Rupiah Makin Gawat
Selasa, 07/10/2008 08:11 WIB
(Foto: dok detikFinance)
Jakarta - Rupiah dalam kondisi darurat karena terus mengalami pelemahan. Pelaku pasar khawatir rupiah bisa tembus 10.000 per dolar AS jika tidak ada pertolongan serius dari Bank Indonesia.
Pada perdagangan valas pukul 07.55 WIB, Selasa (7/10/2008) rupiah ambruk ke level 9.795 per dolar AS dan ditransaksikan di kisaran 9.785-9.805 per dolar AS.
Posisi rupiah pada Selasa pagi ini memburuk dibanding penutupan Senin kemarin yang ada di level 9.585 per dolar AS. Rupiah pada Senin kemarin mengalami kemerosotan hingga 300 poin.
Pengamat valas Farial Anwar mengatakan tidak adanya ketegasan dari BI mengenai posisi nilai tukar rupiah membuat pelaku pasar terus berspekulasi.
"Selama ini BI hanya mengatakan yang penting adalah menjaga voltalitas tapi tidak disebutkan akan dijaga ke level berapa rupiah, ini yang membuat pasar makin berspekulasi," kata Farial, Selasa (7/10/2008).
Farial mengatakan seharusnya BI seperti bank sentral lain yang secara terbuka mengumumkan dana yang digelontorkan ke pasar sehingga pelaku pasar jadi tahu berapa level yang akan dijaga BI.
"BI juga harus mengawasi bank-bank yang terutama bank yang sering melakukan spekulasi dengan menempatkan orang-orangnya di bank tersebut untuk melihat apakah kegiatan dana di bank itu untuk spekulasi atau bukan," katanya.
Menurut Farial, pelemahan rupiah ini karena imbas dari krisis likuiditas global sehingga investor mencairkan dananya yang ada di SBI, saham, reksa dana atau obligasi.
Investor juga akan melihat apakah Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga BI Rate dalam rapat dewan gubernur (RDG) Selasa ini. Jika BI Rate naik 0,25% dari posisi saat ini 9,25% menjadi 9,5%, investor diperkirakan akan memindahkan dananya dari pasar saham ke perbankan.
Sementara itu mata uang euro pada penutupan perdagangan Senin (6/10/2008) makin melemah terhadap dolar AS yang turun tajam di posisi 1,3523 dolar AS dibanding posisi sebelumnya 1,3781 dolar AS.
Euro melemah karena krisis di AS mulai menjalar ke benua Eropa yang telah membuat sejumlah perusahaan besar kesulitan likuiditas seperti Fortis.
Sementara itu dolar AS mengalami penurunan terhadap mata uang Jepang di posisi 101,87 yen dibanding Jumat pekan lalu 105,27 yen.
(ir/ir)
Pada perdagangan valas pukul 07.55 WIB, Selasa (7/10/2008) rupiah ambruk ke level 9.795 per dolar AS dan ditransaksikan di kisaran 9.785-9.805 per dolar AS.
Posisi rupiah pada Selasa pagi ini memburuk dibanding penutupan Senin kemarin yang ada di level 9.585 per dolar AS. Rupiah pada Senin kemarin mengalami kemerosotan hingga 300 poin.
Pengamat valas Farial Anwar mengatakan tidak adanya ketegasan dari BI mengenai posisi nilai tukar rupiah membuat pelaku pasar terus berspekulasi.
"Selama ini BI hanya mengatakan yang penting adalah menjaga voltalitas tapi tidak disebutkan akan dijaga ke level berapa rupiah, ini yang membuat pasar makin berspekulasi," kata Farial, Selasa (7/10/2008).
Farial mengatakan seharusnya BI seperti bank sentral lain yang secara terbuka mengumumkan dana yang digelontorkan ke pasar sehingga pelaku pasar jadi tahu berapa level yang akan dijaga BI.
"BI juga harus mengawasi bank-bank yang terutama bank yang sering melakukan spekulasi dengan menempatkan orang-orangnya di bank tersebut untuk melihat apakah kegiatan dana di bank itu untuk spekulasi atau bukan," katanya.
Menurut Farial, pelemahan rupiah ini karena imbas dari krisis likuiditas global sehingga investor mencairkan dananya yang ada di SBI, saham, reksa dana atau obligasi.
Investor juga akan melihat apakah Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga BI Rate dalam rapat dewan gubernur (RDG) Selasa ini. Jika BI Rate naik 0,25% dari posisi saat ini 9,25% menjadi 9,5%, investor diperkirakan akan memindahkan dananya dari pasar saham ke perbankan.
Sementara itu mata uang euro pada penutupan perdagangan Senin (6/10/2008) makin melemah terhadap dolar AS yang turun tajam di posisi 1,3523 dolar AS dibanding posisi sebelumnya 1,3781 dolar AS.
Euro melemah karena krisis di AS mulai menjalar ke benua Eropa yang telah membuat sejumlah perusahaan besar kesulitan likuiditas seperti Fortis.
Sementara itu dolar AS mengalami penurunan terhadap mata uang Jepang di posisi 101,87 yen dibanding Jumat pekan lalu 105,27 yen.
(ir/ir)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
Kamis, 24/05/2012 16:15 WIB
Tolak Peraturan Jero Wacik, Pekerja Tambang Curhat Soal Perceraian
-
Kamis, 24/05/2012 16:10 WIB
Investor Buru Saham Jelang Penutupan, IHSG Naik Tipis
-
Kamis, 24/05/2012 15:58 WIB
Akhirnya, Gas dari Papua Bisa Dinikmati Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 15:44 WIB
Ini Isi Surat Lengkap Investor Tol ke SBY
-
Kamis, 24/05/2012 15:44 WIB
Ini Isi Surat Lengkap Investor Tol ke SBY
-
Kamis, 24/05/2012 15:35 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Aturan Jero Wacik Timbulkan Ancaman PHK
-
Kamis, 24/05/2012 14:38 WIB
Rugi Rp 330 Miliar Gara-gara Saham Facebook, Broker Minta Ganti Rugi
-
Kamis, 24/05/2012 15:58 WIB
Akhirnya, Gas dari Papua Bisa Dinikmati Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 14:27 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Hanya Ditemui oleh 4 Anggota DPR
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
