Kadin Sayangkan Penahanan BI Rate
Kamis, 06/11/2008 13:41 WIB
Foto: dok detikcom
Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) selaku wadah bagi pengusaha sektor riil menyayangkan otoritas moneter Bank Indonesia (BI) yang belum juga menurunkan tingkat BI Rate di angka 9,5%.
Hal ini dikatakan oleh Ketua Umum Kadin MS Hidayat saat dihubungi detikFinance, Kamis (6/11/2008).
Menurut Hidayat saat ini BI masih berkonsentrasi terhadap pelemahan rupiah terhadap dolar AS sehingga keputusan tidak menurunkan atau menaikan ditempuh oleh BI.
"Saya kira BI masih punya perhitungan dengan nilai tukar, namun ketakutan terhadap inflasi saat ini tidak relevan, karena produksi sudah turun dan demand pun turun," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa langkah BI saat ini yang masih mempertahankan BI Rate sebagai langkah yang cukup berseberangan dengan kebijakan banyak negara yang mulai menurunkan patokan suku bunga.
"Saya sih agak menyayangkan, menurunkan BI Rate saat ini penting meski hanya 25 bps," ujarnya.
Bahkan dengan tegas, Hidayat meminta pemerintah untuk segera menandatangani kebijakan blanket guarantee (penjaminan penuh dana nasabah di perbankan), sehingga diharapkan akan menurunkan tingkat suku bunga perbankan nasional.
Keputusan BI yang mempertahankan BI rate di level 9,5 persen itu juga dinilai strategi moneter yang sia-sia, bahkan kontraproduktif.
Alasannya, suku bunga BI Rate sekarang mulai mengurangi ketahanan ekonomi nasional, bahkan melumpuhkan sektor riil dan UMKM.
"Sia-sia karena BI Rate yang tinggi saat ini belum efektif untuk menarik dana asing (hot money) ke pasar uang dalam negeri, kendati spread-nya dengan Fed Fund Rate selebar 8,5 persen," ujar Bambang Soesatyo, Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia dalam pesan singkat.
Saat ini bank atau lembaga keuangan asing di negara industri, terutama AS dan Eropa, masih melakukan konsolidasi dan memperkuat likuiditas masing-masing.
"Untuk keperluan itu, mereka justru masih terus menyedot likuiditas dari emerging market dengan melepas investasi mereka pada surat utang negara," ujarnya.
Sebagai instrumen peredam laju inflasi, BI Rate yang 9,5 persen itu dinilai terlalu tinggi, karena tekanan terhadap laju inflasi bulan-bulan mendatang tidak sekuat bulan Agustus dan september 2008. "Apalagi, imported inflation pun jauh berkurang," ujarnya.
Bambang menilai, makin sulit bagi dunia usaha memahami arah kebijakan pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Banyak negara mengikuti tren global penurunan suku bunga, guna mendinamisasi gerak dunia usaha agar ketahanan ekonomi masing-masing makin mumpuni. "BI malah melawan arus, dengan akibat lumpuhnya sektor riil dan UMKM," ujarnya.
Di tengah ketidakpastian seperti saat ini, Kadin mendesak pemerintah dan otoritas moneter lebih percaya diri, konsisten membangun kemandirian yang bertumpu pada potensi kekuatan pasar dalam negeri.
(hen/ddn)
Hal ini dikatakan oleh Ketua Umum Kadin MS Hidayat saat dihubungi detikFinance, Kamis (6/11/2008).
Menurut Hidayat saat ini BI masih berkonsentrasi terhadap pelemahan rupiah terhadap dolar AS sehingga keputusan tidak menurunkan atau menaikan ditempuh oleh BI.
"Saya kira BI masih punya perhitungan dengan nilai tukar, namun ketakutan terhadap inflasi saat ini tidak relevan, karena produksi sudah turun dan demand pun turun," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa langkah BI saat ini yang masih mempertahankan BI Rate sebagai langkah yang cukup berseberangan dengan kebijakan banyak negara yang mulai menurunkan patokan suku bunga.
"Saya sih agak menyayangkan, menurunkan BI Rate saat ini penting meski hanya 25 bps," ujarnya.
Bahkan dengan tegas, Hidayat meminta pemerintah untuk segera menandatangani kebijakan blanket guarantee (penjaminan penuh dana nasabah di perbankan), sehingga diharapkan akan menurunkan tingkat suku bunga perbankan nasional.
Keputusan BI yang mempertahankan BI rate di level 9,5 persen itu juga dinilai strategi moneter yang sia-sia, bahkan kontraproduktif.
Alasannya, suku bunga BI Rate sekarang mulai mengurangi ketahanan ekonomi nasional, bahkan melumpuhkan sektor riil dan UMKM.
"Sia-sia karena BI Rate yang tinggi saat ini belum efektif untuk menarik dana asing (hot money) ke pasar uang dalam negeri, kendati spread-nya dengan Fed Fund Rate selebar 8,5 persen," ujar Bambang Soesatyo, Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia dalam pesan singkat.
Saat ini bank atau lembaga keuangan asing di negara industri, terutama AS dan Eropa, masih melakukan konsolidasi dan memperkuat likuiditas masing-masing.
"Untuk keperluan itu, mereka justru masih terus menyedot likuiditas dari emerging market dengan melepas investasi mereka pada surat utang negara," ujarnya.
Sebagai instrumen peredam laju inflasi, BI Rate yang 9,5 persen itu dinilai terlalu tinggi, karena tekanan terhadap laju inflasi bulan-bulan mendatang tidak sekuat bulan Agustus dan september 2008. "Apalagi, imported inflation pun jauh berkurang," ujarnya.
Bambang menilai, makin sulit bagi dunia usaha memahami arah kebijakan pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Banyak negara mengikuti tren global penurunan suku bunga, guna mendinamisasi gerak dunia usaha agar ketahanan ekonomi masing-masing makin mumpuni. "BI malah melawan arus, dengan akibat lumpuhnya sektor riil dan UMKM," ujarnya.
Di tengah ketidakpastian seperti saat ini, Kadin mendesak pemerintah dan otoritas moneter lebih percaya diri, konsisten membangun kemandirian yang bertumpu pada potensi kekuatan pasar dalam negeri.
(hen/ddn)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:54 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
34 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
