SBY: Mimpi Buruk Krisis 1998 Takkan Terjadi
Senin, 06/10/2008 18:55 WIB
Foto: Setpres
Jakarta - Krisis keuangan di AS sudah pasti akan membawa dampak bagi Indonesia, tapi tidak sampai menyeret Indonesia kembali ke krisis 1997-1998 lalu.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono optimistis bangsa Indonesia dapat melalui kondisi sulit dan tidak perlu mengoreksi target pertumbuhan ekonomi nasional.
Demikian salah satu arahannya dalam sesi penutup sidang kabinet di Kantor Setneg, Jalan Veteran, Jakarta.
Sejumlah pengusaha nasional dan pimpinan BUMN mengikuti rapat yang berlangsung empat jam sejak dimulai pukul 14.00 WIB, Senin (6/10/2008).
"Dengan kebijakan tepat dan upaya maksimal, mari pertahankan pertumbuhan 6%. Saya tahu banyak negara yang koreksi pertumbuhannya jadi lebih rendah, tapi mari kita pertahankan pertumbuhan kita 6%. Mari kita manfaatkan perekonomian domestik," tegas SBY.
Presiden menegaskan, berkat kerja keras semua pihak selama bertahun-tahun maka fundamental ekonomi, politik dan sosial dalam negeri saat ini jauh lebih baik dibanding 10 tahun lalu.
Karenanya semua pihak harus optimis dan rasional mengambil langkah sambil terus menjaga kepercayaan masyarakat. "Bukan berarti kondisi akan aman-aman saja, tapi Insya Allah nightmare 98 tidak akan terjadi," imbuhnya.
Penggunaan APBN 2009 harus lebih dioptimalkan untuk memacu pertumbuhan dan membangun jaring pengaman sosial. Misalnya untuk membangun sarana infrastruktur, penanggulangan kemiskinan dan stimulasi pertumbuhan lainnya dengan alokasi penggunaan yang cukup.
Kepada para pelaku usaha, presiden mewanti agar tetap bergerak meski dapat dimaklumi bila ekspansi berkurang. Hal ini demi menjaga pemasukan negara dari sektor pajak dan mencegah bertambahnya jumlah pengangguran akibat terjadinya PHK massal.
Untuk itu Bank Indonesia dan perbankan dimintanya mengembangkan kebijakan agar kredit tersedia dan menjamin likuiditas. Pada saat bersamaan pihak swasta harus terus mempertahankan kinerja, tetap mencari peluang dan berbagi peran dengan pemerintah dalam menanggulangi situasi sulit.
"Cerdas tangkap peluang dagang dan kerja sama ekonomi dengan negara lain. Meski pertumbuhan ekonomi Asia turun dari 11% ke 9%, tapi saya pikir tetap oke. Pasar Eropa dan AS akan lebih tertutup terhadap ekspor, maka produk kita harus kompetitif. Awasi dumping, saya dapat info barang yang mau masuk AS belok ke Indonesia. Bea cukai dan imigrasi harus waspada agar tidak tembus dan lumpuhkan industri nasional," sambung SBY.
Pada jajaran pemerintah, presiden menyerukan lagi efisiensi dalam pengadaan angggaran dan utamakan produk dalam negeri. Demi menghemat anggaran, impor barang mewah haris dikurangi dan pada saat bersamaan menggalakkan kembali kampanye penggunaan buatan dalam negeri dengan kebijakan insentif dan disinsentif.
Mereka juga diminta melakukan konsultasi insentif dengan berbagai kalangan usaha untuk mencari jalan keluar terbaik mengatasi krisis. Berkomunikasi secara jujur dan tepat tentang masalah yang terjadi, tapi tetap optimis dan tidak menimbulkan kepanikan.
"Jangan angin surga, 'semua baik-baik saja, don’t worry'. Cegah pernyataan yang tidak perlu dan bukan menjadi kewenangannya," tandas SBY.
Terkait tahun politik dan pemilu, presiden mengingatkan para politisi untuk tidak lagi melakukan praktek politik partisan. Sebaliknya harus lebih kompromis demi kebaikan bersama dan masa depan bangsa secara keseluruhan, bukan sekedar kepentingan kelompok.
(lh/ddn)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono optimistis bangsa Indonesia dapat melalui kondisi sulit dan tidak perlu mengoreksi target pertumbuhan ekonomi nasional.
Demikian salah satu arahannya dalam sesi penutup sidang kabinet di Kantor Setneg, Jalan Veteran, Jakarta.
