Realisasi Kredit Jalan Tol Sangat Minim
Rabu, 31/12/2008 11:02 WIB
Tol Becakayu yang Terlantar (dok detikcom)
Jakarta - Realisasi pencairan kredit untuk pembangunan jalan tol masih sangat minim. Salah satu penyebab rendahnya pencairan pinjaman jalan tol antara lain disebabkan karena proyeknya terganjal masalah lahan.
Direktur Bisnis Umum BRI, Sudaryanto Sudargo mengatakan, hingga saat ini kredit yang belum dicairkan atau undisbursed loan masih cukup besar karena memang kebanyakan dari investasi-investasi jangka panjang dan besar.
"Sudah kita putuskan, tapi belum direalisir karena jangka panjang, 2 sampai 3 tahun," ujarnya saat ditemui di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (30/12/2008).
Di antara kredit besar yang belum dicairkan, menurut Sudaryanto paling banyak untuk pembangunan jalan tol. "Itu sudah Rp 4 triliun lebih, tapi realisasinya kecil sekali," ungkapnya.
Beberapa realisasi kredit korporasi besar lain yang juga minim realisasinya adalah untuk kredit perkebunan dan juga pembangkit listrik.
"Kalau perkebunan memang ada, tapi porsinya seimbang, nanti tiap tahun mengecil. Power plant begitu juga. Juga ada pabril gula yang penyerapannya masih belum banyak. Tapi kita harapkan kalau pemerintah menggerakkan infrastruktur seperti power plant dll, itu nanti bisa terserap juga," tambahnya.
BRI Masih Pertahankan Porsi Dana Murah
BRI akan tetap mempertahankan porsi dana-dana murahnya hingga di atas 50 persen di tahun 2009. Meskipun diakui bahwa persaingan untuk dana-dana murah ini sangat ketat.
"Paling tidak kita pertahankan 60 persen, memang agak sulit tapi tetap di atas 50 persen," katanya.
Sudaryanto menegaskan bahwa untuk tabungan dan giro memang akan terjadi persaingan ketat. Untuk mempertahankan posisinya, BRI akan terus menjaga jaringan-jaringan gironya termasuk dengan pengusaha-pengusaha kecil yang mendapat kucuran dana APBN.
"Itu kita pegang, itu kan nggak langsung mengalir habis. Tahun depan kita masih pegang treasury single account. Jadi kalau APBN itu akan dikucurkan untuk infrastruktur, toll road, power plant, dan sebagainya. Itu nanti kan masuknya melalui kita. Sebab kita pegang dana, nanti kita bisa biayai kontraktor-kontraktornya. Jadi masih ada lewat-lewat, ngendap-ngendap dikit lah, sehari dua hari, itu giro yang murah-murah," urainya.
(qom/lih)
Direktur Bisnis Umum BRI, Sudaryanto Sudargo mengatakan, hingga saat ini kredit yang belum dicairkan atau undisbursed loan masih cukup besar karena memang kebanyakan dari investasi-investasi jangka panjang dan besar.
"Sudah kita putuskan, tapi belum direalisir karena jangka panjang, 2 sampai 3 tahun," ujarnya saat ditemui di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (30/12/2008).
Di antara kredit besar yang belum dicairkan, menurut Sudaryanto paling banyak untuk pembangunan jalan tol. "Itu sudah Rp 4 triliun lebih, tapi realisasinya kecil sekali," ungkapnya.
Beberapa realisasi kredit korporasi besar lain yang juga minim realisasinya adalah untuk kredit perkebunan dan juga pembangkit listrik.
"Kalau perkebunan memang ada, tapi porsinya seimbang, nanti tiap tahun mengecil. Power plant begitu juga. Juga ada pabril gula yang penyerapannya masih belum banyak. Tapi kita harapkan kalau pemerintah menggerakkan infrastruktur seperti power plant dll, itu nanti bisa terserap juga," tambahnya.
BRI Masih Pertahankan Porsi Dana Murah
BRI akan tetap mempertahankan porsi dana-dana murahnya hingga di atas 50 persen di tahun 2009. Meskipun diakui bahwa persaingan untuk dana-dana murah ini sangat ketat.
"Paling tidak kita pertahankan 60 persen, memang agak sulit tapi tetap di atas 50 persen," katanya.
Sudaryanto menegaskan bahwa untuk tabungan dan giro memang akan terjadi persaingan ketat. Untuk mempertahankan posisinya, BRI akan terus menjaga jaringan-jaringan gironya termasuk dengan pengusaha-pengusaha kecil yang mendapat kucuran dana APBN.
"Itu kita pegang, itu kan nggak langsung mengalir habis. Tahun depan kita masih pegang treasury single account. Jadi kalau APBN itu akan dikucurkan untuk infrastruktur, toll road, power plant, dan sebagainya. Itu nanti kan masuknya melalui kita. Sebab kita pegang dana, nanti kita bisa biayai kontraktor-kontraktornya. Jadi masih ada lewat-lewat, ngendap-ngendap dikit lah, sehari dua hari, itu giro yang murah-murah," urainya.
(qom/lih)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:54 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
34 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
