Penurunan Premium Rp 500 Hanya Basa-Basi Politik
Kamis, 06/11/2008 18:23 WIB
Foto: Pertamina
Jakarta - Pemerintah akhirnya mengikuti langkah negara lain dalam menurunkan harga BBM yakni Premium. Namun sayangnya penurunan sebesar Rp 500 per liter itu dinilai kurang banyak.
"Penurunan Rp 500 tersebut terlalu kecil. Lebih merupakan basa basi politik untuk merespons tuntutan masyarakat dan DPR," ujar Anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo dalam pesan singkatnya, Kamis (6/11/2008).
Dradjad menilai dampak positif penurunan harga BBM dengan penurunan Rp 500 kurang maksimal dalam meningkatkan bagi daya beli masyarakat dan sektor riil.
"Padahal sektor riil kita terutama eksportir terpukul oleh anjloknya permintaan ekspor, pembayaran yang seret dari pembeli, dan harga jual yang anjlok. Mereka perlu penurunan harga BBM yang lebih besar supaya daya saing terjaga," ujarnya.
Pemerintah sebenarnya sanggup menurunkan harga Premium hingga 20-25% menjadi Rp 4.500- Rp 5.000 per liter.
Dengan ini, untuk APBNP 2008, hanya tersisa sekitar 1,5 bulan, tambahan beban subsidinya sebagai hasil dari penurunan harga Premium sangat kecil.
Dari sisi realisasi konsumsi BBM bersubsidi hingga September 2008 hanya sekitar 29,7 juta kiloliter. "Jadi masih 10 juta kiloliter lebih sisa dari target. Dengan konsumsi seperti itu, dan harga minyak dunia sekitar US$ 65-70 per barel, tambahan beban subsidi 2008 hanya sekitar Rp 5 triliun," ujarnya.
Pemerintah bisa menutup tambahan ini dengan realokasi belanja karena pada faktanya realisasi belanja negara masih banyak sisanya.
Untuk APBN 2009, subsidi BBM itu hanya Rp 57,6 triliun dengan asumsi asumsi harga minyak dunia US$ 80 per barel dan konsumsi BBM bersubsidi 40 jt kilo liter.
"Dibanding target subsidi dalam RAPBN, pemerintah sebenarnya sudah menghemat Rp 43,7 triliun. Pemerintah masih bisa menambah subsidi sekitar Rp 20 triliun hingga Rp 25 triliun untuk menurunkan harga BBM lebih besar.
"Apalagi kalau harga pokok BBM bisa ditekan melalui efisiensi sistem migas," ujarnya.
(ddn/qom)
"Penurunan Rp 500 tersebut terlalu kecil. Lebih merupakan basa basi politik untuk merespons tuntutan masyarakat dan DPR," ujar Anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo dalam pesan singkatnya, Kamis (6/11/2008).
Dradjad menilai dampak positif penurunan harga BBM dengan penurunan Rp 500 kurang maksimal dalam meningkatkan bagi daya beli masyarakat dan sektor riil.
"Padahal sektor riil kita terutama eksportir terpukul oleh anjloknya permintaan ekspor, pembayaran yang seret dari pembeli, dan harga jual yang anjlok. Mereka perlu penurunan harga BBM yang lebih besar supaya daya saing terjaga," ujarnya.
Pemerintah sebenarnya sanggup menurunkan harga Premium hingga 20-25% menjadi Rp 4.500- Rp 5.000 per liter.
Dengan ini, untuk APBNP 2008, hanya tersisa sekitar 1,5 bulan, tambahan beban subsidinya sebagai hasil dari penurunan harga Premium sangat kecil.
Dari sisi realisasi konsumsi BBM bersubsidi hingga September 2008 hanya sekitar 29,7 juta kiloliter. "Jadi masih 10 juta kiloliter lebih sisa dari target. Dengan konsumsi seperti itu, dan harga minyak dunia sekitar US$ 65-70 per barel, tambahan beban subsidi 2008 hanya sekitar Rp 5 triliun," ujarnya.
Pemerintah bisa menutup tambahan ini dengan realokasi belanja karena pada faktanya realisasi belanja negara masih banyak sisanya.
Untuk APBN 2009, subsidi BBM itu hanya Rp 57,6 triliun dengan asumsi asumsi harga minyak dunia US$ 80 per barel dan konsumsi BBM bersubsidi 40 jt kilo liter.
"Dibanding target subsidi dalam RAPBN, pemerintah sebenarnya sudah menghemat Rp 43,7 triliun. Pemerintah masih bisa menambah subsidi sekitar Rp 20 triliun hingga Rp 25 triliun untuk menurunkan harga BBM lebih besar.
"Apalagi kalau harga pokok BBM bisa ditekan melalui efisiensi sistem migas," ujarnya.
(ddn/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:54 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
34 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
