Rupiah Jatuh ke 10.749/US$
Senin, 27/10/2008 17:29 WIB
Foto: Irna-detikFinance
Jakarta - Rupiah semakin tak berdaya menahan pukulan kisruhnya pasar finansial global. Mata uang lokal ini makin mendekati level psikologis 11.000 per dolar AS.
Pada perdagangan valas pukul 17.00 WIB, Senin (27/10/2008) berdasarkan data CNBC, rupiah melemah hingga 744 poin ke posisi 10.749 per dolar AS.
Rupiah hari ini sempat melemah hingga ke 10.950 per dolar AS. Bahkan perdagangan valas di data treasury Bank NISP rupiah pada Senin pagi sempat tembus 11.000 per dolar AS.
Treasury Division Head Bank NISP, Suryanto Chang dalam perbincangannya dengan detikFinance, Senin (27/10/2008) mengatakan melemahnya rupiah karena dipicu terbatasnya suplai mata uang paman sam itu di pasar. Volume perdagangan di pasar valas hari ini lebih dari US$ 800 juta yang jauh di atas rata-rata normal US$ 400-500 juta.
Suryanto mengatakan, pembelian dolar AS yang tinggi ini tidak hanya dilakukan oleh investor asing, tapi juga pihak korporasi yang melakukan hedging untuk ekposure-nya atau atau untuk pembiayaan impor karena sudah menjelang akhir bulan.
"Kondisi pasar global dimana investor asing menarik portofolionya dari emerging market termasuk dari Indonesia. Ini yang membuat rupiah melemah karena pasar tidak bisa dilawan," ujarnya.
Sementara Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu mengatakan pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi di Indonesia saja tapi juga di regional.
Secara fundamental, kata Anggito, Indonesia masih kuat pertumbuhan ekonomi yang bagus di atas 6 persen. Cadangan devisa masih cukup kuat, dan perbankan juga masih cukup sehat.
"Jadi secara fundamental tidak ada yang mesti dirisaukan, tidak ada perubahan apa-apa yang cukup signifikan," katanya di gedung DPR, Jakarta, Senin (27/10/2008).
Anggito mengatakan sentimen global ini tidak bisa diselesaikan secara individu per negara. Maka itu pada pertemuan ASEM dan Asian plus 3 pekan lalu yang merupakan pertemuan pertemuan regional maupun internasional membahas harus ada solusi global bukan regional.
"Maka fokus kita sekarang, pada solusi ASEAN plus 3 maupun G20 karena kita tidak bisa sendiri, semua negara mengalami koreksi nilai tukar mata uangnya menurun, nah sekarang, tetap kita lakukan reform saja, jadi untuk BI akan menjaga keseimbangan baru ini dan saya percaya pada teman-teman di BI," katanya.
Sementara Dirut BRI Sofyan Basir mengamini turunnya rupiah bukan karena masalah fundamental tapi karena kurang percayanya masyarakat Indonesia sendiri.
"Sampai hari ini menurut saya itu terus terang saja, masyarakat ini mesti sama-sama dengan pemerintah untuk percaya kondisi kita ini jauh lebih baik, itu kan bukan masalah fundamental ekonomi kita, tapi kan karena itu karena kekurangpercayaan masyarakat kita sendiri," katanya.
"Kalau ini semua kita perbaiki cara pandangannya mudah-mudahan ini bisa membaik, karena semua anomali kejadiannya, kondisi-kondisi ini tidak sesuai teori," lanjutnya.
(ir/ddn)
Pada perdagangan valas pukul 17.00 WIB, Senin (27/10/2008) berdasarkan data CNBC, rupiah melemah hingga 744 poin ke posisi 10.749 per dolar AS.
Rupiah hari ini sempat melemah hingga ke 10.950 per dolar AS. Bahkan perdagangan valas di data treasury Bank NISP rupiah pada Senin pagi sempat tembus 11.000 per dolar AS.
Treasury Division Head Bank NISP, Suryanto Chang dalam perbincangannya dengan detikFinance, Senin (27/10/2008) mengatakan melemahnya rupiah karena dipicu terbatasnya suplai mata uang paman sam itu di pasar. Volume perdagangan di pasar valas hari ini lebih dari US$ 800 juta yang jauh di atas rata-rata normal US$ 400-500 juta.
Suryanto mengatakan, pembelian dolar AS yang tinggi ini tidak hanya dilakukan oleh investor asing, tapi juga pihak korporasi yang melakukan hedging untuk ekposure-nya atau atau untuk pembiayaan impor karena sudah menjelang akhir bulan.
"Kondisi pasar global dimana investor asing menarik portofolionya dari emerging market termasuk dari Indonesia. Ini yang membuat rupiah melemah karena pasar tidak bisa dilawan," ujarnya.
Sementara Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu mengatakan pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi di Indonesia saja tapi juga di regional.
Secara fundamental, kata Anggito, Indonesia masih kuat pertumbuhan ekonomi yang bagus di atas 6 persen. Cadangan devisa masih cukup kuat, dan perbankan juga masih cukup sehat.
"Jadi secara fundamental tidak ada yang mesti dirisaukan, tidak ada perubahan apa-apa yang cukup signifikan," katanya di gedung DPR, Jakarta, Senin (27/10/2008).
Anggito mengatakan sentimen global ini tidak bisa diselesaikan secara individu per negara. Maka itu pada pertemuan ASEM dan Asian plus 3 pekan lalu yang merupakan pertemuan pertemuan regional maupun internasional membahas harus ada solusi global bukan regional.
"Maka fokus kita sekarang, pada solusi ASEAN plus 3 maupun G20 karena kita tidak bisa sendiri, semua negara mengalami koreksi nilai tukar mata uangnya menurun, nah sekarang, tetap kita lakukan reform saja, jadi untuk BI akan menjaga keseimbangan baru ini dan saya percaya pada teman-teman di BI," katanya.
Sementara Dirut BRI Sofyan Basir mengamini turunnya rupiah bukan karena masalah fundamental tapi karena kurang percayanya masyarakat Indonesia sendiri.
"Sampai hari ini menurut saya itu terus terang saja, masyarakat ini mesti sama-sama dengan pemerintah untuk percaya kondisi kita ini jauh lebih baik, itu kan bukan masalah fundamental ekonomi kita, tapi kan karena itu karena kekurangpercayaan masyarakat kita sendiri," katanya.
"Kalau ini semua kita perbaiki cara pandangannya mudah-mudahan ini bisa membaik, karena semua anomali kejadiannya, kondisi-kondisi ini tidak sesuai teori," lanjutnya.
(ir/ddn)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:54 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
33 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
