5 Langkah Stabilisasi Bisa Tak Mempan Tenangkan Pasar
Kamis, 09/10/2008 22:07 WIB
Foto: Indro/detikFinance
Jakarta - Lima langkah pemerintah yang diambil pemerintah untuk menenangkan pasar dinilai bisa tak efektif menenangkan pasar. Apalagi jika sentimen global terus merosot, maka 5 langkah itu menjadi tak efektif.
"Sebenarnya kalau sentimen global masih menurun, sulit untuk menahan anjloknya BEI. Jadi 5 langkah itu hnya bisa beri ketenangan sebentar agar BEI tidak anjlok lagi," ujar anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo kepada detikFinance, Kamis (9/10/2008).
Menurut Dradjad, jika sentimen global tiba-tiba memburuk, maka 5 langkah itu tidak berarti apa-apa.
Jika jaminan LPS naik, sementara suku bunga tinggi, menurut Dradjad, BEI malah berisiko ditinggal investor.
"Mereka (investor) akan lari ke bank. BEI bisa anjlok lagi. Harusnya jaminan LPS naik, tetapi BI Rate tidak naik," ujarnya.
Mengenai langkah pertama yakni pengapusan aturan marked to market untuk obligasi perbankan, Dradjad menilai dalam pasar yang sedang down, penghilangan marked to market berisiko membuat overvalue aktiva pemegang obligasi.
"Ini seperti membuka sumber spekulasi baru," ujarnya.
Sedangkan percepatan realisasi belanja APBN bisa menolong momentum pertumbuhan. "Tapi dampak positif langsung nya tidak besar," ujarnya.
(ddn/qom)
"Sebenarnya kalau sentimen global masih menurun, sulit untuk menahan anjloknya BEI. Jadi 5 langkah itu hnya bisa beri ketenangan sebentar agar BEI tidak anjlok lagi," ujar anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo kepada detikFinance, Kamis (9/10/2008).
Menurut Dradjad, jika sentimen global tiba-tiba memburuk, maka 5 langkah itu tidak berarti apa-apa.
Jika jaminan LPS naik, sementara suku bunga tinggi, menurut Dradjad, BEI malah berisiko ditinggal investor.
"Mereka (investor) akan lari ke bank. BEI bisa anjlok lagi. Harusnya jaminan LPS naik, tetapi BI Rate tidak naik," ujarnya.
Mengenai langkah pertama yakni pengapusan aturan marked to market untuk obligasi perbankan, Dradjad menilai dalam pasar yang sedang down, penghilangan marked to market berisiko membuat overvalue aktiva pemegang obligasi.
"Ini seperti membuka sumber spekulasi baru," ujarnya.
Sedangkan percepatan realisasi belanja APBN bisa menolong momentum pertumbuhan. "Tapi dampak positif langsung nya tidak besar," ujarnya.
(ddn/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 17:32 WIB
Ketua Kadin: Masyarakat Lebih Banyak Makan Apel Impor
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
Kamis, 24/05/2012 17:15 WIB
8 IPO Perusahaan Teknologi yang Gagal
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
Kamis, 24/05/2012 16:15 WIB
Tolak Peraturan Jero Wacik, Pekerja Tambang Curhat Soal Perceraian
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
Kamis, 24/05/2012 15:44 WIB
Ini Isi Surat Lengkap Investor Tol ke SBY
-
Kamis, 24/05/2012 15:35 WIB
Pekerja Tambang 'Panas' Aturan Jero Wacik Timbulkan Ancaman PHK
-
Kamis, 24/05/2012 14:38 WIB
Rugi Rp 330 Miliar Gara-gara Saham Facebook, Broker Minta Ganti Rugi
-
Kamis, 24/05/2012 15:58 WIB
Akhirnya, Gas dari Papua Bisa Dinikmati Dalam Negeri
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
