Menneg BUMN: Tak Ada BUMN Tersangkut Produk Spekulatif
Kamis, 04/12/2008 21:14 WIB
Sofyan Djalil (foto: dok detikcom)
Jakarta - Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan Djalil membantah kabar 4 BUMN yang terlibat dalam produk perbankan yang bersifat spekulatif.
"Itu tidak benar, enggak ada sama sekali itu BUMN terlibat spekulasi. Kita enggak tahu sumber beritanya darimana," katanya di Kantor Kementerian BUMN, Gedung Garuda,
Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (4/12/2008).
Sofyan berani berkata begitu setelah melakukan konfirmasi terhadap 4 BUMN yang bersangkutan, siang tadi. BUMN tersebut antara lain PT Krakatau Steel, PT Aneka Tambang Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan PT Elnusa anak usaha PT Pertamina. PGN sendiri sudah mengirim rilis tak punya produk spekulatif.
Dari pantauan detikFinance, dua BUMN sudah menghadap untuk melapor langsung kepada Menneg BUMN. Direktur Utama PGN Hendi Priyo Santoso datang paling awal sekitar pukul 14.00.
Sedangkan Direktur Utama Krakatau Steel Fazwar Bujang, sudah bertemu Sofyan sekitar pukul 15.30. Namun direksi dari Antam dan Elnusa tidak terlihat batang hidungnya sampai pertemuan berakhir.
Setelah berdiskusi bersama perusahaan plat merah tersebut, Sofyan berani mengambil kesimpulan bahwa tidak ada bukti-bukti yang menyatakan keterlibatan BUMN tersebut
melakukan kontrak produk spekulatif.
"Bukti-buktinya tidak ada, masa mereka mau bohong sama saya. Saya akan cari sumber isunya," tegasnya.
Per tanggal 1 Desember, BI mulai memberlakukan larangan pembelian dolar untuk produk-produk spekulatif seperti dual currency deposit dan callable forward. Tujuan dari larangan tersebut adalah menjaga rupiah tidak fluktuatif.
Masalah sejumlah BUMN tersangkut produk spekulatif perbankan itu sebelumnya diungkapkan oleh anggota Komisi XI DPR RI Dradjad H Wibowo dalam kesempatan rapat kerja dengan menteri keuangan, Selasa (2/12/2008) lalu.
Menurut Dradjad, Empat bank disinyalir menawarkan produk dual currency yang sifatnya spekulatif. Produk-produk ini diperkirakan memiliki potensi transaksi mencapai US$ 3 miliar yang berpengaruh terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.Padahal produk-produk tersebut sudah dilarang beredar oleh Bank Indonesia.
(ang/qom)
"Itu tidak benar, enggak ada sama sekali itu BUMN terlibat spekulasi. Kita enggak tahu sumber beritanya darimana," katanya di Kantor Kementerian BUMN, Gedung Garuda,
Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (4/12/2008).
Sofyan berani berkata begitu setelah melakukan konfirmasi terhadap 4 BUMN yang bersangkutan, siang tadi. BUMN tersebut antara lain PT Krakatau Steel, PT Aneka Tambang Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan PT Elnusa anak usaha PT Pertamina. PGN sendiri sudah mengirim rilis tak punya produk spekulatif.
Dari pantauan detikFinance, dua BUMN sudah menghadap untuk melapor langsung kepada Menneg BUMN. Direktur Utama PGN Hendi Priyo Santoso datang paling awal sekitar pukul 14.00.
Sedangkan Direktur Utama Krakatau Steel Fazwar Bujang, sudah bertemu Sofyan sekitar pukul 15.30. Namun direksi dari Antam dan Elnusa tidak terlihat batang hidungnya sampai pertemuan berakhir.
Setelah berdiskusi bersama perusahaan plat merah tersebut, Sofyan berani mengambil kesimpulan bahwa tidak ada bukti-bukti yang menyatakan keterlibatan BUMN tersebut
melakukan kontrak produk spekulatif.
"Bukti-buktinya tidak ada, masa mereka mau bohong sama saya. Saya akan cari sumber isunya," tegasnya.
Per tanggal 1 Desember, BI mulai memberlakukan larangan pembelian dolar untuk produk-produk spekulatif seperti dual currency deposit dan callable forward. Tujuan dari larangan tersebut adalah menjaga rupiah tidak fluktuatif.
Masalah sejumlah BUMN tersangkut produk spekulatif perbankan itu sebelumnya diungkapkan oleh anggota Komisi XI DPR RI Dradjad H Wibowo dalam kesempatan rapat kerja dengan menteri keuangan, Selasa (2/12/2008) lalu.
Menurut Dradjad, Empat bank disinyalir menawarkan produk dual currency yang sifatnya spekulatif. Produk-produk ini diperkirakan memiliki potensi transaksi mencapai US$ 3 miliar yang berpengaruh terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.Padahal produk-produk tersebut sudah dilarang beredar oleh Bank Indonesia.
(ang/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:54 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
34 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
