Laporan dari Beijing
Asia Masih Aman Dibanding Eropa dan AS
Jumat, 24/10/2008 13:57 WIB
(Foto: Abror-Setpres)
Beijing - Para pemimpin negara ASEAN+3 sepakat bahwa krisis yang melanda dunia tidak begitu berpengaruh terhadap perekonomian di Asia. Namun, berbagai langkah antisipasi tetap harus dilakukan.
Keyakinan para pemimpin ASEAN+3 itu tercuat dalam pertemuan di Beijing Jumat pagi (24/10/2008). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beserta para pemimpin negara-negara ASEAN +3 melakukan break fast meeting di Great Hall of the People's untuk membahas krisis ekonomi yang melanda dunia.
Dalam pertemuan tersebut, dihasilkan beberapa kesepakatan di antaranya menyediakan dana sekitar US$ 80 miliar dolar untuk mengatasi krisis.
"Dalam pertemuan tersebut telah banyak dibahas berbagai hal terkait krisis finansial dunia. Memang tidak ada joint statement atau dokumen tertulis. Tapi pada intinya para pemimpin Asia sepakat bahwa perekonomian Asia relatif dalam posisi lebih baik dibanding Amerika dan Eropa," ujar juru bicara kepresidenan Dino Patti Djalal dalam jumpa pers usai Salat Jumat di Hotel Peninsula, Beijing, China, Jumat (24/10/2008).
Ke depan lanjut Dino, negara-negara Asia perlu memperkuat multilateralisasi inisiatif Chiang Mai dan akan segera dilakukan tahun ini juga. Dalam pertemuan tersebut, lanjut Dino, para pmimpin Asia sepakat untuk memberi dukungan terhadap integrasiekonomi Asia.
"Jadi diharapkan kondisinya lebih baik lagi," imbuhnya.
Dalam kesempatan ini, Presiden SBY juga menekankan agar negara-negara Asia tidak saling mengamankan diri masing-masing dalam menghadapi krisis. Karena hal ini justru dianggap berbahaya.
"Presiden SBY mengusulkan jangan sampai situasi ini menciptakan benteng-benteng pertahanan sendiri. Jadi jangan sampai semakin kendur kerjasama ekonominya, agar ekonomi justru semakin sehat," ujar Dino menirukan apa yang dikatakan oleh SBY.
Usai breakfast meeting, Presiden SBY melakukan video conference dengan PM Polandia, PM Denmark dan PM PBB. Dalam video conference tersebut, juga disepakati agar adanya krisis ekonomi global ini tidak berpengaruh terhadap komitmen negara-negara di dunia untuk mengatasi perubahan iklim.
"Justru harusnya krisis ini bisa menjadi peluang untuk menciptakan ekonomi beremisi rendah," pungkasnya.
(anw/ir)
Keyakinan para pemimpin ASEAN+3 itu tercuat dalam pertemuan di Beijing Jumat pagi (24/10/2008). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beserta para pemimpin negara-negara ASEAN +3 melakukan break fast meeting di Great Hall of the People's untuk membahas krisis ekonomi yang melanda dunia.
Dalam pertemuan tersebut, dihasilkan beberapa kesepakatan di antaranya menyediakan dana sekitar US$ 80 miliar dolar untuk mengatasi krisis.
"Dalam pertemuan tersebut telah banyak dibahas berbagai hal terkait krisis finansial dunia. Memang tidak ada joint statement atau dokumen tertulis. Tapi pada intinya para pemimpin Asia sepakat bahwa perekonomian Asia relatif dalam posisi lebih baik dibanding Amerika dan Eropa," ujar juru bicara kepresidenan Dino Patti Djalal dalam jumpa pers usai Salat Jumat di Hotel Peninsula, Beijing, China, Jumat (24/10/2008).
Ke depan lanjut Dino, negara-negara Asia perlu memperkuat multilateralisasi inisiatif Chiang Mai dan akan segera dilakukan tahun ini juga. Dalam pertemuan tersebut, lanjut Dino, para pmimpin Asia sepakat untuk memberi dukungan terhadap integrasiekonomi Asia.
"Jadi diharapkan kondisinya lebih baik lagi," imbuhnya.
Dalam kesempatan ini, Presiden SBY juga menekankan agar negara-negara Asia tidak saling mengamankan diri masing-masing dalam menghadapi krisis. Karena hal ini justru dianggap berbahaya.
"Presiden SBY mengusulkan jangan sampai situasi ini menciptakan benteng-benteng pertahanan sendiri. Jadi jangan sampai semakin kendur kerjasama ekonominya, agar ekonomi justru semakin sehat," ujar Dino menirukan apa yang dikatakan oleh SBY.
Usai breakfast meeting, Presiden SBY melakukan video conference dengan PM Polandia, PM Denmark dan PM PBB. Dalam video conference tersebut, juga disepakati agar adanya krisis ekonomi global ini tidak berpengaruh terhadap komitmen negara-negara di dunia untuk mengatasi perubahan iklim.
"Justru harusnya krisis ini bisa menjadi peluang untuk menciptakan ekonomi beremisi rendah," pungkasnya.
(anw/ir)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
