Rupiah Labil, BI Rate Sulit Turun
Selasa, 04/11/2008 13:29 WIB
Foto: dok detikcom
Jakarta - Meskipun besaran inflasi pada Oktober 2008 sebesar 0,45%, tapi suku bunga BI Rate tampaknya sulit untuk turun di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang masih labil saat ini.
Hal ini dikatakan oleh Kepala Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan ketika ditemui di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (4/10/2008).
"Untuk sementara sulit menurunkan BI Rate karena rupiah labil. Walau inflasi bulanan turun, ekspektasi inflasi belum turun tajam. Perkiraan kita BI Rate stabil atau naik maksimal 25 bps, sekarang lebih cenderung naik," katanya.
Meskipun saat ini negara-negara di dunia cenderung menurunkan tingkat suku bunganya, Fauzi mengatakan itu tidak berpengaruh kepada Indonesia karena perbedaan situasi ekonomi.
"Faktor-faktor ekonominya beda. AS, Eropa jelas resesi. Indonesia tidak resesi. Inflasi masih double digit, rupiah labil. Kalau rupiah terpuruk terus, inflasi akan naik karena imported inflation," ujarnya.
Fauzi mengatakan saat ini pelemahan rupiah yang terjadi relatif terbatas dibandingkan pelemahan nilai tukar negara lainnya.
"Yang dikhawatirkan adalah suplai dolar yang mengering. Bukan saja di Indinesia, tapi juga di pasar valas Asia dan Eropa. Sebenarnya, pelemahan rupiah relatif terbatas, antara 14-15 persen sejak awal tahun. Dibanding Korean Won, Malaysian Ringgit, dan Philipines Peso. Jadi ini adalah fenomena global di pasar valas, dan mudah-mudahan normal lagi dalam 3-6 bulan. Jadi semua dolar yang ada dunia kembali ke AS," paparnya.
"Jadi sekarang suku bunga antar di pasar di atas 10% juga. Artinya, kalaupun BI Rate naik maka hanya mengikuti suku bunga yang sudah ada di pasar uang," jelasnya.
Sementara itu secara terpisah, Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo mengatakan saat ini dunia usaha maupun masyarakat sudah merasakan suku bunga bank yang tinggi karena BI Rate yang berada di level 9,5%..
"Jika BI Rate diturunkan, suku bunga bank otomatis turun juga. Pemulihan atau membangkitkan kembali sektor riil menuntut penurunan BI Rate. Sangat minim jumlah pengusaha yang berani memanfaatkan suku bunga bank yang dewasa ini rata-rata 13% untuk kredit modal kerja dan investasi," ujarnya dalam pesan singkat kepada detikFinance.
(dnl/ddn)
Hal ini dikatakan oleh Kepala Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan ketika ditemui di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (4/10/2008).
"Untuk sementara sulit menurunkan BI Rate karena rupiah labil. Walau inflasi bulanan turun, ekspektasi inflasi belum turun tajam. Perkiraan kita BI Rate stabil atau naik maksimal 25 bps, sekarang lebih cenderung naik," katanya.
Meskipun saat ini negara-negara di dunia cenderung menurunkan tingkat suku bunganya, Fauzi mengatakan itu tidak berpengaruh kepada Indonesia karena perbedaan situasi ekonomi.
"Faktor-faktor ekonominya beda. AS, Eropa jelas resesi. Indonesia tidak resesi. Inflasi masih double digit, rupiah labil. Kalau rupiah terpuruk terus, inflasi akan naik karena imported inflation," ujarnya.
Fauzi mengatakan saat ini pelemahan rupiah yang terjadi relatif terbatas dibandingkan pelemahan nilai tukar negara lainnya.
"Yang dikhawatirkan adalah suplai dolar yang mengering. Bukan saja di Indinesia, tapi juga di pasar valas Asia dan Eropa. Sebenarnya, pelemahan rupiah relatif terbatas, antara 14-15 persen sejak awal tahun. Dibanding Korean Won, Malaysian Ringgit, dan Philipines Peso. Jadi ini adalah fenomena global di pasar valas, dan mudah-mudahan normal lagi dalam 3-6 bulan. Jadi semua dolar yang ada dunia kembali ke AS," paparnya.
"Jadi sekarang suku bunga antar di pasar di atas 10% juga. Artinya, kalaupun BI Rate naik maka hanya mengikuti suku bunga yang sudah ada di pasar uang," jelasnya.
Sementara itu secara terpisah, Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo mengatakan saat ini dunia usaha maupun masyarakat sudah merasakan suku bunga bank yang tinggi karena BI Rate yang berada di level 9,5%..
"Jika BI Rate diturunkan, suku bunga bank otomatis turun juga. Pemulihan atau membangkitkan kembali sektor riil menuntut penurunan BI Rate. Sangat minim jumlah pengusaha yang berani memanfaatkan suku bunga bank yang dewasa ini rata-rata 13% untuk kredit modal kerja dan investasi," ujarnya dalam pesan singkat kepada detikFinance.
(dnl/ddn)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:54 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
34 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
