Khusus untuk lebaran ini outflow, jadi tidak ada uang palsu, nantinya setelah lebaran akan ada inflow maka kita akan bekerja keras untuk  memeriksa uang  yang masuk itu asli atau palsu kita teliti benar," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Rochadi dalam acara konferensi pers di gedung BI Jl MH Thamrin, Jakarta, Rabu (17/9/2008).

Selama ini, menurut Budi penemuan  uang palsu lebih banyak terjadi di bank-bank dan mulai marak setelah hajatan besar hari raya.

Imbauan Menggunakan Jasa Perbankan


Untuk memperlancar arus uang mendekati lebaran dan bulan puasa, BI mengimbau agar masyarakat sebaiknya menggunakan jasa-jasa perbankan dalam bertransaksi tujuannya untuk menekan distribusi uang secara fisik.

"Imbauan saya agar masyarakat untuk memakai jasa perbankan, ini akan mengurangi lalu lintas uang. Sehingga peredaran uang secara fisik dapat dikurangi, sehingga konsumen lebih aman," pesannya.

Menurutnya  fasilitas perbankan yang bisa dipakai oleh masyarakat antara lain adalah kartu kredit, dengan fasilitas ini menurutnya dapat membantu mengurangi transaksi uang yang beredar secara fisik di masyarakat.
 
"Imbauan kita masyarakat harus menggunakan kartu kredit disamping membayar tunai," serunya.

Dikatakannya transaksi kartu kredit setiap tahunnya selalu naik, meskipun permintaan  masyarakat yang menggunakan fasilitas ini terbilang masih rendah.

Misalnya pada transaksi sebelum dan sesudah lebaran tahun 2007 lalu pada September  mencapai Rp 6,1 triliun, Oktober Rp 6,7 triliun atau  naik 0,6% sedangkan pada bulan
November hanya Rp  6,66 triliun.

"Tahuan 2008 terjadi kenaikan yang cukup besar untuk penggunaan  bulan 7 (Juli) Rp 9,7 triliun," jelasnya.

Ia juga menepis anggapan kalau NPL atau kredit macet kartu kredit akan menanjak setelah lebaran, karena tentunya hal ini sudah diantisipasi oleh pengeluar kartu kredit.

"NPL kartu kredit sudah diperhitungkan oleh pengeluar kartu kredit, kalau tidak membayar maka bunganya tinggi sekali 3%. Jadi masalah itu sudah diperhitungkan oleh mereka berapa pun besarnya," jelasnya.

Menurutnya NPL kartu kredit sekarang ini hanya mencapai 10,3%, atau  menurun dari beberapa  bulan sebelum yaitu 11,8%, 11,9% sampai bahkan sampai 12%.

"November 2007 lalu 12,4%, Oktober 12,2%, September 12,2%, Desember 11,8%. Jadi angka 11% sampai 12% merupakan angka yang wajar," ucapnya.

(hen/qom)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.