Manajemen Krisis Bisa Cegah Dampak Gejolak Finansial AS
Minggu, 21/09/2008 12:42 WIB
dok Detikcom
Jakarta - Kamar Dagang Indonesia mendesak pemerintah untuk segera membentuk Protokol Penanggulangan Krisis (PPK) atau Crisis Management Protocol (CMP). Langkah ini mendesak untuk menghalau dampak krisis keuangan yang tengah terjadi di AS sehingga krisis 1998 tak perlu terulang lagi.
Demikian disampaikan Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo dalam pesan singkat yang diterima detikFinance, Minggu (21/9/2008).
"Presiden harus segera mengambil langkah-langkah taktis antisipatif, sebagai bentuk pertahanan ekonomi negara. Dalam situasi seperti sekarang, idealnya kita sudah harus
memiliki crisis management protocol (CMP)," ujarnya.
Namun Bambang mengingatkan, PPK tak hanya harus segera dibentuk, tapi juga harus
diberi kewenangan karena PPK tidak bisa bekerja jika tak ada payung hukumnya.
Menurut Bambang, seharusnya Indonesia bisa belajar dari krisis moneter pada 1998 yang mematikan sektor perbankan. Maka kini, untuk menghadapi krisis finansial di AS pemerintah harus melindungi sistem perbankan dalam negeri.
"Maka dengan begitu publik menjadi yakin bahwa dana mereka di bank aman. Artinya, ini juga mencegah terjadinya rush," sambungnya.
Di sisi lain, pemerintah dan otoritas moneter juga diminta tetap menjaga kredibiitas. Salah satu caranya dengan menyebarkan infromasi kepada masyarakat mengenai aspek ketahanan negara.
"Sebarluaskan informasi tersebut secara intensif. Misalnya, data tentang cadangan devisa negara serta kemampaun perbankan melayani penarikan dana masyarakat. Langkah mengerem laju pertumbuhan kredit sudah tepat karena likuiditas bank perlu dijaga. Usai Lebaran, pengetatan likuiditas di pasar dimulai lagi," tambahnya.
Ia juga menambahkan, BI jangan terlalu gegabah dalam merespons gejolak di pasar uang dalam negeri. Kalau hot money bergerak keluar (capital outflow), tidak seharusnya selalu direspons dengan intervensi melindungi rupiah. Baginya intervensi memang diperlukan, tapi harus terukur agar tidak menguras cadangan devisa.
"Tak ada salahnya jika rupiah menemukan keseimbangan baru di tengah ketidakpastian global sekarang ini," pungkasnya.
(lih/lih)
Demikian disampaikan Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo dalam pesan singkat yang diterima detikFinance, Minggu (21/9/2008).
"Presiden harus segera mengambil langkah-langkah taktis antisipatif, sebagai bentuk pertahanan ekonomi negara. Dalam situasi seperti sekarang, idealnya kita sudah harus
memiliki crisis management protocol (CMP)," ujarnya.
Namun Bambang mengingatkan, PPK tak hanya harus segera dibentuk, tapi juga harus
diberi kewenangan karena PPK tidak bisa bekerja jika tak ada payung hukumnya.
Menurut Bambang, seharusnya Indonesia bisa belajar dari krisis moneter pada 1998 yang mematikan sektor perbankan. Maka kini, untuk menghadapi krisis finansial di AS pemerintah harus melindungi sistem perbankan dalam negeri.
"Maka dengan begitu publik menjadi yakin bahwa dana mereka di bank aman. Artinya, ini juga mencegah terjadinya rush," sambungnya.
Di sisi lain, pemerintah dan otoritas moneter juga diminta tetap menjaga kredibiitas. Salah satu caranya dengan menyebarkan infromasi kepada masyarakat mengenai aspek ketahanan negara.
"Sebarluaskan informasi tersebut secara intensif. Misalnya, data tentang cadangan devisa negara serta kemampaun perbankan melayani penarikan dana masyarakat. Langkah mengerem laju pertumbuhan kredit sudah tepat karena likuiditas bank perlu dijaga. Usai Lebaran, pengetatan likuiditas di pasar dimulai lagi," tambahnya.
Ia juga menambahkan, BI jangan terlalu gegabah dalam merespons gejolak di pasar uang dalam negeri. Kalau hot money bergerak keluar (capital outflow), tidak seharusnya selalu direspons dengan intervensi melindungi rupiah. Baginya intervensi memang diperlukan, tapi harus terukur agar tidak menguras cadangan devisa.
"Tak ada salahnya jika rupiah menemukan keseimbangan baru di tengah ketidakpastian global sekarang ini," pungkasnya.
(lih/lih)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 16:15 WIB
Tolak Peraturan Jero Wacik, Pekerja Tambang Curhat Soal Perceraian
-
Kamis, 24/05/2012 16:10 WIB
Investor Buru Saham Jelang Penutupan, IHSG Naik Tipis
-
Kamis, 24/05/2012 15:58 WIB
Akhirnya, Gas dari Papua Bisa Dinikmati Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 15:44 WIB
Ini Isi Surat Lengkap Investor Tol ke SBY
-
Kamis, 24/05/2012 15:38 WIB
Solusi Tunas Pratama Rights Issue Rp 695 Miliar
-
Kamis, 24/05/2012 15:35 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Aturan Jero Wacik Timbulkan Ancaman PHK
-
Kamis, 24/05/2012 14:38 WIB
Rugi Rp 330 Miliar Gara-gara Saham Facebook, Broker Minta Ganti Rugi
-
Kamis, 24/05/2012 15:58 WIB
Akhirnya, Gas dari Papua Bisa Dinikmati Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 14:27 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Hanya Ditemui oleh 4 Anggota DPR
-
Kamis, 24/05/2012 15:07 WIB
Dibela Dahlan Iskan, Antam Makin Pede Rebut Lahan Tambang
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
