Atasi Krisis, RI Tak Butuh UU
Selasa, 23/09/2008 14:56 WIB
Foto: Situs Harry Azhar
Jakarta - Untuk mengatasi krisis yang mungkin terjadi, pemerintah tidak perlu mengeluarkan undang-undang mengenai jaring keamanan sektor keuangan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Panitia Anggaran yang juga anggota Komisi XI DPR Harry Azhar Azis di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (23/9/2008).
"Harusnya model ad hoc saja, karena krisis tidak terjadi tiap hari. Tidak perlu UU, seperti AS saja, butuh bail out, Presiden datang ke Kongres AS, butuh US$ 700 miliar, meski kalkulasi di atas US$ 1.000 miliar," ujarnya.
Dengan demikian langkah itu akan jauh lebih hati-hati dan jauh dari moral hazard. "Tidak perlu diberikan kewenangan bagi Menkeu atau Gubernur untuk mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya," ujarnya.
Menurut Harry, jangan sampai moral hazard yang terjadi saat penanganan krisis di tahun 1997-1998 terulang. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang tidak terkontrol membuat penanganan krisis menjadi semakin tak terkendali.
"1998 kan gitu, diberikan Rp 100 triliun, boleh nambah-nambah sampai Rp 700 triliun, ketika diberikan ada moral hazard, bankir ambil kesempatan itu dengan mengaku bangkrut, sehingga bisa mendapat bantuan, terus begitu jadi bola salju. Kalau tidak ada kepastian, kasus BLBI bisa lebih dahsyat karena dilindungi UU," ujarnya.
(lih/ddn)
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Panitia Anggaran yang juga anggota Komisi XI DPR Harry Azhar Azis di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (23/9/2008).
"Harusnya model ad hoc saja, karena krisis tidak terjadi tiap hari. Tidak perlu UU, seperti AS saja, butuh bail out, Presiden datang ke Kongres AS, butuh US$ 700 miliar, meski kalkulasi di atas US$ 1.000 miliar," ujarnya.
Dengan demikian langkah itu akan jauh lebih hati-hati dan jauh dari moral hazard. "Tidak perlu diberikan kewenangan bagi Menkeu atau Gubernur untuk mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya," ujarnya.
Menurut Harry, jangan sampai moral hazard yang terjadi saat penanganan krisis di tahun 1997-1998 terulang. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang tidak terkontrol membuat penanganan krisis menjadi semakin tak terkendali.
"1998 kan gitu, diberikan Rp 100 triliun, boleh nambah-nambah sampai Rp 700 triliun, ketika diberikan ada moral hazard, bankir ambil kesempatan itu dengan mengaku bangkrut, sehingga bisa mendapat bantuan, terus begitu jadi bola salju. Kalau tidak ada kepastian, kasus BLBI bisa lebih dahsyat karena dilindungi UU," ujarnya.
(lih/ddn)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 16:15 WIB
Tolak Peraturan Jero Wacik, Pekerja Tambang Curhat Soal Perceraian
-
Kamis, 24/05/2012 16:10 WIB
Investor Buru Saham Jelang Penutupan, IHSG Naik Tipis
-
Kamis, 24/05/2012 15:58 WIB
Akhirnya, Gas dari Papua Bisa Dinikmati Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 15:44 WIB
Ini Isi Surat Lengkap Investor Tol ke SBY
-
Kamis, 24/05/2012 15:38 WIB
Solusi Tunas Pratama Rights Issue Rp 695 Miliar
-
Kamis, 24/05/2012 15:35 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Aturan Jero Wacik Timbulkan Ancaman PHK
-
Kamis, 24/05/2012 14:38 WIB
Rugi Rp 330 Miliar Gara-gara Saham Facebook, Broker Minta Ganti Rugi
-
Kamis, 24/05/2012 15:44 WIB
Ini Isi Surat Lengkap Investor Tol ke SBY
-
Kamis, 24/05/2012 15:58 WIB
Akhirnya, Gas dari Papua Bisa Dinikmati Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 14:27 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Hanya Ditemui oleh 4 Anggota DPR
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
