RI Kirim Surat Minta Standby Loan Lebih US$ 5 Miliar
Selasa, 18/11/2008 07:02 WIB
Penjelasan RAPBN 2009 (Foto: dok detikcom)
Jakarta - Pemerintah mulai ambil tindakan untuk mengamankan pembiayaan defisit APBN 2009 di tengah situasi krisis keuangan global. Sejumlah pinjaman siaga (standby loan) mulai diajukan Indonesia ke beberapa negara dan lembaga keuangan multilateral.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu mengatakan, di tengah krisis keuangan global yang terjadi sulit untuk membiayai defisit anggaran 2009 melalui penerbitan SUN karena pasar yang sulit.
"Oleh karena itu kita mengirim surat ke beberapa negara dan lembaga multilateral untuk standby loan. Kita tidak indikasikan angkanya karena sedang dihitung tapi mungkin lebih dari itu (US$ 5 miliar)," tuturnya ketika ditemui di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin malam (17/11/2008).
Anggito menjelaskan, pinjaman siaga ini sifatnya hanya "jaga-jaga" saja jika memang dibutuhkan untuk membiayai APBN.
"Inikan standby saja kalau memang kita bisa membiayai sendiri, keadaan membaik semester II-2009 maka kita pakai uang sendiri, kalau tidak baru kita tarik," jelasnya.
Dikatakannya, tujuan pemerintah menjajaki pinjaman siaga ini adalah untuk menjaga kepercayaan masyarakat atau investor bahwa pemerintah telah mengamankan pembiayaan anggaran 2009 meskipun sedang krisis.
"Jangan sampai orang takut kita tidak punya uang untuk biayai APBN. Standby loan itu kan back stop, fasilitas yang tidak kita tarik dulu, ditarik kalau kita butuh. Jadi uang ada, kondisi kita bagus, kasih dong. Tinggal yang kita bicarakan adalah berapa bunganya kalau kita tarik. Tariknya seluruhnya, sekaligus atau cicil, itu saja yang kita bicarakan dalam negosiasi. Kita akan umumkan ini kira-kira pada kuartal I-2009," urainya.
Pinjaman siaga ini sudah dijajaki pemerintah dengan Bank Dunia, Jepang, Inggris, AS, Perancis, dan Timur Tengah.
"Timur Tengah pakai sukuk. Untuk mulitlateral ADB dan Bank Dunia, tapi ADB kesulitan likuiditas namun dia tetap membiayai program-program yang sudah ada," imbuhnya.
Memang dalam pertemuan G20 di Brazil, ada klausul yang diajukan oleh Indonesia dan disepakati dalam pertemuan itu adalah mengenai pinjaman multilateral untuk pembiayaan APBN.
"Kita tahu 90% pembiayaan APBN dari obligasi negara, tahun depan kalau pemerintah tidak bisa jual bond karena pasar destruktif maka yang menyediakan pembiayaan ini adalah multilateral development banks seperti Bank Dunia," kata Anggito.
Jadi untuk memenuhi pembiayaan APBN Indonesia meminta dukungan dari lembaga multilateral seperti Bank Dunia selama terjadi distorsi terhadap pembiayaan dari pasar.
"Tapi pembiayaan ini diperuntukkan bagi negara-negara yang mempunyai track record kebijakan fiskal yang bagus, pinjaman bisa dicairkan dengan mudah tanpa syarat atau kondisionalitas," tambahnya.
Alasan beberapa negara berkembang termasuk Indonesia mengajukan klausul ini adalah karena kondisi situasi saat ini dimana terjadi krisis di AS, banyak dana-dana beralih ke obligasi negara AS.
"AS saat ini banyak menerbitkan T-Bills untuk membiayai defisitnya apalagi ada program bailout pemerintah, jadi ini menyebabkan capital outflow di negara berkembang. Di Indonesia juga terjadi penurunan SUN dan saham, jadi AS yang krisis kita jadi korban, karena itu kita meminta kemudahan ini," tuturnya.
(dnl/qom)
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu mengatakan, di tengah krisis keuangan global yang terjadi sulit untuk membiayai defisit anggaran 2009 melalui penerbitan SUN karena pasar yang sulit.
"Oleh karena itu kita mengirim surat ke beberapa negara dan lembaga multilateral untuk standby loan. Kita tidak indikasikan angkanya karena sedang dihitung tapi mungkin lebih dari itu (US$ 5 miliar)," tuturnya ketika ditemui di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin malam (17/11/2008).
Anggito menjelaskan, pinjaman siaga ini sifatnya hanya "jaga-jaga" saja jika memang dibutuhkan untuk membiayai APBN.
"Inikan standby saja kalau memang kita bisa membiayai sendiri, keadaan membaik semester II-2009 maka kita pakai uang sendiri, kalau tidak baru kita tarik," jelasnya.
Dikatakannya, tujuan pemerintah menjajaki pinjaman siaga ini adalah untuk menjaga kepercayaan masyarakat atau investor bahwa pemerintah telah mengamankan pembiayaan anggaran 2009 meskipun sedang krisis.
"Jangan sampai orang takut kita tidak punya uang untuk biayai APBN. Standby loan itu kan back stop, fasilitas yang tidak kita tarik dulu, ditarik kalau kita butuh. Jadi uang ada, kondisi kita bagus, kasih dong. Tinggal yang kita bicarakan adalah berapa bunganya kalau kita tarik. Tariknya seluruhnya, sekaligus atau cicil, itu saja yang kita bicarakan dalam negosiasi. Kita akan umumkan ini kira-kira pada kuartal I-2009," urainya.
Pinjaman siaga ini sudah dijajaki pemerintah dengan Bank Dunia, Jepang, Inggris, AS, Perancis, dan Timur Tengah.
"Timur Tengah pakai sukuk. Untuk mulitlateral ADB dan Bank Dunia, tapi ADB kesulitan likuiditas namun dia tetap membiayai program-program yang sudah ada," imbuhnya.
Memang dalam pertemuan G20 di Brazil, ada klausul yang diajukan oleh Indonesia dan disepakati dalam pertemuan itu adalah mengenai pinjaman multilateral untuk pembiayaan APBN.
"Kita tahu 90% pembiayaan APBN dari obligasi negara, tahun depan kalau pemerintah tidak bisa jual bond karena pasar destruktif maka yang menyediakan pembiayaan ini adalah multilateral development banks seperti Bank Dunia," kata Anggito.
Jadi untuk memenuhi pembiayaan APBN Indonesia meminta dukungan dari lembaga multilateral seperti Bank Dunia selama terjadi distorsi terhadap pembiayaan dari pasar.
"Tapi pembiayaan ini diperuntukkan bagi negara-negara yang mempunyai track record kebijakan fiskal yang bagus, pinjaman bisa dicairkan dengan mudah tanpa syarat atau kondisionalitas," tambahnya.
Alasan beberapa negara berkembang termasuk Indonesia mengajukan klausul ini adalah karena kondisi situasi saat ini dimana terjadi krisis di AS, banyak dana-dana beralih ke obligasi negara AS.
"AS saat ini banyak menerbitkan T-Bills untuk membiayai defisitnya apalagi ada program bailout pemerintah, jadi ini menyebabkan capital outflow di negara berkembang. Di Indonesia juga terjadi penurunan SUN dan saham, jadi AS yang krisis kita jadi korban, karena itu kita meminta kemudahan ini," tuturnya.
(dnl/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:54 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
34 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