Sejumlah pengusaha nasional dan pimpinan BUMN mengikuti rapat yang berlangsung empat jam sejak dimulai pukul 14.00 WIB, Senin (6/10/2008).
"Dengan kebijakan tepat dan upaya maksimal, mari pertahankan pertumbuhan 6%. Saya tahu banyak negara yang koreksi pertumbuhannya jadi lebih rendah, tapi mari kita pertahankan pertumbuhan kita 6%. Mari kita manfaatkan perekonomian domestik," tegas SBY.
Presiden menegaskan, berkat kerja keras semua pihak selama bertahun-tahun maka fundamental ekonomi, politik dan sosial dalam negeri saat ini jauh lebih baik dibanding 10 tahun lalu.
Karenanya semua pihak harus optimis dan rasional mengambil langkah sambil terus menjaga kepercayaan masyarakat. "Bukan berarti kondisi akan aman-aman saja, tapi Insya Allah nightmare 98 tidak akan terjadi," imbuhnya.
Penggunaan APBN 2009 harus lebih dioptimalkan untuk memacu pertumbuhan dan membangun jaring pengaman sosial. Misalnya untuk membangun sarana infrastruktur, penanggulangan kemiskinan dan stimulasi pertumbuhan lainnya dengan alokasi penggunaan yang cukup.
Kepada para pelaku usaha, presiden mewanti agar tetap bergerak meski dapat dimaklumi bila ekspansi berkurang. Hal ini demi menjaga pemasukan negara dari sektor pajak dan mencegah bertambahnya jumlah pengangguran akibat terjadinya PHK massal.
Untuk itu Bank Indonesia dan perbankan dimintanya mengembangkan kebijakan agar kredit tersedia dan menjamin likuiditas. Pada saat bersamaan pihak swasta harus terus mempertahankan kinerja, tetap mencari peluang dan berbagi peran dengan pemerintah dalam menanggulangi situasi sulit.
"Cerdas tangkap peluang dagang dan kerja sama ekonomi dengan negara lain. Meski pertumbuhan ekonomi Asia turun dari 11% ke 9%, tapi saya pikir tetap oke. Pasar Eropa dan AS akan lebih tertutup terhadap ekspor, maka produk kita harus kompetitif. Awasi dumping, saya dapat info barang yang mau masuk AS belok ke Indonesia. Bea cukai dan imigrasi harus waspada agar tidak tembus dan lumpuhkan industri nasional," sambung SBY.
Pada jajaran pemerintah, presiden menyerukan lagi efisiensi dalam pengadaan angggaran dan utamakan produk dalam negeri. Demi menghemat anggaran, impor barang mewah haris dikurangi dan pada saat bersamaan menggalakkan kembali kampanye penggunaan buatan dalam negeri dengan kebijakan insentif dan disinsentif.
Mereka juga diminta melakukan konsultasi insentif dengan berbagai kalangan usaha untuk mencari jalan keluar terbaik mengatasi krisis. Berkomunikasi secara jujur dan tepat tentang masalah yang terjadi, tapi tetap optimis dan tidak menimbulkan kepanikan.
"Jangan angin surga, 'semua baik-baik saja, don’t worry'. Cegah pernyataan yang tidak perlu dan bukan menjadi kewenangannya," tandas SBY.
Terkait tahun politik dan pemilu, presiden mengingatkan para politisi untuk tidak lagi melakukan praktek politik partisan. Sebaliknya harus lebih kompromis demi kebaikan bersama dan masa depan bangsa secara keseluruhan, bukan sekedar kepentingan kelompok.
(lh/ddn)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
Kamis, 24/05/2012 16:15 WIB
Tolak Peraturan Jero Wacik, Pekerja Tambang Curhat Soal Perceraian
-
Kamis, 24/05/2012 16:10 WIB
Investor Buru Saham Jelang Penutupan, IHSG Naik Tipis
-
Kamis, 24/05/2012 15:58 WIB
Akhirnya, Gas dari Papua Bisa Dinikmati Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 15:44 WIB
Ini Isi Surat Lengkap Investor Tol ke SBY
-
Kamis, 24/05/2012 15:44 WIB
Ini Isi Surat Lengkap Investor Tol ke SBY
-
Kamis, 24/05/2012 15:35 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Aturan Jero Wacik Timbulkan Ancaman PHK
-
Kamis, 24/05/2012 14:38 WIB
Rugi Rp 330 Miliar Gara-gara Saham Facebook, Broker Minta Ganti Rugi
-
Kamis, 24/05/2012 15:58 WIB
Akhirnya, Gas dari Papua Bisa Dinikmati Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 14:27 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Hanya Ditemui oleh 4 Anggota DPR
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
