Buy Back BUMN Tak Mampu Pulihkan Pasar Saham
Jumat, 24/10/2008 15:42 WIB
(Foto: Indro-detikFinance)
Jakarta - Aksi pembelian kembali (buy back) sejumlah emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak mampu memulihkan kepercayaan pasar. Terlihat dari banyaknya emiten yang terkena penghentian otomatis (auto rejection) batas bawah sehingga semakin menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level negatif.
"Aksi buy back dilakukan setengah hati, cuma gembar-gembor saja. Akhirnya menambah ketidakpastian masyarakat dan investor," kata Ketua Umum Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISI), ND Murdani ketika dihubungi, Jumat (24/10/2008).
Menurut Murdani hal tersebut diperburuk dengan pernyataan Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil yang mengatakan bahwa BUMN hanya boleh masuk buy back pada saat harga saham sangat murah. Padahal, seharusnya pemerintah melalui BUMN turut menjaga dan memulihkan kepercayaan pasar.
"Pernyataan itu sama saja menyuruh BUMN menjadi spekulan yang hanya mencari untung semata," ujarnya.
Menurut Murdani, sebagai penggerak pasar seharusnya BUMN memulihkan kepercayaan pasar. Sehinga aksi buy back harus segera dilakukan. Saat ini investor membutuhkan aksi dari pemerintah menyusul ketidakpercayaan mereka terhadap otoritas pasar modal yang tidak mampu memanfaatkan momentum yang ada.
"Momentum untuk pemulihan kepercayaan pasar sebenarnya masih ada, namun itu tidak dimanfaatkan secara optimal, ini sangat disayangkan," katanya.
Sejumlah saham unggulan turun tajam terkena auto rejection, di antaranya PT Astra International Tbk (ASII) anjlok 10% atau turun Rp 1.000 ke posisi Rp 9.000, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) anjlok 10% atau turun Rp 900 ke posisi Rp 8.100, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) anjlok 9,9% atau turun Rp 650 ke posisi Rp 5.900, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) anjlok 9,6% atau turun Rp 600 ke posisi Rp 5.650.
Kemudian, PT Indosat Tbk (ISAT) anjlok 9,9% atau turun Rp 500 ke posisi Rp 4.550, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) anjlok 9,8% atau turun Rp 500 ke posisi Rp4.600, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) anjlok 9,5% atau turun Rp 425 ke posisi Rp 4.050, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) anjlok 9,8% atau anjlok Rp 350 ke posisi Rp 3.225.
Selain itu, jelas Murdani, Bursa Efek Indonesia (BEI) seharusnya memperlebar batas atas auto rejection, sehingga akan membantu menaikkan indeks saham.
"Sekarang kan baru saja harga saham naik sedikit sudah terkena penghentian otomotatis," ujarnya.
Mengenai buy back yang dilakukan emiten non BUMN, Murdani menilai hal tersebut harus diapresiasi sebagai langkah penyelamatan pasar. Namun menurutnya, langkah tersebut akan sia-sia jika pemerintah terlihat ragu-ragu.
"Kalau BUMN-nya saja ragu, lalu apa yang bisa diharapkan dari emiten swasta?" tanya Murdani.
Sejumlah emiten swasta yang melakukan buy back antara lain lain PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), PT Bank NISP Tbk (NISP), PT Sampoerna Agro Resources Tbk (SGRO), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indika Energy (INDY), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Sehubungan dengan itu, Direktur Utama Finan Corfindo Edwin Sinaga mengungkapkan, dana buy back sejumlah emiten BUMN yang belum banyak terserap di pasar adalah hal yang wajar. Pasalnya, aksi buy back memliki dua sisi, yaitu menjaga pasar dan sisi lainnya hal yang mengandung risiko.
Dengan demikian, lanjut Edwin, BUMN akan hati-hati masuk pasar untuk buy back karena mereka masih menilai ada risiko yang harus dihadapinya. "Mengapa BUMN terkesan lambat masuk ke pasar, karena mereka nanti tidak ingin dipersalahkan ketika sudah buy back harganya ternyata masih turun lagi," kata Edwin
Menurut Edwin, pemerintah tidak hanya sekedar menganggarkan dana buy back, namun harus memberikan batasan yang jelas tentang harga dan volume saham buy back.
"Harus jelas, sehingga memberikan ketenangan bagi manajemen BUMN untuk mengeksekusi buy back," tambahnya.
Menanggapi hal itu Direktur BEI Guntur Pasaribu menilai, kondisi pasar memang tidak dapat diprediksi karena dipengaruhi sentimen negatif di bursa global dan regional. Sehingga aksi buy back yang diserukan Menneg BUMN tidak menjamin naiknya indeks.
