5.000 Karyawan Perusahaan Asuransi Terancam Kena PHK
Rabu, 26/11/2008 10:57 WIB
Ilustrasi (dok detikcom)
Jakarta - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mendesak Mahkamah Agung untuk membatalkan PP No 39 Tahun 2008 tentang penyelenggaraan usaha asuransi.
Jika tidak dibatalkan maka sekitar 64 perusahaan asuransi tutup dan ini berdampak pada pengurangan karyawan sekitar 5.000 orang.
Untuk meminta pembatalan PP itu, sekitar 100-an lebih karyawan perusahaan asuransi yang tergabung dalam AAUI mendatangi Gedung Mahkamah Agung di Jalan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (26/11/2008).
"Dalam PP itu, ditetapkan semua perusahaan asuransi umum, harus punya modal Rp 100 miliar dalam tempo 2 tahun. Padahal dari 92 perusahaan hanya 28 yang punya modal di atas Rp 100 miliar," ujar Syarifuddin Harahap, Ketua Tim Ad Hoc PP 39 AAUI kepada detikFinance di Gedung MA.
PP No 39 tahun 2008 mewajibkan semua perusahaan asuransi memiliki modal minimal Rp 40 miliar pada akhir 2008 dan Rp 100 miliar pada akhir 2010.
Perusahaan asuransi tersebut dalam kondisi seperti ini akan kesulitan untuk mencari modal sebesar Rp 100 miliar tersebut. Sehingga dalam 2 tahun penerapan PP, maka perusahaan asuransi terancam tutup dan kalau tutup 5.000 karyawan terancam dirumahkan.
"Pemerintah pikir gampang sekali cari modal, itu tidak mungkin, karena suku bunga tinggi, dividen belum tentu bisa menyaingi suku bunga," ujarnya.
Dia menyayangkan pemerintah yang mencontoh kebijakan di luar negeri seperti Malaysia yang menerapkan kebijakan modal asuransi yang terlalu tinggi.
"Pemerintah mencontoh Malaysia yang 3 tahun lalu, memaksakan perusahaan asuransi memiliki modal Rp 250 miliar, tapi di sana tingkat pendapatan masyarakat sudah tinggi, gairah asuransi sudah hebat, sehingga perusahaan asuransi menguntungkan, banyak diantaranya yang mampu mengundang investor karena deposito di sana bunganya rendah 2-3 persen, sedangkan di asuransi lebih tinggi, jadi lebih banyak yang investasi ke situ," ujarnya.
Dampaknya sudah terasa sejak 6 bulan lalu, banyak perusahaan asuransi yang sudah terkena dampak dari PP.
"Mereka pikir kalau tidak punya modal Rp 100 miliar, izin dicabut jadi mereka tidak mau memperpanjang polis asuransi karena takut tidak diperpanjang izin usahanya," ujarnya.
Aksi ini akan dilanjutkan Kamis besok ke DPR. "Demo ini tidak akan berhenti sampai PP itu dibatalkan," ujarnya.
(ddn/ir)
Jika tidak dibatalkan maka sekitar 64 perusahaan asuransi tutup dan ini berdampak pada pengurangan karyawan sekitar 5.000 orang.
Untuk meminta pembatalan PP itu, sekitar 100-an lebih karyawan perusahaan asuransi yang tergabung dalam AAUI mendatangi Gedung Mahkamah Agung di Jalan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (26/11/2008).
"Dalam PP itu, ditetapkan semua perusahaan asuransi umum, harus punya modal Rp 100 miliar dalam tempo 2 tahun. Padahal dari 92 perusahaan hanya 28 yang punya modal di atas Rp 100 miliar," ujar Syarifuddin Harahap, Ketua Tim Ad Hoc PP 39 AAUI kepada detikFinance di Gedung MA.
PP No 39 tahun 2008 mewajibkan semua perusahaan asuransi memiliki modal minimal Rp 40 miliar pada akhir 2008 dan Rp 100 miliar pada akhir 2010.
Perusahaan asuransi tersebut dalam kondisi seperti ini akan kesulitan untuk mencari modal sebesar Rp 100 miliar tersebut. Sehingga dalam 2 tahun penerapan PP, maka perusahaan asuransi terancam tutup dan kalau tutup 5.000 karyawan terancam dirumahkan.
"Pemerintah pikir gampang sekali cari modal, itu tidak mungkin, karena suku bunga tinggi, dividen belum tentu bisa menyaingi suku bunga," ujarnya.
Dia menyayangkan pemerintah yang mencontoh kebijakan di luar negeri seperti Malaysia yang menerapkan kebijakan modal asuransi yang terlalu tinggi.
"Pemerintah mencontoh Malaysia yang 3 tahun lalu, memaksakan perusahaan asuransi memiliki modal Rp 250 miliar, tapi di sana tingkat pendapatan masyarakat sudah tinggi, gairah asuransi sudah hebat, sehingga perusahaan asuransi menguntungkan, banyak diantaranya yang mampu mengundang investor karena deposito di sana bunganya rendah 2-3 persen, sedangkan di asuransi lebih tinggi, jadi lebih banyak yang investasi ke situ," ujarnya.
Dampaknya sudah terasa sejak 6 bulan lalu, banyak perusahaan asuransi yang sudah terkena dampak dari PP.
"Mereka pikir kalau tidak punya modal Rp 100 miliar, izin dicabut jadi mereka tidak mau memperpanjang polis asuransi karena takut tidak diperpanjang izin usahanya," ujarnya.
Aksi ini akan dilanjutkan Kamis besok ke DPR. "Demo ini tidak akan berhenti sampai PP itu dibatalkan," ujarnya.
(ddn/ir)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:54 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
34 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
