detikfinance

Euro Anjlok, Yen Makin Perkasa

Nurul Qomariyah - detikfinance
Selasa, 28/10/2008 12:41 WIB
Foto: Dok detikcom
Hong Kong - Selain rupiah, mata uang tunggal euro juga terus merosot. Sementara yen justru terus menguat atas dolar AS, dan membuat para eksportir Jepang makin ketar ketir.

Pada perdagangan Selasa (28/10/2008) di Hong Kong seperti dikutip dari Reuters, euro merosot ke titik terendahnya dalam 2,5 tahun terakhir atas dolar AS.

Euro melemah 1% ke posisi 1,2370 dolar, setelah sempat menyentuh level 1,2328 dolar, yang merupakan level terendah sejak April 2006.

Terhadap yen, euro juga melemah hingga 0,7% ke posisi 115,10 yen. Euro sempat menyentuh level terendah dalam 6,5 tahun terakhir atas yen di posisi 113,62 yen.

Dolar AS tercatat menguat tipis 0,3% ke posisi 93,07 yen. Namun dolar AS kini masih berada tak jauh dari titik terendahnya dalam 13 tahun yakni di di 90,87 yen.

Sementara nilai tukar rupiah berdasarkan data CNBC per pukul 12.20 WIB tercatat di posisi 11.000 per dolar AS, setelah sempat merosot hingga 11.800. Rupiah hari ini sempat terpangkas hingga 1.000 poin, yang merupakan penurunan terbesar di sepanjang sejarah.

Mata uang lain yang mengalami penurunan tajam adalah peso. Nilai tukar peso terhadap doalr AS anjlok ke posisi 49,58 dolar, yang merupakan terendah sejak Desember 2006. Pelemahan peso terjadi ditengah intervensi yang dilakukan Bank Sentral Filipina.

"Pasar sepertinya lebih berat ke dolar yang lebih kuat karena menguntungkan dari risk aversion," ujar seorang pialang di Filipina seperti dikutip dari Reuters.

Risk aversion merupakan suatu kondisi dimana investor berusaha meminimalisasi eksposurnya terhadap resiko, dan biasanya dilakukan dengan melepas bentuk investasi yang pembeliannya didanai secara carry trade.

Sedangkan Carry Trade adalah perilaku investor yang mencari pinjaman dari aset-aset dengan imbal hasil rendah seperti yen, untuk kemudian dibelikan portofolio aset dengan yield yang tinggi seperti yang banyak dijual di emergingmarket. Pembalikan carry trade atau reverse carry trade itulah yang kini memicu penguatan tajam yen. Investor kini melepas aset-asetnya di emerging markets, untuk kembali ke yen, yang dianggap berisiko rendah.

"Investor dan perusahaan-perusahaan kini berada di satu titik dimana mereka merasa mencapai batas dan mereka semua berpikir untuk menguransi risiko. Mereka menjual semuanya karena mereka merasa dalam bahaya," ujar Ryohei Muramatsu, manager Group Treasury Asia of Commerzbank seperti dikutip dari AFP.

Penguatan yen juga terjadi meski G7 telah membuat pernyataan bahwa mereka mencemaskan volatilitas yen. Yen diperkirakan akan menembus level bersejarahnya di 79,95 dolar, yang dicapai pada tahun 1995 silam. Pemerintah Jepang sendiri tidak pernah melakukan intervensi mata uang sejak tahun 2004, dan membiarkan yen mencari nilainya sendiri.

(qom/ddn)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.