"Di Amerika Serikat (AS) saja sudah disiapkan skenario dana talangan (bailout), namun Dow Jones tetap saja terkoreksi," katanya.
(dro/ir)
"Aksi buy back dilakukan setengah hati, cuma gembar-gembor saja. Akhirnya menambah ketidakpastian masyarakat dan investor," kata Ketua Umum Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISI), ND Murdani ketika dihubungi, Jumat (24/10/2008).
Menurut Murdani hal tersebut diperburuk dengan pernyataan Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil yang mengatakan bahwa BUMN hanya boleh masuk buy back pada saat harga saham sangat murah. Padahal, seharusnya pemerintah melalui BUMN turut menjaga dan memulihkan kepercayaan pasar.
"Pernyataan itu sama saja menyuruh BUMN menjadi spekulan yang hanya mencari untung semata," ujarnya.
Menurut Murdani, sebagai penggerak pasar seharusnya BUMN memulihkan kepercayaan pasar. Sehinga aksi buy back harus segera dilakukan. Saat ini investor membutuhkan aksi dari pemerintah menyusul ketidakpercayaan mereka terhadap otoritas pasar modal yang tidak mampu memanfaatkan momentum yang ada.
"Momentum untuk pemulihan kepercayaan pasar sebenarnya masih ada, namun itu tidak dimanfaatkan secara optimal, ini sangat disayangkan," katanya.
Sejumlah saham unggulan turun tajam terkena auto rejection, di antaranya PT Astra International Tbk (ASII) anjlok 10% atau turun Rp 1.000 ke posisi Rp 9.000, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) anjlok 10% atau turun Rp 900 ke posisi Rp 8.100, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) anjlok 9,9% atau turun Rp 650 ke posisi Rp 5.900, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) anjlok 9,6% atau turun Rp 600 ke posisi Rp 5.650.
Kemudian, PT Indosat Tbk (ISAT) anjlok 9,9% atau turun Rp 500 ke posisi Rp 4.550, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) anjlok 9,8% atau turun Rp 500 ke posisi Rp4.600, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) anjlok 9,5% atau turun Rp 425 ke posisi Rp 4.050, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) anjlok 9,8% atau anjlok Rp 350 ke posisi Rp 3.225.
Selain itu, jelas Murdani, Bursa Efek Indonesia (BEI) seharusnya memperlebar batas atas auto rejection, sehingga akan membantu menaikkan indeks saham.
"Sekarang kan baru saja harga saham naik sedikit sudah terkena penghentian otomotatis," ujarnya.
Mengenai buy back yang dilakukan emiten non BUMN, Murdani menilai hal tersebut harus diapresiasi sebagai langkah penyelamatan pasar. Namun menurutnya, langkah tersebut akan sia-sia jika pemerintah terlihat ragu-ragu.
"Kalau BUMN-nya saja ragu, lalu apa yang bisa diharapkan dari emiten swasta?" tanya Murdani.
Sejumlah emiten swasta yang melakukan buy back antara lain lain PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), PT Bank NISP Tbk (NISP), PT Sampoerna Agro Resources Tbk (SGRO), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indika Energy (INDY), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Sehubungan dengan itu, Direktur Utama Finan Corfindo Edwin Sinaga mengungkapkan, dana buy back sejumlah emiten BUMN yang belum banyak terserap di pasar adalah hal yang wajar. Pasalnya, aksi buy back memliki dua sisi, yaitu menjaga pasar dan sisi lainnya hal yang mengandung risiko.
Dengan demikian, lanjut Edwin, BUMN akan hati-hati masuk pasar untuk buy back karena mereka masih menilai ada risiko yang harus dihadapinya. "Mengapa BUMN terkesan lambat masuk ke pasar, karena mereka nanti tidak ingin dipersalahkan ketika sudah buy back harganya ternyata masih turun lagi," kata Edwin
Menurut Edwin, pemerintah tidak hanya sekedar menganggarkan dana buy back, namun harus memberikan batasan yang jelas tentang harga dan volume saham buy back.
"Harus jelas, sehingga memberikan ketenangan bagi manajemen BUMN untuk mengeksekusi buy back," tambahnya.
Menanggapi hal itu Direktur BEI Guntur Pasaribu menilai, kondisi pasar memang tidak dapat diprediksi karena dipengaruhi sentimen negatif di bursa global dan regional. Sehingga aksi buy back yang diserukan Menneg BUMN tidak menjamin naiknya indeks.
"Di Amerika Serikat (AS) saja sudah disiapkan skenario dana talangan (bailout), namun Dow Jones tetap saja terkoreksi," katanya.
(dro/ir)
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
