BEI Amati Short Selling di China
Senin, 06/10/2008 17:28 WIB
(Foto: Indro-detikFinance)
Jakarta - Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencermati perdagangan saham di China, terkait aturan short selling. Setelah sejumlah negara, termasuk AS melakukan larangan terhadap short selling, China justru melegalkan kegiatan perdagangan tersebut.
Dengan melakukan perbandingan tersebut, BEI akan tahu pengaruh dari short selling terhadap perdagangan saham secara keseluruhan.
"Semua bursa kan melarang short selling, kecuali bursa China yang hari ini melakukan short selling. Kita akan lihat apakah mereka akan sukses," ujar Direktur Utama BEI, Erry Firmansyah, di kantornya, SCBD, Jakarta, Senin (6/10/2008).
Sampai saat ini, BEI memang belum memberikan ketegasan terhadap aturan tersebut. Dalam pandangan BEI, short-selling masih berada di garis abu-abu. Sebab, perdagangan ini dianggap merugikan saat indeks mengalami kejatuhan. Sementara saat kondisi normal, short selling justru menambah likuiditas dalam perdagangan.
"Secara aturan short selling itukan tidak boleh. Kalau mau menjual harus punya saham, kalau beli harus punya uang. Memang ada fasilitas short selling dan kita buat list-nya. Tapi, bukan naked short selling," terangnya.
Naked short selling adalah, perdagangan yang sama sekali tidak memiliki saham atau pun uang. Sehingga perdagangan seperti ini, diperkirakan akan semakin meruntuhkan indeks yang tengah anjlok. Sementara untuk short selling yang menggunakan sistim perjanjian tidak dilarang. Selama ini, BEI menyediakan list saham-saham tersebut.
Namun, karena kondisi yang tidak menentu saat ini, BEI tengah berupaya menghilangkan seluruh praktik short selling, apapun itu. Upaya yang dilakukan adalah dengan menghapus menghapus list dari seluruh saham short selling, termasuk yang menggunakan perjanjian. Sehingga diharapkan, praktik naked short selling juga ikut hilang.
"Sekarang list itu kita hapuskan dengan harapan tidak aksi short selling baik yang naked maupun dengan perjanjian. Jadi sementara kita hilangkan," ujarnya.
Penghilangan sementara list short selling akan dilakukan selama bulan Oktober ini. Setelah itu, BEI akan melihat lagi kondisi perdagangan pada bulan selanjutnya.
"Kita akan lihat. cuma kita ke luarkan tiap bulan. Untuk Oktober kita tidak buat listnya. Nanti kita lihat lagi di bulan November," terangnya.
Direktur Pencatatan BEI, Eddy Sugito juga melihat short selling sebagai pedang bermata dua. Dalam kondisi normal apalagi bullish, banyak orang dipasar berpikirakan bahwa harga akan naik terus dan ada sebagian investor yang berpikir koreksi. Sehingga short selling justru menambah likuiditas perdagangan yang terjadi.
"Dalam tiga sampai enam bulan ke depan. Mereka melakukan short selling dengan harapan 3-6 bulan ke depan mreka membeli lagi. Itu kan sesuatu yang wajar. Persepsi yang berbeda-beda ini kan yang dibutuhkan pasar sehingga pasar semakin marak," terang Eddy.
Tapi dalam kondisi anomali seperti sekarang ini, yang terjadi adalah indeks yang sudah jatuh semakin terpuruk.
Untuk itu, Eddy akan melakukan pengawasan lebih seksama lagi mengenai praktik short selling. Pihaknya akan melakukan kordinasi dengan sejumlah pihak yang terlibat di perdagangan, sehingga bisa diketahui mana yang melakukan praktik short selling.
"Saya kira kita akan berkoordinasi, ini kan bulanan. Mudah-mudahan dalam satu bulan, pasar sudah mulai baik. Artinya, kan sudah ada jalan ke luar," jelasnya.
(dro/ir)
Dengan melakukan perbandingan tersebut, BEI akan tahu pengaruh dari short selling terhadap perdagangan saham secara keseluruhan.
"Semua bursa kan melarang short selling, kecuali bursa China yang hari ini melakukan short selling. Kita akan lihat apakah mereka akan sukses," ujar Direktur Utama BEI, Erry Firmansyah, di kantornya, SCBD, Jakarta, Senin (6/10/2008).
