Investasi Listrik Butuh US$ 83 Miliar Hingga 2018
Kamis, 27/11/2008 11:43 WIB
Foto: dok detikFinance
Jakarta - Indonesia membutuhkan dana sebesar US$ 83,7 miliar untuk menyediakan investasi instalasi ketenagalistrikan nasional hingga 2018. Dana ini diperlukan untuk investasi yang dilakukan PLN dan proyek listrik swasta.
Demikian disampaikan Dirut PLN Fahmi Mochtar dalam diskusi pendanaan kelistrikan di Kantor Pusat PLN, Jalan Trunojoyo, Jakarta (27/11/2008).
Secara detail, kebutuhan dana investasi tersebut terbagi menjadi US$ 56,9 miliar untuk pembangkitan, US$ 14,4 miliar untuk transmisi dan US$ 12,4 miliar untuk distribusi.
Fahmi mengaku mencari dana sebanyak itu tidaklah mudah, terutama di tengah badai krisis finansial global seperti sekarang. Saat ini, untuk mencari pendanaan terutama dari dunia perbankan syaratnya sangat sulit.
"Terutama karena faktor bank yang mensyaratkan zero risk. Alokasi risiko, cenderung mereka arahkan kepada pihak yang paling mampu memitigasinya," katanya.
Selain itu faktor country risk Indonesia juga masih relatif tinggi, sehingga para lender cenderung meminta dukungan ataupun jaminan dari pemerintah untuk meminimalisir risiko.
"Oleh karena itu, diperlukan kesiapan dari pengembang untuk meyakinkan pihak lender mengenai kemampuannya," lanjutnya.
Total pembangkitan PLN yang ada sekarang adalah 25.222 MW. Hingga 2018, Indonesia membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 57.442 MW. Total kapasitas pembangkit ini terdiri dari 22.168 MW dari proyek listrik swasta dan 35.274 MW dari PLN.
Selain itu, rasio elektrofikasi Indonesai saat ini sebesar 60,78%, rata-rata pertumbuhan penjualan energi per tahun sebesar 6,8% sejak 2002-2007.
"Padahal penambahan kapasitas pembangkit dan budget hanya untuk pertumbuhan penjualan listrik sebesar 1,9%," katanya.
Rata-rata harga penjualan listrik adalah Rp 630/kwh dengan biaya produksi sebesar Rp 1.317/kwh dimana Rp 885/kwh diantaranya adalah biaya bahan bakar.
(lih/ddn)
Demikian disampaikan Dirut PLN Fahmi Mochtar dalam diskusi pendanaan kelistrikan di Kantor Pusat PLN, Jalan Trunojoyo, Jakarta (27/11/2008).
Secara detail, kebutuhan dana investasi tersebut terbagi menjadi US$ 56,9 miliar untuk pembangkitan, US$ 14,4 miliar untuk transmisi dan US$ 12,4 miliar untuk distribusi.
Fahmi mengaku mencari dana sebanyak itu tidaklah mudah, terutama di tengah badai krisis finansial global seperti sekarang. Saat ini, untuk mencari pendanaan terutama dari dunia perbankan syaratnya sangat sulit.
"Terutama karena faktor bank yang mensyaratkan zero risk. Alokasi risiko, cenderung mereka arahkan kepada pihak yang paling mampu memitigasinya," katanya.
Selain itu faktor country risk Indonesia juga masih relatif tinggi, sehingga para lender cenderung meminta dukungan ataupun jaminan dari pemerintah untuk meminimalisir risiko.
"Oleh karena itu, diperlukan kesiapan dari pengembang untuk meyakinkan pihak lender mengenai kemampuannya," lanjutnya.
Total pembangkitan PLN yang ada sekarang adalah 25.222 MW. Hingga 2018, Indonesia membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 57.442 MW. Total kapasitas pembangkit ini terdiri dari 22.168 MW dari proyek listrik swasta dan 35.274 MW dari PLN.
Selain itu, rasio elektrofikasi Indonesai saat ini sebesar 60,78%, rata-rata pertumbuhan penjualan energi per tahun sebesar 6,8% sejak 2002-2007.
"Padahal penambahan kapasitas pembangkit dan budget hanya untuk pertumbuhan penjualan listrik sebesar 1,9%," katanya.
Rata-rata harga penjualan listrik adalah Rp 630/kwh dengan biaya produksi sebesar Rp 1.317/kwh dimana Rp 885/kwh diantaranya adalah biaya bahan bakar.
(lih/ddn)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:54 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
34 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
