Perbanas: Kalah Kliring Biasa, Nasabah Jangan Panik
Kamis, 13/11/2008 17:47 WIB
Foto: Indro-detikFinance
Jakarta - Kondisi kalah kliring yang terjadi di Bank Century sebenarnya adalah hal yang wajar terjadi pada perbankan. Nasabah diminta tetap tenang dan tidak panik.
Menurut Ketua Perbanas Sigit Pramono kalah kliring seperti yang terjadi dalam kasus Bank Century pada hari ini terasa 'heboh' karena terjadi pada kondisi ini menjadi tidak wajar saat likuiditas ketat.
Sigit mengatakan kondisi kalah kliring bisa terjadi karena likuiditas yang terganggu dan juga sulitnya bank mendapatkan pinjaman lewat interbank.
"Kondisi kalah kliring bisa saja terjadi di bank apapun, tapi keadaan sekarang agak krisis likuiditas," jelasnya usai acara Perbanas di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (13/11/2008).
Sigit menghimbau para nasabah agar tidak cepat panik melihat kondisi yang terjadi. "Kita hadapi dengan tenang, karena sebenarnya seharusnya hal itu bisa ditutupi dengan pinjaman antar bank," imbuhnya.
Kemudian Sigit juga menuturkan masyarakat juga harus mengetahui adanya mekanisme dari perbankan untuk mengatasi kondisi tersebut.
"Ini harus disampaikan ke masyarakat, bahwa mekanisme untuk mengatasi persoalan likuiditas sesaat ini di antaranya dengan pinjaman antar bank. kemudian repo dan sebagainya. Jadi komentar saya seharusnya implementasi dari berbagai kebijakan yang ada harus baik, seperti GWM sudah diturunkan," tuturnya.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono yang mengatakan kondisi yang dialami Bank Century itu hal biasa.
"Menurut saya hal biasa kalau ada satu bank kalah kliring. Karena kadang-kadang menang, kadang-kadang kalah. Yang penting tidak kalah berturut-turut dan lama. Kalau masih seperti sekarang, saya rasa masih tidak apa-apa," jelasnya.
Namun Tony menegaskan hal ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama, pemerintah bersama dengan Bank Indonesia harus melakukan tindakan berkaitan dengan ini.
"Kalau dibiarkan akan menjadi sistemik. Krisis depresi dunia pada tahun 1929 awalnya dari rumor di Austria ada bank mau bangkrut ya semacam kalah kliring. Kalau kalah kliring akibatnya bisa di rush, jadi pemerintah atau BI harus cepat supaya ini tidak terjadi persepsi yang berlebihan di masyarakat melakukan rush. karena bank sekuat apapun kalau di rush banyak orang akan bangkrut," tuturnya.
Corporate Secretary PT Bank Century Tbk Deddy Triana mengatakan, insiden keterlambatan setoran kliring yang dialami Bank Century bisa terjadi di semua bank. Apalagi mutasi transaksi di kalangan perbankan memang meningkat belakangan ini.
"Kondisi ini memang terjadi di semua bank belakangan ini, hampir semua mutasi transaksi meningkat," katanya saat dihubungi detikFinance.
Deddy juga menyatakan kejadian seperti sebenarnya bisa terjadi kapan saja, hanya saja memang nasib Bank Century mengalami keterlambatan setoran kliring justru di saat dunia perbankan sedang dalam sorotan banyak pihak.
"Itu sebenarnya sesuatu yang bisa terjadi kapan saja. Tapi menurut pandangan kami memang kondisinya kurang tepat saat ini. Kenapa terjadinya saat ini, karena memang kondisi perbankan nasional sedang disorot. Itu yang tidak preferable buat
kita sebenarnya," katanya.
(dnl/qom)
Menurut Ketua Perbanas Sigit Pramono kalah kliring seperti yang terjadi dalam kasus Bank Century pada hari ini terasa 'heboh' karena terjadi pada kondisi ini menjadi tidak wajar saat likuiditas ketat.
Sigit mengatakan kondisi kalah kliring bisa terjadi karena likuiditas yang terganggu dan juga sulitnya bank mendapatkan pinjaman lewat interbank.
"Kondisi kalah kliring bisa saja terjadi di bank apapun, tapi keadaan sekarang agak krisis likuiditas," jelasnya usai acara Perbanas di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (13/11/2008).
Sigit menghimbau para nasabah agar tidak cepat panik melihat kondisi yang terjadi. "Kita hadapi dengan tenang, karena sebenarnya seharusnya hal itu bisa ditutupi dengan pinjaman antar bank," imbuhnya.
Kemudian Sigit juga menuturkan masyarakat juga harus mengetahui adanya mekanisme dari perbankan untuk mengatasi kondisi tersebut.
"Ini harus disampaikan ke masyarakat, bahwa mekanisme untuk mengatasi persoalan likuiditas sesaat ini di antaranya dengan pinjaman antar bank. kemudian repo dan sebagainya. Jadi komentar saya seharusnya implementasi dari berbagai kebijakan yang ada harus baik, seperti GWM sudah diturunkan," tuturnya.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono yang mengatakan kondisi yang dialami Bank Century itu hal biasa.
"Menurut saya hal biasa kalau ada satu bank kalah kliring. Karena kadang-kadang menang, kadang-kadang kalah. Yang penting tidak kalah berturut-turut dan lama. Kalau masih seperti sekarang, saya rasa masih tidak apa-apa," jelasnya.
Namun Tony menegaskan hal ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama, pemerintah bersama dengan Bank Indonesia harus melakukan tindakan berkaitan dengan ini.
"Kalau dibiarkan akan menjadi sistemik. Krisis depresi dunia pada tahun 1929 awalnya dari rumor di Austria ada bank mau bangkrut ya semacam kalah kliring. Kalau kalah kliring akibatnya bisa di rush, jadi pemerintah atau BI harus cepat supaya ini tidak terjadi persepsi yang berlebihan di masyarakat melakukan rush. karena bank sekuat apapun kalau di rush banyak orang akan bangkrut," tuturnya.
Corporate Secretary PT Bank Century Tbk Deddy Triana mengatakan, insiden keterlambatan setoran kliring yang dialami Bank Century bisa terjadi di semua bank. Apalagi mutasi transaksi di kalangan perbankan memang meningkat belakangan ini.
"Kondisi ini memang terjadi di semua bank belakangan ini, hampir semua mutasi transaksi meningkat," katanya saat dihubungi detikFinance.
Deddy juga menyatakan kejadian seperti sebenarnya bisa terjadi kapan saja, hanya saja memang nasib Bank Century mengalami keterlambatan setoran kliring justru di saat dunia perbankan sedang dalam sorotan banyak pihak.
"Itu sebenarnya sesuatu yang bisa terjadi kapan saja. Tapi menurut pandangan kami memang kondisinya kurang tepat saat ini. Kenapa terjadinya saat ini, karena memang kondisi perbankan nasional sedang disorot. Itu yang tidak preferable buat
kita sebenarnya," katanya.
(dnl/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:54 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
34 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