Sampai saat ini, BEI memang belum memberikan ketegasan terhadap aturan tersebut. Dalam pandangan BEI, short-selling masih berada di garis abu-abu. Sebab, perdagangan ini dianggap merugikan saat indeks mengalami kejatuhan. Sementara saat kondisi normal, short selling justru menambah likuiditas dalam perdagangan.
"Secara aturan short selling itukan tidak boleh. Kalau mau menjual harus punya saham, kalau beli harus punya uang. Memang ada fasilitas short selling dan kita buat list-nya. Tapi, bukan naked short selling," terangnya.
Naked short selling adalah, perdagangan yang sama sekali tidak memiliki saham atau pun uang. Sehingga perdagangan seperti ini, diperkirakan akan semakin meruntuhkan indeks yang tengah anjlok. Sementara untuk short selling yang menggunakan sistim perjanjian tidak dilarang. Selama ini, BEI menyediakan list saham-saham tersebut.
Namun, karena kondisi yang tidak menentu saat ini, BEI tengah berupaya menghilangkan seluruh praktik short selling, apapun itu. Upaya yang dilakukan adalah dengan menghapus menghapus list dari seluruh saham short selling, termasuk yang menggunakan perjanjian. Sehingga diharapkan, praktik naked short selling juga ikut hilang.
"Sekarang list itu kita hapuskan dengan harapan tidak aksi short selling baik yang naked maupun dengan perjanjian. Jadi sementara kita hilangkan," ujarnya.
Penghilangan sementara list short selling akan dilakukan selama bulan Oktober ini. Setelah itu, BEI akan melihat lagi kondisi perdagangan pada bulan selanjutnya.
"Kita akan lihat. cuma kita ke luarkan tiap bulan. Untuk Oktober kita tidak buat listnya. Nanti kita lihat lagi di bulan November," terangnya.
Direktur Pencatatan BEI, Eddy Sugito juga melihat short selling sebagai pedang bermata dua. Dalam kondisi normal apalagi bullish, banyak orang dipasar berpikirakan bahwa harga akan naik terus dan ada sebagian investor yang berpikir koreksi. Sehingga short selling justru menambah likuiditas perdagangan yang terjadi.
"Dalam tiga sampai enam bulan ke depan. Mereka melakukan short selling dengan harapan 3-6 bulan ke depan mreka membeli lagi. Itu kan sesuatu yang wajar. Persepsi yang berbeda-beda ini kan yang dibutuhkan pasar sehingga pasar semakin marak," terang Eddy.
Tapi dalam kondisi anomali seperti sekarang ini, yang terjadi adalah indeks yang sudah jatuh semakin terpuruk.
Untuk itu, Eddy akan melakukan pengawasan lebih seksama lagi mengenai praktik short selling. Pihaknya akan melakukan kordinasi dengan sejumlah pihak yang terlibat di perdagangan, sehingga bisa diketahui mana yang melakukan praktik short selling.
"Saya kira kita akan berkoordinasi, ini kan bulanan. Mudah-mudahan dalam satu bulan, pasar sudah mulai baik. Artinya, kan sudah ada jalan ke luar," jelasnya.
(dro/ir)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
Kamis, 24/05/2012 16:15 WIB
Tolak Peraturan Jero Wacik, Pekerja Tambang Curhat Soal Perceraian
-
Kamis, 24/05/2012 16:10 WIB
Investor Buru Saham Jelang Penutupan, IHSG Naik Tipis
-
Kamis, 24/05/2012 15:58 WIB
Akhirnya, Gas dari Papua Bisa Dinikmati Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 15:44 WIB
Ini Isi Surat Lengkap Investor Tol ke SBY
-
Kamis, 24/05/2012 15:44 WIB
Ini Isi Surat Lengkap Investor Tol ke SBY
-
Kamis, 24/05/2012 15:35 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Aturan Jero Wacik Timbulkan Ancaman PHK
-
Kamis, 24/05/2012 14:38 WIB
Rugi Rp 330 Miliar Gara-gara Saham Facebook, Broker Minta Ganti Rugi
-
Kamis, 24/05/2012 15:58 WIB
Akhirnya, Gas dari Papua Bisa Dinikmati Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 14:27 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Hanya Ditemui oleh 4 Anggota DPR
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
